Posted by: Black_Claw | April 16, 2016

Dari Dompu, Tentang Tambora, Untuk Presiden Republik Indonesia

collage-1460806552934

Pak Presiden Indonesia, perkenalkan, nama saya Farhan Perdana. Saya orang Dompu, pulau Sumbawa, propinsi Nusa Tenggara Barat.

Pak Presiden, saya pribadi merasa bahwa kegiatan tahunan yang dilaksanakan berkaitan dengan peringatan meletusnya gunung Tambora di daerah seputaran Taman Nasional Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat, baik di dalam maupun di pintu masuk, lebih banyak dampak buruknya ketimbang baiknya.

Pada acara Tambora Menyapa Dunia tahun 2015 maupun Pesona Tambora tahun 2016, daerah ini menjadi penuh dengan sampah plastik.

Hal ini dikarenakan, pusat kegiatan yang bertempat di sabana Doro Ncanga, dipenuhi oleh masyarakat kota yang datang dan menginap, bahkan naik ke kawasan konservasi. Seperti yang sudah umum diketahui, bahwasannya bangsa kita masih kurang kesadarannya dalam membuang sampah secara baik dan benar.

Hal ini diperparah dengan sangat minimnya tempat sampah di lokasi. Pun saya yakin, jika disediakan sekalipun, mental buang sampah sembarangan sudah mengakar terlalu dalam di mental bangsa Indonesia.

Masalahnya, kita, bangsa Indonesia, sebelum mengenal plastik, sejak dahulu telah terbiasa membuang bungkus makanan, minuman, maupun pakaian dan semacamnya yang dulu terbuat dari bahan yang ramah lingkungan seperti daun pisang, kain, tabung bambu dan sebagainya. Saat bahan-bahan ini tergantikan oleh plastik, bangsa kita masih belum terbiasa untuk memperlakukan sampah plastik yang butuh perlakuan spesial. Sampah yang tidak bisa dibuang seenaknya begitu saja.

Terbukti, sebagian besar masyarakat yang menghadiri acara, dari komunitas motor hingga pelajar pendaki, dari pejabat pemerintahan hingga warga yang menyaksikan, secara berjamaah dan teratur buang sampah sembarangan.

Habis minum lempar kiri.

Habis makan lempar kanan.

Jauhnya lokasi dari pusat kota sehingga menyulitkan proses pembersihan sampah yang ditinggalkan turut memberi sumbangsih menumpuknya sampah plastik.

Pak, saya sendiri merasa aneh jika melihat daerah sekitar prasasti yang Presiden saya sendiri resmikan sebagai Taman Nasional tahun lalu, dalam dan luarnya, pinggir dan isinya, penuh dengan sampah plastik. Yang penuh dengan kantung kresek bekas terbang ke arah pantai-pantainya. Belum lagi mereka yang mendirikan tenda dari terpal, menebang vegetasi di sekitar. Dari sabana sampai ke pantai. Rasanya kok kurang nyambung dengan statusnya yang Taman Nasional itu.

Pak Presiden, para pembuang sampah ini bukanlah orang yang terbiasa dengan konservasi alam liar, kemudian tiba-tiba dibawa ke daerah yang sekarang berstatus Taman Nasional. Ada yang datang dengan surat perjalanan dinas, ada yang memang memiliki keinginan menghadiri acara untuk rekreasi. Tapi, sekali lagi, mereka memang tidak tertanam mentalnya untuk menjaga alam.

Mereka tidak pernah ditatar. Mereka belum pernah disosialisasi secara mendalam. Mereka buta. Dan mereka, terpaksa datang ke lokasi. Kenapa saya tulis terpaksa? Karena ada acara gede-gedean. Minimal tentulah mereka akan malu pada tetangganya jika tidak mengikuti acara tersebut.

Pak Presiden, saya menghabiskan banyak waktu bertanya kepada masyarakat yang hadir, apa yang membuat mereka bela-belain tidur nggak jelas di daerah antah berantah sulit MCK seperti Doro Ncanga. Ada yang karena ingin melihat Trio Macan, ada yang karena ingin melihat Pesawat TNI AU, Kapal Perang TNI AL, menonton atraksi terjun payung, atau ingin melihat Presiden Indonesia secara langsung, secara baliho dan spanduk yang memberitakan kedatangan Presiden telah tegak berdiri di setiap penjuru kabupaten jauh-jauh hari.

Tapi tidak satupun dari yang saya tanyai itu datang karena ingin melihat Tambora, pak. Mereka sudah kenyang kata Tambora sejak dulu, dan mereka tidak pernah ditatar dan disosialisasikan apa menariknya Tambora selain karena saat gunung itu meletus, tiga kerajaan di sekitarnya hangus.

Pak Presiden, menatar masyarakat desa sekitar untuk tidak membalak hutan saja sulitnya setengah mati. Sampai sekarang masih bocor pula. Jika massa yang sama sekali tidak ditatar dibawa pula dari kota-kota ke daerah sekitar Tambora, tentu saja kisruh jadinya. Satu dua yang datang kemudian buang sampah sembarangan, mungkin masih bisa diatasi sampahnya dengan dipungut, atau sampahnya dibakar. Tapi kalau sekampung dua kampung yang datang?

Saya tidak sekedar berkeluh kesah, pak. Saya punya beberapa solusi untuk masalah ini.

Yang pertama, sekiranya bisa, mohon keluarkanlah peraturan agar kegiatan besar tidak diadakan di seputaran Tambora. Toh para calon pesertanya juga tidak datang untuk ngeliat Tambora. Mereka cenderung datang untuk melihat selebriti. Cukuplah kegiatan khusus skala kecil yang penting saja diadakan di kawasan seputar Tambora. Ini akan otomatis menyortir orang-orang yang benar-benar ingin melihat Tambora saja yang hadir. Pastinya, jumlah ini akan kecil, sehingga sebelum acara dilakukan, mereka bisa ditatar. Di lapangan nantinya bisa diawasi. Jika melanggar bisa mudah diperingatkan. Acara besarnya, cukup di kota saja. Mungkin di Museum atau Taman Budaya? Dompu belum punya dua hal tersebut. Mungkin pak Presiden bisa nyolek-nyolek pak Gubernur dan pak Bupati secara pribadi terkait hal itu. Soalnya, saya lihat, di baliho-baliho, bapak bertiga terlihat mesra sekali.

Jika sekiranya yang pertama tidak bisa, mohon sebelum acara besar-besaran dilakukan, dilaksanakan sosialisasi besar-besaran secara rutin dan kontinyu dua atau tiga bulan sebelumnya. Pada saat acara berlangsung juga, mohon disosialisasikan lagi secara kontinyu, baik melalui pengeras suara tiap jam, maupun secara personal dengan mendatangi tiap-tiap kelompok warga. Yang kedua ini mungkin tidak terlalu efektif, tapi minimal sudah usaha.

Kalau saya rasa, lebih bagus yang pertama, pak. Mohon diingat, bahwasannya Tambora bukan hanya milik Dompu, bukan hanya milik pulau Sumbawa, bukan hanya milik Indonesia. Tambora adalah milik dunia, pak. Situs yang sudah go international. Sampai saat ini, letusannya terekam di mana-mana dalam peradaban manusia. Saya yakin, jika terawat dengan baik dan benar, ekonimi warga akan jauh lebih mudah. Tidak harus menambang atau berladang. Cukup lewat kunjungan tamu saja. Tamu yang senang dengan terawatnya cagar alam dan budaya itu tentunya.

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca barisan kata-kata saya, pak. Semoga damai dan kesejahtraan selalu berlimpah bagi bapak, dan gugusan pulau-pulau yang bapak Presiden pimpin.

Sa mena tala mada ma iha ra tio ta, raho ta ka ngampu toi.

Lembo ade.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: