Posted by: Black_Claw | November 9, 2016

Kamu, Aku, Dan Negera Kita

“Keluargaku bilang, kenapa sih repot-repot mikirin negara, sementara kita tetap miskin? Tanah kita beli, rumah kita beli, makanan tetep kita beli. Negara nggak ngasih apa-apa.” Kata teman saya.

Saya tersentak. Mungkin pemikiran seperti ini akar permasalahan negeri kita. Banyak yang tidak perduli pada negara karena tidak tau apa yang sudah diberikan negara.

Bukan bodoh, hanya tidak tau.

Hanya dengan adanya negara, kita sudah sangat beruntung. Kamu bisa punya tanah dan rumah yang kamu beli, adalah karena adanya negara. Kalau tidak ada negara yang menjamin kepemilikan tanahmu, kamu akan menghabiskan waktumu menjaga tanahmu sepanjang hari dari orang lain yang ingin mencaplok tanahmu. Sama seperti kucing yang tiap hari harus bolak-balik patroli ngencingin tanda daerah kekuasaannya.

Kalau tidak ada negara, kamu tidak akan bisa bekerja dengan nyaman dan gampang. Usaha atau perusahaan tempatmu bekerja tidaklah mungkin bisa berdiri tanpa adanya negara. Tidak akan ada yang mempercayai kegiatan jual belimu jika tidak ada negara yang menjamin usahamu resmi dan diawasi. Jika pekerjaanmu berat dan sulit saat ini, bayangkan itu akan tambah jauh lebih sulit jika tidak ada negara.

Coba pikir, kenikmatan apa yang kamu dapatkan hanya dengan punya KTP yang dikeluarkan negara. Kamu bisa ngerental video, ngirim duit ke keluarga, bahkan minjem duit ke lintah darat sekalipun.

Bahkan, kamu tidak akan bisa jalan-jalan ke luar negeri tanpa adanya paspor yang dikeluarkan negaramu, walau kamu yang ngurus paspor dan bayar pula. Tidak akan ada orang yang mau ngizinin orang yang tidak bernegara, tidak punya identitas, jalan-jalan keliling di tanahnya. Tanpa negara sebagai identitasmu, kamu tidak akan dipercaya.

“Aku pikir, semua yang dikasih ini dikasih Tuhan, bukan negara. Udara yang kuhirup, yang diberikan Tuhan. Tuhan memberikan dunia.” Ujarnya lagi.

Tuhan memberikan semuanya, betul. Dan negara ini, yang merupakan bagian dari dunia, adalah pemberian Tuhan. Jika kamu dikasih radio, kamu tidak bisa bilang kalau antenanya itu bukan sepaket dari pemberian tersebut. Tuhan memberikan dunia ini, dan memberikan negara sebagai salah satu fasilitasmu yang sepaket dari pemberiannya.

Bahkan, kamu bisa sadar bahwa kamu menikmati udara, itu karena negara itu ada. Kalau negara tidak ada, dengan segala kesengsaraan yang pasti kamu dapatkan, kamu akan lebih memilih mati, tidak menghirup udara lagi.

Kalau ada yang ngasih radio tanpa antena, tidaklah mungkin kamu bisa memakainya. Kamu minimal bakal masang kabel atau centong di tempat antena itu harusnya ada, tapi itu juga ya namanya antena.

Kamu ingin tahu bagaimana hidup tanpa punya negara? Pikirkan nasib nenek moyangmu sebelum Indonesia ada. Berapa tahun hidup nggak enak karena dijajah atau dicoba dijajah? Untuk sekedar jalan-jalan ke luar rumah saja, kamu harus jadi ahli beladiri.

Lihat aktor laga yang ada di film favorit kamu itu? Saya yakin, seorang Suratman yang tiap hari jualan ikan di pasar pas zaman penjajahan jauh lebih jago berantem dibanding dia.

Jangan pernah berpikir bahwa negara hanyalah pemerintah. Pemerintah adalah badan negara, presiden adalah kepala negara, kita adalah warga negara. Negara itu termasuk orang tuamu juga, keluargamu, kawan-kawanmu, pacarmu, pasangan hidupmu juga. Negara itu satu kesatuan yang utuh yang terbentuk dari mereka juga. Tanpa kepala, yang lain mati. Tanpa badan, yang lain mati. Tanpa warga, badan dan kepala dan semuanya mati.

Kalau tangan mau matiin kepala, itu namanya bunuh diri.

Negara bisa berdiri, karena sekumpulan orang yang berkumpul memiliki satu kesepakatan untuk bersama, untuk memudahkan mereka bisa saling percaya satu sama lain dengan mudah karena memiliki identitas, jati diri yang sama.

Kawan, hanya dengan adanya negara saja, negara sudah memberikan kamu banyak hal. Kamu bisa punya tempat tinggal tanpa takut dicaplok orang, kamu bisa bertransaksi dengan mudah, kamu bisa keluar rumah tanpa senjata, kamu bisa minjem buat modal usaha, kamu bisa nonton film asing, kamu bisa make barang-barang impor, kamu bisa meperlebar usahamu ke daerah lain, kamu bisa punya waktu untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati indahnya dunia tanpa dihantui rasa was-was dan harus waspada sepanjang waktu.

Kamu bahkan bisa tidur nyenyak pas malam hari. Ya, bisa tidur nyenyak. Ga perlu repot mikir sekumpulan orang dengan gampangnya ngebunuh kamu buat makan isi dapurmu.

Kawan, kamu adalah bagian dari negera ini. Kamu, iya, kamu, adalah negara ini. Memikirkan negara adalah memikirkan diri kamu. Tidak mungkin tidak. Mungkin kamu mikir negara dan kamu adalah dua kubu yang berbeda hanya karena kamu tidak tau. Mulai sekarang, mari kita merubah pemikiran seperti itu.

Pedulilah pada negaramu, karena negaramu… Adalah juga kamu.

“Berangkatlah sekarang.” Kata saya ke teman saya. “Daganganmu adalah caramu bernegara. Tanpa masakanmu yang kamu jual, ekonomi negara tidak akan berjalan selancar hari kemarin, kawan. Rebus mie itu dengan penuh kebanggaan.”


Responses

  1. siap! *koding lagi*

    Like

    • Eh, kita ga ketemu muka berapa taun ya? 6? 7?

      Like

  2. kirain isinya lirik lagu :)))(

    Like

    • Laguin aja, dik. Nyok silahkan nyanyiin.😉

      Like

  3. menyentuh jiwa…

    Like

    • Pras… Dahi kamu panas, Pras…

      Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: