Posted by: Black_Claw | December 1, 2015

Bernyanyilah Karena Indah Bagimu

“Leh… Masuk dia suara side, Han.” ucap Budin dengan logat Sasaknya yang kental, senja itu, di depan salah satu bungalow penginapan Monalisa, pantai Lakei, yang dijaga oleh om Robin, tempat kami menginap.

Saat itu, sembari melempari biskuit untuk anjingnya om Robin, Fluffy, saya iseng menyanyikan sepenggal lirik lagu Kal Ho Na Ho. Teman saya yang satu lagi, Alfin, sedang sarungan pake selimut sambil telanjang dada, jalan mondar-mandir di depan kami sambil ngeliat sunset. Mungkin dia kosple, kosple jadi bule teraneh yang pernah saya lihat. Saat itulah pujian bernuansa heran Budin terlontar.

Saya mahfum kenapa Budin bisa berkata demikian. Kebanyakan yang mengenal saya, melihat saya jauh dari kesan bisa mengeluarkan suara selain growl atau scream death metal. Mungkin karena saya kurang suka bernyanyi serius, yang penting menyenangkan bagi saya. Maka itulah, acap kali saat menyenandung, lagu-lagu yang saya nyanyikan saya jadikan cover ala saya. Seriosa saya celupin legato dangdut lah, pop saya jadikan rap lah, RnB saya timpa pake jazz lah, macam lah.

Hei, senikmat-nikmatnya lagu di piringan hitam, kaset, CD, MP3 player, atau apalah medianya, tidak ada yang mengalahkan perasaan gembira mendengar lagu live, apalagi yang beda dari penyanyi aslinya. Setidaknya bagi saya. Itulah mengapa, saya lebih suka ngedengarin orang genjreng-genjreng geje ketimbang nonton konser.

Musik yang enak bagi saya ya yang gitu. Yang khas, yang personal.

Saya belajar musik dari beberapa orang. Bung Joni, om Erwin, romo Barto, tapi guru pertama saya dalam hal musik selalu membekas di kepala, tak lekang dari ingatan. Dia yang mengajarkan saya aliran cover semau gue ini. Dia, bapak saya.

Dan tehnik cover lagu ala bapak saya ini tingkat dewa.

Jika bernyanyi, bapak saya bahkan ngecover lirik lagunya. Apalagi kalau bukan karena lupa.

Saya ingat saat bapak saya ikut lomba karaoke SKPD, Satuan Kerja Perangkat Daerah. Kamu tau lagu apa yang dinyanyikannya saat itu? Rod Stewart, eh, Leo Sayer. When I Need You.

Maka, dengan santai dan penuh percaya diri disertai gaya masa bodo, bapak saya maju ke depan. Diambilnya mik, dan musik lembut pembuka lagu itu mulai mengalun. Bapak saya menarik napas, mendekatkan mik ke bibirnya, dan mulai bernyanyi dengan penuh penghayatan.

“When I neeeed you… Dadaddiduuu didadiiii du. And aaall that I sooo dada diii du…”

Semua bertepuk tangan dan bapak saya pulang sebagai juara satu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: