Posted by: Black_Claw | September 18, 2013

Si Bro Dari Sabang

Apa yang bisa kamu dapatkan dari titik nol kilometer paling ujung barat Indonesia? Kebanggaan? Pemandangan matahari terbenam di batas akhir Indonesia? Orang Lamno yang bermata biru? Lima ribuan kilometer perjalanan dari Dompu tanpa ada foto yang spesial? Sahabat. Saya menemukannya.

Mengunjungi pulau Weh, tempat kota Sabang berada, kota terakhir di ujung luar pulau Sumatera, bersama Anjar Hardiena dan istrinya ditemani Fadhil dari GAM KPLI Aceh, tentunya menyenangkan, jika seandainya kamu tidak lupa bahwa yang bersamamu adalah orang Jakarta yang digembok sama waktu dan jadwal dan batre kamera yang kamu pinjam itu sudah tua dan ngedrop. Berangkat siang, buru-buru ke titik nol tugu, minum I U, mereka mencari penginapan, dan saya nunggu di lokasi kejadian. “Ntar kita balik lagi, liat sunset di sini.” Katanya, maka siapa yang tidak mengiyakan?

Yoa, saya juga. Saya mengiyakan. Dan pasangan muda-mudi tua bersama anggota GAM KPLI Aceh itu akan meninggalkanmu sendirian di daerah tanpa listrik, tanpa orang, penuh nyamuk, dan dihantam langsung angin laut. Oh, tenang, jika kamu seperti saya, itu semua masalah kecil. Piece of cake kata orang bule. Yang jadi masalah tentunya hanya batre yang ngedrop. Jadi, untuk motret, saya harus minjem smartphone mereka.

Tau kenapa? Karena kamu nggak bisa ngambil foto. Kamu harus memakan sendiri omonganmu yang “Laki-laki sejati memotret dengan mata, dengan hati sebagai albumnya.” Seperti saya.

Kadang, saya menyesal mengeluarkan kalimat yang terlalu laki-laki sejati.

Begitulah, Sore makin menjelang magrib kawanpun tak datang, orang-orang mulai beres dagangan, saya mencoba tetap percaya, bahwa mereka akan tiba pada waktunya. Maka saya mengisi waktu dengan ngobrol sama ibu-ibu yang jualan di sana, sambil bantu beresin dagangannya.

Tengah beres-beres sambil ngobrol, muncullah sekelebat bayangan hitam kelam seukuran kambing dari arah selatan. Bentuknya silindris rapi, tanpa ekor. Menilik pengalaman hidup di Dompu, yang melintas di ingatan hanya satu. Babi hutan. Dan menyadari bahwa sebentar lagi saya akan sendirian di kegelapan malam tugu nol kilometer pulau Weh ditemani api unggun nantinya dengan duit , hanya satu di pikiran saya.

MAKAN MALAM!

Hunting instinct yang diwariskan turun temurun di ras saya sejak jaman berburu dan meramu puluhan ribu tahun silam disiagakan. Kuda-kuda siap menerima karunia dari langit. Di Dompu, jika kamu bertemu babi hutan, masing-masing kubu sudah tahu sama tahu. “Antara kamu atau saya yang hilang nyawa”. Tanya saja sama si Ukang, yang jagal babi di kebunnya. Ancang-ancang, saya sigap melesat menangkap buruan, dan ibu pedagang itu tiba-tiba memanggil calon mangsa saya itu, “Hei Bro~♥”

Hah? Celeng ini dipanggil sama ibu itu, wait, Celeng? Babi Hutan? Hewan liar pembunuh orang random yang lewat di jalan kalau di Dompu? Dan punya nama? Ibu ini kesambet demit laut ya?

“Si Bro ini beda dari babi yang lain. Kalau Si Bro sudah jinak, ga takut sama manusia. Jadi nggak perlu takut, nggak nyerang kok.” Ucapnya sambil memberi makan Celeng itu dengan sisa-sisa dagangannya, kelapa muda dan nasi campur. Si Bro memakannya dengan lahap, dengan segera.

Tiba-tiba Si Bro mengangkat kepalanya dan menatap saya. Pandangan kami bertemu. Cukup lama, sampai dia mengeluarkan suara, “Grok… Grokkk…” Sepertinya ada sesuatu yang ingin dikatakan Si Bro pada saya, dan sayapun berusaha menyimak dengan seksama.

Sayangnya bahasa babi Si Bro berlogat Aceh kental, jadi saya nggak ngerti.

Tapi, dari pengalaman saya, tatapan mata Babi Hutan Aceh ini sudah cukup untuk mengirimkan pesan sejuta makna ke hati saya. Tanpa masalah bahasa yang terhalang logat. Maka, saya belilah kerupuk secengan dagangan si Ibu, dan nyuapin Si Bro langsung dari tangan saya. Yang akhirnya ditiru sama bule-bule berlogat Inggris kental yang kebetulan ikutan nongkrong. Sesorean saya main-main dengan Si Bro. Anjar CS tak kunjung nongol batang pantatnya, apalagi anunya.

Matahari terbenam, kemerahan di Cakrawala. Tanpa kamera, tanpa batre, hanya saya ditemani Si Bro melihat Sunset paling ujung barat nusantara ini.

“Bro, maaf, kita berdua nggak bisa foto bareng. Tapi nanti kalau seandainya kita ketemu lagi di Medan, saya traktir kamu makanan yang paling terkenal di sana. Kalau nggak salah, namanya BPK…”


Responses

  1. Reblogged this on Perjalanan Tuan Pembual Kepulau Ketiga and commented:
    Cerita Kakak Blek dari Ujung Barat Indonesia

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: