Posted by: Black_Claw | August 20, 2012

Orang Bali Bunuh Belanda

“Letnan Dayan…! Kita bertemu lagi bung…”
“Nnnnass klengg cai, errr..rrrarrrghh!!!”

Apa yang terjadi jika film Pasukan Berani Mati dicampur dengan Pasir Berbisik kemudian dihidangkan sembari ditemani The Raid?

“Godverdomme! het doet pijn, anyingg!”

Okelah memang bintang utamanya bukan Letnan Dayan, bukan si Pisau Sunyi, bukan Teuku Rifnu Wikana, tapi memang itu letnan berlogat Bali FTW, dan kalau anda merasa saya salah, liatlah sekali lagi gambar di atas. Adegan saat gambar tersebut sangat epic sekali. Barry Prima aja lewaaaat~:mrgreen:

Tontonlah Merah Putih 02 – Darah Garuda. Film kedua dari trilogi Merdeka keluaran tahun 2010 ini. Yoi, libur panjang Hut RI+lebaran ini, saya menghabiskan waktu dengan menontonnya berulang-ulang. Fuck mudik, fuck petasan, fuck konvoi kendaraan. Tentunya setelah nonton iklannya yang bakal tayang di SCTV, dan ga sempat ngikutin di stasiun TV swasta tersebut berujung nyari di yutub karena sibuk molor mempersiapkan perayaan 17 Agustus.

Saya heran, apa yang membuat sebuah film sebagus ini tidak membuatnya booming di Indonesia. Film ini keren. Lebih keren dan indah secara sinematografi dan aksi ditambah sontreknya yang mantap ketimbang dua film trilogi Merdeka lainnya, Merah Putih dan Hati Merdeka. Yang pertama eksyennya bangke, yang ketiga ceritanya shitnetron. Oh, dan perlu saya tekankan, suara suling di 38:00-38:50 itu sangat indah sekali, membuat pria sejati bisa meneteskan air mata…

*Brb nge-ffmpeg buat motong terus ngonvert*
*back*

Oke, sampe mana tadi?
Ah, ya…

Serius, film pertama dari trilogi Merdeka, Merah Putih, bikin saya nguap saking boringnya. Mana sudut pengambilan gambarnya membuat saya nonton film kelas FTV lagi. Dan film ketiganya, Hati Merdeka? WTF, ini cerita shitnetron dibawa-bawa ke layar lebar, plot hole terlalu gede, maksa lagi. Satu-satunya yang membuat saya terhibur, bisa ngakak, hanyalah di bagian ini:

Jadi, kalau anda nonton trilogi Merdeka, tontonlah bagian pertamanya sambil lalu, biar tau awal lah, sepotong-sepotong juga gak masalah. Gak nonton juga no problem, anda tetap bisa terhibur dengan bagian keduanya. Yang penting, jauh-jauh aja sama bagian ketiga. Nonton rugi, kecewa berat. Seharusnya memang berakhir saja film itu di film kedua, Darah Garuda.

Akhir kata, semoga trilogi ini bisa selalu diputar setiap ta… Eh, gak jadi ding, yang penting Darah Garuda aja dah. Sekaligus, dalam postingan kali ini, saya sekaligus mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia, dan selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin.🙂


Responses

  1. …dan saya menunggu reviewnya Darah Garuda dari awal paragraf…ngga ketemu *scroll2*

    Like

    • Jangan, itu spoiler. Ntar ditusuk sama letnan Dayan.

      Like

  2. […] Still  from here. Subtitle reads: “Godverdomme! Het doet pijn, […]

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: