Posted by: Black_Claw | March 8, 2013

Fujica M-1, Toy Camera Indonesia

Anda tau kamera Fujica M-1?

fujica m-1 15.000

Ah, mungkin anda kurang familiar sama yang itu.
Anda tau kamera warna hitam merah yang bintang iklannya Maya Rumantir itu?

Maya Rumantir iklan fuji m-1

Hah? Anda masih nggak tau? Anda lahir tahun berapa sih?
Eh, atau saya yang kebanyakan bergaul sama oom-oom ya…
Skiplah, pokoknya demikianlah Maya Rumantir yang dulu Idol abis itu ngiklanin Fujica M-1 samalah kayak billboard Pokari Sweat yang ada dimana-mana sekarang. Harganya dari 15.000 saja naik jadi 25.000. Oh, dan sebagai info, harga listrik perbulan average buat rumah tangga sebulan tahun 90an sebelum krisis ekonomi adalah 2000 rupiah dan cukup untuk membuat anak usia awal-awal SD lari dari rumah karena menghilangkan duit segitu saat disuruh ibunya bayar listrik.

Btw, ini foto idol kita sekarang.

Maya Rumatir Sekarang Sama Lakinye

Ntarlah kalau Aki Takajo udah tua saya bakal bikin tulisan yang sama supaya elu-elu wota dan vvota patah hati muahahahahahaha~

Ketimbang terus membicarakan Maya Rumantir, saya mau menceritakan sedikit tentang Toy Camera buatan asli Indonesia ini. Jeroan Fujica M-1 ini raja kalau di pasar Metro Atom, Pasar Baru, Jakarta pusat. Bukan langka. Banyak!
Tapi, kalau kamu lagi nongkrong duduk-duduk sama oom Aul, di sana, bakal mengalirlah pembicaraan engkong-engkong teman-temannya oom Aul tentang kamera yang satu ini, karena tentu, sejarahnya sangat berkaitan sama pasar Baru yang jadi pusatnya kamera di Jakarta.

Alkisah, adalah Ho Tjek, seorang totok kelahiran tahun 1922 di Singapura berdarah Kanton (Kantoon, errr… Stephen Chow? Does that ring a bell?) yang kemudian tinggal dan nikah di Makassar, suka banget sama yang namanya fotografi. Dia buka studio foto dan cuci cetak di sana. Pada tahun 1965, Ho Tjek, yang nama Indonesianya Otje Honoris, mendirikan Modern Group bersama anaknya, Hoe Sioe Koen, Samadikun Hartono yang saat itu baru tamat SMA. Yang kemudian memiliki anak perusahaan bernama PT. Modern Photo Film, yang saat itu berlokasi di Jl. Raya Bekasi, Km 25, Jakarta.

Jangan tanya bagaimana mereka nyampe Jakarta dari Makassar. Kayaknya mereka naik rakit, terus mendarat di Muara Angke. Alasannya tentu, supaya epic!

Oh, dan ikan di Angke murah btw.😛

Kembali ke cerita, bapak-anak ini, lewat perusahaannya itu akhirnya berhasil mendapatkan hak distribusi penuh terhadap produk Fuji Film milik Dai Nippon pada tahun 1971. Itu berarti, toko sekaligus bengkel itu punya hak buat ngemanufaktur segala jeroannya Fuji. Di Indonesia tentu. Dan dibombardirlah produk-produk itu untuk mengalahkan dominasi Kodak pada waktu itu, ke kios kecil mereka di sebuah daerah pengulakan baju, kelontong, dan sayur-mayur bernama Pasar Baru.

Tentang Fujica M-1, entah bagaimana caranya, bapak-anak itu berhasil membujuk Dai Nippon untuk memasarkan produk buatan Indonesia tersebut. Yang mana dengan “mencuri” teknologi Dai Nippon, dengan desain hasil kreasi mereka sendiri. Mirip dengan kisah Honda Win100.

Fujica M-1 jebolan pabrik PT. Honoris Industri di tahun 1982, dengan lensa berlabel Fujinon 42mm tiga elemen tapi optiknya plastik (Indon Banget:mrgreen: ) itu berhasil go international, dengan nama Fujica MA-1, dan booming di paris. Tidak lupa, karena nama Indonesia nggak menjual dan lisensi Fuji Film ntar sia-sia, dilabeli dong lensanya pake Made in Japan. Hal ini terjadi setelah Fuji merebut 70% pasaran film di Indonesia, melibas Kodakchrome yang cuma bisa dipake sama orang kaya.

Akhirnya Pada 1984, ekspor kamera ini mencapai 140 ribu unit. Setahun kemudian, pabrik yang merupakan satu dari sepuluh perusahaan Modern Group ini mengeluarkan produk baru: Fuji DL-10 yang sama-sama toy camera. Penjualan Modern Group meningkat hingga 500 ribu unit kamera ke 22 negara, termasuk Jepang, Dai Nippon, Tennoheika Banzai, Saudara Tua, JKT48, apalah sebutanmu.

Ah, anda tidak tahu Toy Camera? Bentar.
Lomo? Lomography? “Jangan mikir bidik aja“?
Sip.

Kemudian begitulah, Otje Honoris meninggal. Usaha keluarga diteruskan oleh Samadikun Hartono, dan bersama ketiga saudaranya, Luntungan Honoris, Sungkono Honoris, and Siwi Honoris, membentuk PT Inti Putra Modern, induk segala perusahaan Honoris. PT. Modern Photo, bisnis fotografi, PT Modernland, bisnis property, Modern Bank yang tentu saja, bank. Tiga dari 35 perusahaan Modern.

Dan datanglah krisis ekonomi tahun 1997 itu. PT Bank Modern kena likuidasi dan merembet sampai ke perusahaan-perusahaan yang lain. Samadikun Terdakwa. Kasus belibet hingga awal 2000an. Pada tahun 2002, putra Samadikun Hartono, Eric Hartono tewas dalam tragedi menara kembar WTC di Amerika Serikat. Menghadapi semua itu, akhirnya Samadikun Hartono akhirnya melarikan diri ke luar negri, dan menjadi buronan interpol.

Tapi bangke, setengah hidup, masih hidup, atau malah kadang-kadang satu set lengkap dengan Flash dari Fujica M-1 ini masih rada sering keliaran kok, di pasar Metro Atom, Pasar Baru. Win100nya kamera, kalau saya bilang.🙂


Responses

  1. udah pernah lihat film bang bang club ?

    Like

    • Belum. Tapi kalau itu film tentang bunuh diri gegara Pulitzer, baca artikelnya lebih seru.😀

      Like

      • gak bunuh diri itu, cuman niat aja

        Like

      • Berarti ga seru.

        Like

  2. Toy Camera hah! Ntar Om posting foto kamera antik yg ada di tempat om.

    Like

    • Anjrit, om ini apa sih yang ga dikoleksi? =))

      Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: