Posted by: Black_Claw | August 1, 2014

Saya Waktu Itu Memang Begitu

“Saya kenal kamu lama. Kamu itu ngorbanin hidup dan masa depan kamu untuk orang lain.”

Itu siang-siang, tiga hari yang lalu, saudara saya nelpon. Bukan saudara kandung. Sepupu, misan, apalah sebutannya soalnya saya males ngerunut pohon silsilah keluarga. Dia pengusaha, dan setelah ngobrol ngalor-ngidul plus basa-basi tetek bengek, entah bagaimana caranya, pembicaraannya jadi seperti itu.

“Koreksi.” Jawab saya kemudian menyambung, “Bukan sekedar orang lain. Saya kenal orang-orang yang kakak bilang.” Usia saudara saya yang menelpon ini memang lebih tua dari saya. Jauh, malah. Kalau tidak salah hitung, tiga tahun lagi memasuki kepala empat.

“Ya, ya… Orang-orang yang kamu sebut teman itu, bukan?” Nada suaranya tetap datar di telpon. “Mengorbankan hidup, masa depan, dan nasib baik, hanya buat orang random yang kamu sebut teman. Tipikal kamu, itu.”

“Koreksi lagi. Untuk sesuatu yang normal, saya tidak merasa berkorban.” Jawab saya. Dari telpon, saya mendengar dia tertawa. Saya suka mendengar cara sepupu saya ini tertawa. Ada jeda sekitar sepertiga detik setiap kata “Ha” yang dia ucapkan dalam tawanya. Itu membuat satu sesi tertawa kecilnya bisa 5 detik Apalagi kalau dia tertawa terbahak-bahak. Berkat tawa slow motion itu, bisa sampe itungan jam kali.

Sebentar kemudian, sepupu saya kembali meneruskan. “Coba, saya tanya kamu. Apa kamu bahagia dengan melakukan hal itu?”

Saya terdiam sebentar, berpikir, kemudian menjawab pertanyaan sepupu saya itu. “Bahagia? Jika saya mengatakan ya, saya tentu akan terdengar sok tegar, kan? Jadi tidak, saya tidak bahagia.”

“Saya bingung, kamu itu pinter apa bodoh. Terus kenapa kamu tetap ngelakuin?” Tanyanya gusar.

“Karena saya tidak punya pembanding. Saya tidak tahu apakah saya bahagia atau malah jauh lebih sengsara jika saya tidak melakukannya. Kakak tahu sendiri, saya tidak pernah melakukan yang sebaliknya, bukan?”

Dia tertawa lagi. Kali ini sekitar sepuluh detik saya menghitungnya. Tawa slow motion itu diakhiri dengan ucapan singkat. “Kamu aneh.”

“Aneh? Bukannya lebih aneh jika hal tersebut tidak dilakukan?” Jawab saya.

“Dengan jiwa seperti itu, kamu tidak akan bisa jadi pengusaha, dik.”

“Bersyukurlah, kalau begitu. Seandainya saya tidak punya jiwa demikian, usaha kakak pasti sudah saya ambil alih sejak dulu.”

Lagi-lagi dia tertawa. “Terus sekarang apa? Mau hidup terus kayak gitu, nggak sakit hati? Eh, sekalian saja saya ganti nama kamu jadi Cowok Amsiong di hape saya. Ha… Ha… Haaa…!”

“Koreksi.” Saya membantah, “Ganti nama saya di hape kakak jadi saudara paling brengsek yang bisa kakak kenal.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: