Posted by: Black_Claw | July 1, 2016

Maniak

Dengan setengah hati saya menenteng galon kosong, melangkah lesu di kompleks. Air habis, dan saat saya sadar airnya habis, malam sudah terlalu larut untuk memesan layanan antar air galon. Saya, yang langsung menyambar celana panjang, galon kosong, dan pergi ke toko di luar, menghadapi kenyataan pahit. Kenyataan pahit bahwa duit dalam kantong celana yang saya sambar ternyata bukan seratus ribu melainkan sepuluh ribu.

Sama-sama merah, cuma ga cukup buat beli air segalon.

Jadi saya jalan balik lagi, mau ngambil duit, sambil nenteng galon.

Mendadak dari arah belakang, terdengar suara plastik robek. Saya menoleh, dan melihat mbak-mbak yang belanjaannya tumpah ruah di trotoar. Beberapa minuman botolan, roti tawar, dan susu kental manis.

Segera saya menghampiri dan bantu-bantu mungut. Secara plastik belanjaannya robek total, dia bakal kerepotan nenteng belanjaannya. Jadi, saya menawarkan hoodie merah yang biasa saya pakai buat ngebungkus belanjaannya, minimal sampai deket toko tempat dia bisa beli plastik lagi.

“Nggak usah, mas. Aku udah deket kok. Tinggalnya di Tulip.” Katanya.

“Loh, sama. Saya juga di Tulip kok. Sekalian aja.” Balas saya.

Jadi demikianlah, si mbak jadi make hoodie saya sebagai ganti plastik. Secara dia terlihat capek, saya menyuruhnya bawa galon kosong saja sementara hoodie berisi belanjaannya saya saja yang pegang.

“Makasih lo mas, udah repot-repot.” Katanya saat sampai di tempat tinggalnya. Sambil menyerahkan galon kosong ke saya, dia kemudian menyambung. “Sukur juga ada yang nganterin. Di sini banyak maniak loh…!”

“Maniak gimana? Kok bisa tau?” Tanya saya sambil bongkar muat belanjaannya si mbak dari hoodie saya.

“Ya, gitu lah mas, maniak. Tau aja maksudku bisa dari penampilan. Aku malah sering liat satu di sini, kayaknya orang baru. Dia sering lewat sini dan kulihat kalau pulang malam. Suka pake baju oranye, terus celana pendek banget warna biru gitu. Jalannya nunduk, terus rambutnya agak gondrong awut-awutan kayak baru bangun tidur!” Cecernya dengan nada yang entah semangat, entah khawatir. Nggak jelas.

“Tumben-tumbenan hari ini aku nggak liat dia loh mas… Biasanya sih malam jam segini dia lewat.” Sambungnya lagi dengan mimik yakin.

Saya terdiam sejenak kemudian menatap ke arahnya. Dia membalasnya dengan tatapan heran.

“Anu, mbak.” kata saya pelan. “Itu saya. Kemarin saya baru potong rambut…”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: