Posted by: Black_Claw | April 15, 2014

Using Things For Good Use

“Braymbey jack, mate!” Namanya Harrison. Seorang kawan. Bule, pirang, usianya akhir 20-an, dan tingginya ada kali dua meter, dengan tangan yang sepanjang badannya. Pokoknya dia lebih tinggi dari saya. Sudah lama dia tinggal di Lombok. Tidak seperti bule-bule yang datang ke NTB untuk berselancar, Harrison datang jauh-jauh dari Australia, beli tanah, bangun rumah, kemudian mancing. Yoa. Hanya mancing. Jadi, kalau anda iseng jalan-jalan ke pantai Senggigi dan melihat beberapa orang nelayan mancing berdiri di air laut yang kedalamannya sepinggang, tiang bendera bertopi anyam di samping mereka pastilah Harrison. Dia seling menyelipkan bahasa Sasaq ke dalam bahasa Indonesia campur Inggris-Australianya. Tidak heran teman-temannya memanggil dia dengan nama Amaq Hari.

Saya memang menunggunya pagi itu untuk bakar-bakaran ikan hasil pancingannya. “Here is what I got for five hours.” katanya sambil melemparkan 5 ekor ikan karang beragam jenis seukuran piring saji. “Aaand, I got something else for you. Here.” Katanya sambil mengeluarkan sebuah buku saku kecil dari tas ranselnya.

Saya melirik tulisan di buku kecil itu. Buku berwarna merah bata dengan tulisan ‘Talk To Her’ biru muda gede di tengahnya, dengan pinggir yang dihiasi gambar hati dengan warna merah bata yang sedikit lebih muda. Begitulah pemandangan di depan saya, seorang laki-laki tinggi, besar, berambut pirang dengan rahang kotak yang penampilannya seperti bajak laut di film Pirates Of Carribean memegang buku kecil merah bata menye-menye.

Saya tertawa terbahak-bahak. “I’m not that desperate, man! Who the heck scammed you to buy that book?!” ujar saya sembari mengalihkan perhatian saya ke ikan-ikan hasil pancingnya. “Got any knife? Perut ikannya dibersihin dulu.”

“Naay. Tidak usah, langsung bakar saja nanti. Hey, listen mate, this book is good. Let me read it for you.” Dia mengacuhkan saya kemudian mulai membuka buku kecil itu. “Here is the first step. Be honest with yourself, first and foremost. Is she really the girl for you?” Ia kemudian memalingkan mukanya ke saya. “Well? Whaddya say, Blek? Is she?”

Saya tertawa lagi. Buku ini pastilah kelas-kelas buku motivator macam tulisannya Robert T. Kyosaki tapi versi menye-menyenya. Tersenyum, saya menjawab pertanyaannya dengan tegas. “Of course. I’d die for a Ducati engine, and if for her, I’d do that twice!”

Dia tertawa dan melanjutkan membaca: “Next step. Make sure that she likes you. Hopefully, keeping this in mind will inspire confidence since you are already starting at a vantage point. Nothing ventured, nothing gained.” Kembali Amaq Hari, eh, Harrison memalingkan mukanya ke saya. “So?”

“So what?”

“Did she likes you or not? Whaddya recon?” Dia menatap saya dengan serius. “Sooo?”

“Dunno. How the hell I know? Ask her? Then if she is, why should I bother read that book at first? Aarrrggghhh…! Okay, let’s just say that she is, or maybe was. Puas? Thanks, but I really don’t need that book, dude…” jawab saya.

Dia tersenyum jumawa. “See? This is a good book! Here! Just take it and do anything you want with it! Put it to good use. Gunakan sebaik-baiknya.” katanya sambil melemparkan buku itu ke pangkuan saya. “Let’s make some fire for the fish. Did you bring the charcoal?” Tanyanya.

“Aye, mate.” Sambung saya belagak pake logat Australia sambil menunjukkan sepanci arang yang saya sudah beli sebelumnya. Harrison kemudian berdiri. “Nice. I’ll find some fuel for it. Saya cari bahan bakar dulu.” katanya kemudian berjalan ke belakang. Fuel, bahan bakar yang dimaksud, bukanlah minyak tanah atau bensin melainkan potongan kertas, plastik, atau rumput kering untuk menyalakan api. Dengan kata lain, untuk beberapa menit ke depan, bakalan ada bule tinggi, besar, dan pirang lagi jadi pemulung sampah dadakan di pinggir jalan.

Sambil menunggu, karena nganggur dan ga ada kerjaan, maka dengan ogah-ogahan saya membuka-buka bagian buku yang tadi dibaca oleh Harrison.

‘STEP 3. REJECTION OVER REGRET. It’s better to know that you two didn’t have a chance, rather than living off false hope.’ – ‘LANGKAH 3. TINGGALIN KETIMBANG NYESAL. Lebih baik sadar kalau kalian tidak punya kesempatan, ketimbang hidup dalam harapan palsu.’

Saya membaca tulisan itu.

Beberapa menit kemudian, Harrison kembali sambil membawa tiga biji botol plastik bekas. “I’m back.” Ujarnya, kemudian melihat api sudah menyala dan saya sedang membakar ikan pertama. “Huh? Where did you get the fuel? Hey, where is the book?”

“It didn’t teach me anything, so, I put it to good use.” Sahut saya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: