Posted by: Black_Claw | February 29, 2016

Derita Nonjob

Saya ingat, itu adalah minggu terakhir Galih ada di kantor.

Di kantor, ada semacam secret society. Sebut saja Freemason, karena anggotanya terdiri dari mas-mas on free. Cukup keren bukan, sebagai kata ganti orang-orang Diskoperindagtamben yang nonjob?

Dan secret society ini kumpul-kumpulnya malam hari, di ruangan subdin Pertambangan dan Energi yang sebentar lagi dibubarkan oleh pemprov.

“De au ja mori ke pops.” Galih bersuara.

“Tenang.” Jawab saya. “Cuma tinggal sampai akhir minggu, kan.”

Galih tersenyum, secara dia akan cabut sebentar lagi. Keluar dari kantor ini, mengejar harapan baru di Lombok, pulau sebelah. Itupun kalau harapan itu beneran ada.

“Sampai akhir minggu, terus mendadak Ahok jadi presiden, terus mendadak ada wajib militer, terus anda wajib militernya di sini lagi. Nganggur lagi, iu ra de.” Sambung saya.

“Hahaha terus pak Abdurahman yang nyambut dengan tangan terbuka. Welcome back, son!” Kata Galih sambil tertawa.

“Ndandawi pu ra SPPD re…” Tawa semakin keras.

Mendadak pak Gufran, anggota tertua secret society ini keluar dari ruangannya. Ruangan yang sekaligus merangkap kamar kosnya di kantor, seperti jabatannya yang adalah kepala seksi merangkap kepala kos-kosan.

Sebentar lagi, setelah pembubaran, semua jabatan itu akan dapat titel baru. Mantan kepala.

“Mana berkas surat jalan ini? Berkas ini harus selesai sebelum pembubaran subdin.” Tanyanya bingung.

“De itu di ruangannya Farhan, oom. Di komputer di sana. Itu kan Fura yang ngetik.” Galih yang menjawab, sambil mengunyah tahu isi. Sekantung plastik gorengan tersedia di meja menemani pertemuan malam itu, dibeli dengan lima puluh biji koin lima ratusan yang dikumpulkan dari bawah kolong meja, lemari, asbak, dan lemari pak Gufran sore harinya.

“Ede si, saya angkat tangan kalo kayak gitu. Itu pasti di laptop pribadi, dan dibawa pulang.” Jawab saya sekenanya.

“Makanya,” saya melanjutkan. “Sudah berapa tahun coba saya bilangin, kantor ini harusnya pake sistem data center. Nggak mahal kan? Cukup LAN, semua ketikan itu lokasinya di satu komputer, yang kalo bisa komputer itu juga terkoneksi ke internet, jadi dari manapun data itu bisa diakses kalau perlu. Topologinya bisa sa…”

“Cukup pops.” Galih memotong. “Enough. Just enough.”

Saya diam. Galih diam. Pak Gufran duduk, bakar rokok, ngembusin asap, ngambil pisang goreng dari plastik gorengan, terus ikutan diam. Saking diamnya, sampai lupa ngunyah.

“De banyak nyamuk kamanae.” suara Galih memecah keheningan.

“Mungkin karena kipasnya nggak nyala.” Jawab saya acuh tak acuh.

“Nice idea pops.” Galih tersenyum, seraya memandang ke atas, ke plafon kantor. Mendadak raut mukanya berubah. Melihat itu, saya dan pak Gufran jadi ikut-ikutan mendongak ke atas.

Di tempat yang biasanya bertengger kipas angin besar untuk ruangan, kini digantikan oleh sebuah lubang bulat menganga di plafon dan dua utas kabel telanjang yang nongol dari lubang itu.

“Loh, kipasnya mana?” celetuk Galih mewakili perasaan takjub kami bertiga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: