Posted by: Black_Claw | July 15, 2014

Dothraki Terinspirasi Dari Dompu, Nuff Said.

Saya memiliki keyakinan tersendiri, bahwasannya George R.R. Martin, saat menciptakan Dothraki dalam karya tulisnya, A Song of Ice and Fire yang dijadikan landasan pembuatan Game Of Thrones, tentu terinspirasi dari Dompu. Serius. Entah mungkin waktu itu dia sedang berselancar di Pantai Lakey, atau apalah, saya masa bodo. Tentunya, ini tidak sekedar asal klaim. Melalui riset saya di bidang cocokologi, saya bisa memberikan data-data valid bahwa Dothraki terinspirasi dari Dompu, lebih dari sekedar Do pada awal Dothraki maupun Dompu. Satu-satunya yang tertinggal kini, adalah menemukan bukti bahwa George R.R. Martin pernah datang ke Dompu dan main selancar di Lakey.

Yang pertama, tidak ada kata yang berarti “Terima Kasih” baik dalam bahasa Dothraki maupun Bahasa Dompu. Tarimakasi, adalah serapan gaul dari Terima Kasih melayu. Begitu pula dengan Arigatokamboto yang diambil dari bahasa Nippon. Orang Dompu, mengenal kata plural untuk segala kebutuhan yang berkaitan dengan beri-memberi. Lembo Ade, itu katanya, yang dalam bahasa melayu berarti Luas Hati. Jadi, saat orang Dompu memberikan sesuatu, si pemberi akan mengatakan “Ini untuk kamu, lembo ade.” Si penerima, akan menjawabnya dengan “Ah, saya merepotkan, lembo ade.”

Pluralnya lembo ade, bisa anda temukan saat anda misalnya, diundang makan. Jika si pengundang makan bukanlah orang berada dan menyajikan makanan sederhana, misalnya ikan teri dan nasi, dia akan mengatakan “Silahkan seadanya, lembo ade.” Hal ini tidak berubah jika si pengundang adalah orang kaya yang menyajikan makanan ala barat, beef steak misalnya. Dia akan tetap mengatakan “Silahkan seadanya, lembo ade.” Orang yang diundang? Orang yang diundang akan membalasnya dengan, “Ah, saya merepotkan, lembo ade.”

Kata ini juga digunakan jika berpisah. Misalnya saat dadah-dadahan naik bus, kapal, atau pesawat. “Jangan lupa tulis surat, ya! Lembo ade!” dan dibalas dengan “Pasti! Lembo ade!”

Kata ini bisa digunakan juga untuk memberikan semangat. Ganbatte? Chayo? Semangat kk? Itu terlalu mainstream. Cowok Dompu mana yang nggak klepek-klepek tapi kebakar saat cewek yang disukainya memandangnya dengan tatapan dalam, tersenyum, dan mengucapkan “Lembo ade, sae…” saat lomba jalan kaki beregu 45 kilo bastard setiap 17 agustusan atau ulang tahun Dompu itu? Kratingdaeng sekrat mah lewat!

Terlalu banyak penggunaan lembo ade yang bisa saya tulis. Bisa berarti doa, syukur, maaf, ah, banyaklah. Tapi, yang paling penting, jika anda berhasil memukul lawan anda sampai K.O., anda bisa dengan jumawa mengatakan “Iu ra re. Lembo ademu!” sambil meludah ke muka lawan anda tersebut.

Yang kedua, kebudayaan Dothraki dan Dompu sama-sama berkutat seputaran kuda. Hewan satu ini, bahkan menjadi simbol Kabupaten Dompu. Jika anda melihat sigil Kabupaten Dompu di Wikipedia, anda akan menemui gambar kuda yang berlari di padang rumput dengan latar belakang gunung Tambora. Adalah harga diri seorang anak Dompu untuk bisa riding-istilah kerennya menunggang. Dulu, saat seorang anak lahir, maka telah pula disiapkan kuda yang masih kecil bagi anak tersebut. Untuk dirawatnya, untuk dijadikannya sahabat, untuk dijadikannya saudara.

Tetapi, seiring dengan kemajuan zaman, dealer sepeda motor lebih mudah dijangkau ketimbang padang rumput penuh kuda. Hal tersebut, membuat budaya riding sedikit berubah, dari riding horse menjadi riding motorcycle. Jadi, setiap anak Dompu yang lahir, orang tuanya sudah menyiapkan uang, baik berupa tunai maupun kredit, dengan segala cara, untuk membelikannya sepeda motor. Biasanya Yamaha Vixion atau Suzuki Satria F.U. untuk anak cowok, dan Yamaha Mio untuk anak cewek. Untuk yang berjenis kelamin tidak jelas akan dibelikan Astrea Grand second hand tangan ke 5, dengan harapan jika dia nantinya sudah menemukan jati diri, motornya akan dimodif jadi caffe racer atau minimal jap style. Beberapa dari mereka yang ingin mengabadikan diri di jalan seni diberikan Vespa atau CB warisan, baik warisan orang tua maupun orang lain. Namun, tidak dapat dipungkiri, meski tunggangannya telah berubah, kemampuan menunggang bagi putra-putri Dompu selalu sama. Anda mencari Rider terbaik di seantero Nusa Tenggara yang tidak takut mati (bahkan bikin orang lain ikut mati bersama)? Di Dompulah tempatnya. Bahkan, Ladies Matic, guild cewek-cewek SMA pengendara matic itu saja paling jago nge-wheelie di depan kantor Bupati.

Satu hal yang membedakan afliasi Dompu dan Dothraki dengan kuda, adalah orang Dompu tidak memakan kudanya, selayaknya mereka juga tidak akan memakan besi motornya. Itulah yang disebut saudara sejiwa. Hidup bersama, mati bersama, kecelakaan lantas juga sama-sama.

Yang ketiga, tentang pernikahan. Anda yang pernah membaca A Song of Ice and Fire ataupun menonton Game of Thrones tentu tahu bahwasannya A Dothraki wedding without at least three deaths is seen as a dull affair. Sebuah pernikahan Dothraki tanpa adanya minimal tiga korban jiwa artinya membosankan. Terdengar gahar? Oh, anda belum tahu. Di Dompu, hal-hal berupa perut robek, leher ketebas, atau kepala hilang, adalah normal saat pesta pernikahan, dan umumnya terjadi saat sesi acara hiburan orgen tunggal. Di mana lagi anda bisa mendengar seorang lelaki membanggakan acara nikahnya yang telah lewat bertahun-tahun dengan mengatakan dalam bahasa Dompu prokem: “Nae, laina tala dese, upa douna si ma ji’un aipu nikaku hareem ke…” – “Dulu, saat kunikahi hareem ini, empat orang abisss…”

Yang keempat, tentu anda juga tahu, bahwa tiap khalasar bermusuhan satu sama lainnya jika bertemu. Hanya di ibu kota mereka, Vaes Dothrak di tengah-tengah Dothraki Sea adalah tempat mereka menanggalkan senjata-senjata mereka. Di Dompu, tiap khalas… Ah, maksud saya kampung, berantem itu biasa. Renda VS Kandai-lah, Doro Ngao VS Bali satu-lah, dan penyebabnya biasanya karena ketemuan di jalan, nginjek kaki, adu mulut, dan yah, tahulah lanjutannya… Hanya di kampung Bada, di tengah-tengah Dompu, yang bisa dibilang daerah ibukota sejak Dompu pertama kali ada, yang memegang rekor selalu dalam keadaan peace sejak 1960. Orang-orang Bada tidak suka keributan macam senjata. Mereka lebih suka main cantik dengan menggunakan, errr… Ramuan tradisional, if you know what I mean. Samalah seperti di Vaes Dothrak.

Yang terakhir, adalah tentang simbol kekuatan. Kuncir Dothraki yang panjang, adalah simbol betapa si pemilik tidak pernah dikalahkan dalam pertarungan. Dothraki yang kalah dalam sebuah pertarungan, akan dipotong kuncir rambutnya sebagai simbol kekalahan. Oleh karena itu, Dothraki yang kuncirnya paling panjang, tentu adalah Dothraki terkuat dalam sebuah Khalasar. Jadilah dia Khal, pemimpin Khalasar tersebut.

Di Dompu, simbol yang menunjukkan bahwa seorang Dompu memiliki daya tempur tinggi, adalah kumis. Semakin dahsyat kumisnya, bisa dipastikan semakin tinggi daya tempurnya. Coba anda cari tahu tentang Sultan Muhammad Sirajuddin yang bergelar Manuru Kupang. Kumisnya sangat dahsyat, menandakan daya tempurnya yang begitu tinggi. Bahkan, orang-orang Belanda dan Nippon, bala tentara Jepang, tidak bisa membunuh beliau sehingga terpaksa membuang beliau dan keluarga beliau ke Kupang, kemudian ke Makassar. Sungguh luar biasa. Contoh lain, di era modern ini, yang paling tinggi daya tempurnya di seantero kampung bada, tidak diragukan lagi, adalah Simpe Arif, alias Arifuddin Shorinji, yang bantingan serta pitingan bela diri Kemponya maut itu. Daya tempurnya? Bisa dilihat dari kumis Simpe Arif. Dari jarak 20 meter, siapapun yang macam-macam di Bada akan segera mengenali kumisnya dan kecut nyalinya.

peta-basis-daya-tempur

#mengenaldompubersamablek


Responses

  1. Hahahahaha.. Seru podaaa..caruu ndi mbaca,, (y)

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: