Posted by: Black_Claw | February 27, 2015

Menikmati Karena Tau

Waktu itu, saya dan seorang lagi kawan, Boris, nebeng di Mobilnya. Dari kami bertiga, sayalah yang usianya paling bawah sehingga paling kurang pengalaman hidup kayaknya. Dia nyopir, saya di sebelahnya, dan Boris duduk di belakang. Jakarta yang macet, membuat saya bosan tudemaks. Jadi, saya muter video yang berisi potongan-potongan scene dari game J-Stars Victory VS, game berantem keluaran tahun 2014 yang penuh sama karakter komik jaman Dinosaurus masih perjaka. Tinju Bintang Utara saja awet muda di game itu.

Nah, pas adegan si Hiei dari Yu Yu Hakusho ngeluarin Jao Ensatsu Kokuryuha, saya nyeletuk.

“Njir, nih game gambarnya buset indah bener! Beruntung banget anak-anak yang lahir baru-baru ini, dimanjain sama gambar kelas dewa…”

“Nggak gitu juga, Blek.” Sahutnya. Kondisi yang macet parah memang memungkinkan dia untuk beberapa kali ngelirik video yang saya putar saat mobil dalam keadaan nggak bisa maju ataupun mundur. Dia tersenyum, kemudian melanjutkan. “Justru untungan yang lahir duluan. Gambar yang bagus itu lebih menyenangkan bagi orang yang tau. Anak-anak yang baru lahir mana tau itu siapa, sebagus apapun gambarnya.”

Ingatan tentang kejadian tahun lalu itu kembali lagi, saat saya baru saja selesai nonton Saint Seiya: Legend of Sanctuary barusan. Sejelek apapun pendapat fans fanatik serial Saint Seiya tentang film ini, saya menemukan diri saya cukup terhibur. Yoa, saya ngabisin jatah hidup saya di dunia puluhan menit untuk ngulang-ngulang adegan di film ini, yang nuansanya berasa nonton Final Fantasy VII: Advent Children tapi gerakan karakternya kesambet Studio Pixarnya Disney. Peduli amat sama kudu ngikutin cerita. Tutup mata juga saya hafal kok ceritanya Saint Seiya yang asli.

Kalau kamu pernah nonton film Saint Seiya, harusnya kamu tahu kalau kecepatan serangannya Bronze Saint macam Seiya dan kawan-kawannya yang cowok cantik semua itu setara kecepatan suara, sementara Gold Saint berbalut zirah emas yang nggak kalah cowok cantiknya itu setara kecepatan cahaya. Nah, untuk film kartun jaman dulu yang teknologi animasinya nggak sedahsyat sekarang, membuat adegan pertarungan yang bisa menggambarkan pertarungan dengan kecepatan gila macam itu setengah mampus. Kecepatan cahaya itu akhirnya lebih memanfaatkan persepsi orang yang menonton ketimbang apa yang ditampilkan. Dengan kata lain, untuk memvisualisasikan bahwa si Seiya itu bergerak dalam kecepatan suara, otak penontonnya yang lebih banyak kerja ketimbang si Seiyanya sendiri, yang banyakan cuma diem statis di layar, dua frame gerak, mulut mangap, terus teriak “Tinju meteor pegasuuuuusss!”

Dan setelah meneriakkan itu, dia kembali diam. Kameranya malah yang bergerak menjauh. Kalau inget itu lagi sekarang, saya jadi pengen bilang, “MATI AJA KAMU NYET.”

Hal itu, membuat serial anime Saint Seiya hidup dalam dunia slow motion berkepanjangan. Sama seperti Kapten Tsubasa, dikali seratus. Slow motion yang begitu slow dan slow, hingga kecepatan slownya mulai mendekati kecepatan paling slow di alam semesta, yaitu sinetron Indonesia. Coba hitung, berapa kali kata slow keluar?”

Tapi tidak di film Saint Seiya yang baru ini. Seiya, kawan-kawan cowok cantiknya, dan musuh-musuhnya yang cowok cantik itu, bener-bener berantem dengan kecepatan yang oke, koreografi pertarungan yang ciamik, dan adegan slow yang munculnya hanya saat benar-benar diperlukan.

Saya sering bilang, manusia itu mahluk pembanding. Kamu tidak akan tahu apa itu senang jika tidak pernah susah. Tidak bisa tahu bagus, jika tidak pernah melihat yang jelek. Baik, buruk, semua ada gunanya. Jika kamu yang sudah nonton film Saint Seiya: Legend Of Sanctuary ini merasa film ini jelek sekalipun, tidak mengapa. Itu tetap berguna. Membuatmu bisa melihat bahwa film Saint Seiya yang original semakin terlihat indah setelah menontonnya.

aiolia-saint-seiya-legend-of-sanctuary

Dan hal tersebut bisa berlaku terbalik tentunya. Misalnya saya. Kalau kamu pernah nonton serial Saint Seiya yang jadul, kamu pasti tahu Saori Kido itu gimana. Nah, bagi saya, wanita yang kayak Saori Kido di serial jadul itu aneh banget dibela mati-matian sama Seiya dan kawanan cowok cantiknya. Ga masuk akal bagi saya. Saori Kido yang dulu itu dingin, rada kejam, dan kuat. Kuat banget, baik mental, maupun kekuatannya yang emang kuat banget. Heck, baju zirah Athena yang di patung gede itu jauh lebih dahsyat ketimbang zirahnya Gold Saint manapun.

Nah, di film yang baru ini? Walaupun aslinya kuat sekalipun, Saori Kidonya bingung sama jati dirinya sebagai Athena. Kelakuannya unyu-unyu edan lagi, ditambah rambut pendeknya… Walah, cowok mana yang ga mau ngelindungi?

Jadi, terima kasih sudah memberi tahu bahwa saya sebenarnya beruntung, Handy Altan. Terima kasih, sungguh. Dan errr…

Ah, iya…

“BURN MY FUCKING COSMOS!!!”


Responses

  1. bulu keteknya bau ampe sini woi..pelanggaran ga kabar2 ke jkt😛

    Like

  2. Hahahaha Mantap article nya nice shared thx
    Ngumpul

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: