Posted by: Black_Claw | December 14, 2013

Jangan Lupakan Saya Kalo Langit Masih Biru

Dari pihak ibu, keluarga saya punya semacam tradisi membesarkan anak anggota keluarga yang lain. Bukan mengangkatnya sebagai anak, tetapi merawatnya hingga besar, atau mendukung biaya sekolahnya. Semisal ibu saya, yang membesarkannya adalah tantenya sendiri, saudara ibunya yang merupakan nenek saya. Ibu saya, juga membesarkan “anak orang”, semisal sepupunya sendiri.

Kakek dan nenek saya, baik dari ayah maupun ibu, seperti banyak kakek dan nenek anda yang pernah mengalami zaman penjajahan, adalah pejuang. Saya sendiri, dibesarkan oleh nenek dan kakek saya dari pihak ibu. Mungkin karena saat saya lahir, kakek saya dari pihak ayah sudah meninggal, dan nenek dari pihak ayah sudah terlalu sepuh untuk mengasuh saya. Nenek saya dari pihak ayah meninggal saat saya masih kecil.

Nenek yang membesarkan saya, adalah anggota Kowad. Korps Wanita Angkatan Darat. Kontras dengan suaminya, kakek saya, yang pejuang gerilya. Waktu saya kecil, ia selalu memamerkan foto-fotonya yang berseragam di samping tank, memanggul senjata laras panjang, pistol senbu, granat nenas, dan senjata-senjata rampasan perang dunia lainnya. Saat saya menanyakan adakah foto kakek saya, maka ia akan mengatakan “pasukan bambu runcing itu nggak punya duit lebih buat gaji tim dokumentasi.” maka kamipun tertawa.

Sosoknya yang laki-laki sejati banget itulah yang membuat saya dan kawan saya, Brian Tanpati, mengeluarkan teori ngaco bahwa kemungkinan nenek saya adalah seorang Highlander. Bisa jadi, walaupun tubuh beliau sudah lumpuh sebelah karena stroke, itu semata-mata hanyalah penyamaran untuk menikmati hari tua. Malam-malam saat semua tidur, tidak ada yang tahu kalau nenek saya keluar rumah dan ‘jalan-jalan’, bukan? After all, “there can be only one! Aaaarrhhhhhh…!”

Akan tetapi, kewanita-sejatian beliau tentu tidak perlu diragukan. Sudah dua belas anak ia lahirkan. Cukup ragukan pandangan kakek saya tentang kontrasepsi.

Dibesarkan oleh orang-orang jebolan perang dunia waktu kecil, mungkin membuat saya lebih nyambung ngomong sama orang-orang yang berumur om-om. Mereka berdua yang membuat saya rada ngeh sama bahasa Jepang. Mungkin seharusnya Belanda juga, tapi di telinga saya waktu kecil, lebih mudah membedakan kata-kata Nippon ketimbang Londo. Bunyi matahari terbit lebih tegas dibanding kumpulan sengau dan samar yang dihasilkan kincir angin.

Suaranya saja, ya. Di atas kertas, keduanya sama-sama bikin pusing.

Rutinitas saya sedari kecil, berkisar pada kakek saya yang memarahi saya, yang terlambat bangun tidur, dengan mode blingual. Dimulai dengan “Oi kodomo, kimi! Bakayaro genki nai!” dan dilanjutkan dengan “Glfsh brshhh glibzzz hrstzzzz gyttzzz!” yang oleh bapak saya dikatakan bahasa Belanda tapi entah kenapa saya tidak mengerti.

Nenek saya biasa dipanggil dengan nama Bau. Sudah tidak terhitung keluarga atau kenalan nenek saya waktu kecil yang saya marahi dengan “Nenek saya nggak bau! Enak aja! Panggil nenek atau oma saja napa?!”
Dan nenek saya akan tertawa mendengarnya sementara kakek saya akan memarahi saya dengan bahasa blingualnya karena tidak sopan terhadap tamu.

Dan sorenya, nenek akan mengajarkan saya menyanyikan Aikoku Koshinkyoku sambil duduk-duduk santai di depan rumah bersama saya, memandang langit. Saya rasa memang sesuai dengan bait pertama lagu itu. “Miyo tokai no sora akete” yang waktu kecil saya penggal-penggal, miyo itu saksikanlah, sora itu langit, akete itu kebuka, dan tokai itu sesuatu yang entah mengapa membuat saya geli-geli sekarang.

Ehm, mungkin awan.

Mungkin itulah yang membuat saya senang memandang langit. Sangatlah menyenangkan melihat gradiasi birunya, atau melihat semburat lembayung senja, atau saat awan cirrus berderet mengembangkan sayapnya, atau saat cahaya matahari mengintip dari balik awan dan menghamparkan ROL, atau saat malam menjelang dan hamparan pasir bercahaya bertaburan di angkasa. Beberapa kali saya sering hampir naik ke langit karena di jalan raya saya sering mendongak ke atas.

Saya senang dulu waktu kecil diajarkan Aikoku Koshinkyoku. Setelah saya besar, hanya saya yang bisa ikut nyanyi kalau kakek Geno lewat di depan kantor lurah. Di Dompu, kakek Geno adalah satu-satunya lelaki peninggalan zaman perang yang masih sehat jalan keliling kampung. Jika selesai bernyanyi dia bertanya “Nippon ka?” maka saya bisa dengan bangga menjawab “Oboiteruka? Ano toki…” dan dia akan tertawa terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk punggung saya, seolah-olah saya ini veteran PETA. Jika teman-teman saya yang lain hanya bisa membanggakan level mereka selevel dengan bapak teman lain, level saya jauh di atasnya.

Kakek saya telah meninggal beberapa tahun yang lalu, sehingga saya sering mengajak nenek saya untuk tinggal di Dompu. Saya berpikir, suasana desa akan lebih enak bagi orang tua ketimbang Jakarta. nenek saya menolak. Ia mengatakan, bahwasannya sebelum kakek meninggal, ia berpesan “Bau, kamu jangan keluar-keluar rumah sepeninggal saya…” Setia sampai tua, rupanya.

Jika saya mengunjunginya di Jakarta, nenek saya memiliki pertanyaan standar. “Kapan kamu menikah?” Saya akan menjawabnya dengan “Kenapa tidak tanyakan itu ke cucu yang lain?”

“Kamu itu yang besarin saya, jadi kamu itu statusnya lebih ke anak ketimbang cucu. Semua anak saya sudah menikah, kecuali kamu!”

Maka saya akan membalasnya, “Sudahlah, sejak kakek meninggal, kita berdua sama-sama jomblo. Nanti nggak ada yang temanin nenek.”

Dan kami berdua akan tertawa.

Nenek akhirnya menyusul kakek saya minggu lalu. Saya tidak bisa menghadiri pemakamannya di Jakarta. Pun nenek tidaklah suka sesuatu yang menyedihkan karena selera humornya yang tinggi, dan dia tidak suka memberatkan siapapun sekalipun itu keluarganya sendiri. Saya yakin bahwasannya beliau itu nggak ribet. Soalnya, nenek saya itu punya perkataan yang keren, yang sering diulang-ulang ke saya dari kecil. “Jangan lupakan saya, kalo langit masih biru.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: