Posted by: Black_Claw | June 15, 2016

Belum Tentu Itu Cina

“Lambat ya? Sori Blek, barusan ngurus bule nyasar di pos.” Teman saya itu datang menyapa dengan muka cengengesan. Masih berseragam. Saya, yang sudah menunggunya tiga jam, menjawabnya dengan senyum masam.

Dia polisi. Mendengar saya ada di Jakarta, dia ngajak ketemuan. After hour katanya, istilah orang-orang kota untuk menyebut waktu sehabis jam kerja.

Saya lupa, jam kerja polisi ibukota lebih nggak jelas ketimbang status saya di mata cewek yang saya taksir.

Dia kemudian menyuguhkan kopi kalengan yang diambilnya dari salah satu kantung plastik di tangannya, kemudian mengambil satu kaleng lagi dari plastik yang sama, membukanya, dan duduk minum di samping saya.

Tipikal polisi di film-film banget, yang kurang tinggal roti. Sayangnya, isi plastik yang satunya otak-otak ikan pinggir jalan.

“Eh, lu masih ngerti bahasa Cina yang bukan Mandarin itu kan? Apa itu namanya?” Sahutnya mendadak, sedikit nggak jelas karena sambil ngunyah otak-otak.

“Hokkian?” jawab saya, sambil jilat-jilat daun pisang sisa otak-otak. Sayang, masih ada sisa otak-otak yang nempel.

“Nah, itu. Kakek bule Cina yang nyasar di pos itu kayaknya nggak bisa bahasa Mandarin. Pas tadi nelpon kedubes Cina, dia diam.”

“Ikut gue ke pos deh. Itu kakek kayaknya kampung banget dari pakaiannya. Mana tau bahasanya bisa lu ngarti.” Ujarnya lagi.

“Belum tentu kali. Bahasa daerah di Cina itu seabrek, dialeknya juga banyak.” Jawab saya malas-malas.

“Udah, ikut nyoba aja dulu.” Paksanya.

Jadi demikianlah, saya dibonceng ke pos dengan motor patroli jalan raya. Jaraknya hanya sekiloan dari tempat kami bertemu. Kalau saya pake motor sendiri, pastinya berasa keren seolah dikawal. Sayangnya karena dibonceng, berasa maling jemuran.

“Itu kakeknya.” Katanya setelah sampai dan kami masuk ke ruangan pos. Kakek itu sedang duduk dengan muka sendu. Matanya memang sipit. Ada sisa makanan siap saji yang dagingnya sepertinya tidak disentuh. Baju si kakek panjang warna cerah, bukan baju modern. Di keningnya saya melihat sisa-sisa tanda merah yang mulai luntur. Mungkin karena keringatan pas nyasar.

“Dia nggak makan daging? Vegetarian ya?” tanya saya.

“Kayaknya iya.” Jawab teman saya.

“Kakeknya juga aneh, udah dibeliin Chinese food mahal-mahal di Pecenongan tapi nggak makan pake sumpit!” Polisi lain dari luar ruangan setengah berteriak menambahkan. Hei, pos polisi itu di Semanggi dan untuk ukuran Jakarta, Pecenongan itu cukup jauh. Polisi Indonesia mungkin tidak sejahat yang kalian kira.

Saya tersenyum.

“Namaste Bhaba Ji. Mera naam Farhan hai. Ap Hindi ho na? Gangtok? Sikkim?” Tanya saya ke si kakek, yang sudah tertuduh sebagai bule Cina nyasar.

Mendengar itu, si kakek langsung menoleh ke arah saya dengan raut muka gembira.

“Ha beta, ha! Hai bhagwaaan! Sikkim hai!” Serunya sambil menengadahkan tangan, kemudian mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Sambil tertawa kecil, saya menjabat tangan si kakek.

“Telpon kedubes India. Kakek ini rumahnya tetanggaan sama pegunungan Himalaya.” Kata saya.

Teman saya melongo.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: