Posted by: Black_Claw | November 23, 2016

Turunkan Tanganmu Jendral!

p_20160904_165119

“Jendral! Turunkan tanganmu! Apa yang kau hormati siang dan malam itu?! Apa karena mereka di depanmu itu memakai roda empat?!” dengan nada sedih ia kembali berkata “Tidak semua dari mereka pantas kau hormati! Turunkan tanganmu jendral!”. Nagabonar malah menaiki patung tersebut, dan ia terus berkata “Turunkan tanganmu, jendral! Turunkan tanganmu jendral! Turunkan tanganmu…” matanya terus mengeluarkan air mata dan ia terus berkata “Turunkan tanganmu, jendral…”

Syahdan, diceritakan bahwa ketika Nagabonar mengunjungi putra semata wayangnya di Jakarta, ia jalan-jalan mengelilingi kota jakarta menaiki bajaj. Tiba-tiba mereka dihentikan oleh polisi. Setelah sang supir Bajaj menjelaskan kenapa mereka berhenti, sang polisi langsung mendatangi Nagabonar.

“Bajaj dilarang lewat sini pak…” kata polisi.

“Kenapa Bajaj tidak boleh lewat sini?!” tanya Nagabonar dengan logat bataknya.

“itu peraturannya.” Jawab polisi.

”Kenapa ada aturan macam itu?

“Memang peraturannya seperti itu pak.”

“Ya, kenapa?!”

”Jadi bapak tidak tahu ada aturan seperti itu pak?”

Dengan sedikit emosi Nagabonar menjawab.

”Betul, tidak tahu aku! Malah heran aku! Kita sudah lama merdeka, tapi masih ada aturan macam itu! Kalau Belanda yang bikin aturan itu, mengerti aku. Karena belanda memang suka cari perkara, ya kan?”

“ya, pak… Tapi yang saya tahu Bajaj dilarang lewat sini.” Kata polisi, masih tetap dengan jawaban yang sama.

“kenapa Bajaj tidak boleh lewat sini?!” Nagabonar masih terus bertanya.

“Karena Bajaj roda tiga.” Jawab polisi pada akhirnya.

Dan sampai akhirnya Nagabonar dan supir Bajaj tersebut meninggalkan bajajnya dan pergi berjalan kaki. Perjalanan terhenti di depan sebuah patung Jendral Soedirman yang sedang menghormat. Nagabonar, melihat patung tersebut, segera membalas memberi hormat.

Nagabonar kemudian menurunkan tangannya. Tapi dilihatnya patung tersebut terus menghormat. Naga bonar menoleh ke arah patung tersebut menghormat, dan dilihatnya mobil-mobil bagus serta bus berlalu lalang. Seketika ia kembali menatap patung Jendral Soedirman dan protes kepada sang Jendral besar. Protes yang ada di awal tulisan ini.

Tentang Jenderal Soedirman yang sedang menghormat itu juga pernah ditanyakan oleh dua mantan Panglima TNI. Salah satunya Jenderal Purnawirawan Wiranto.

“Pak Wiranto sempat tanya, ‘kenapa kau buat itu hormat, kasihanlah, itu ikon kami’, oh ndak bapak, itulah Soedirman, Soedirman nggak mau dihormati, ingin menghormati siapapun juga,” jelas Ganang Soedirman, cucu langsung Jendral Soedirman, menceritakan saat menjelaskan kepada Wiranto kala itu.

“Itu tangan diturunkan kalau amanahnya sudah nggak ada, tapi kan kebetulan beliau meninggal amanahnya masih ada, jadi sampai kapanpun nggak akan turun tangan itu,” tegas Ganang.

Hei kawan, bagaimana mungkin kamu tidak bisa menyayangi jendral sekeren ini?

Sungguh, jika kamu suatu saat lewat di jalan Soedirman di Jakarta, kemudian melihat patung sang Jendral besar, yakinlah. Tangan sang Jendral niscaya tidak akan pernah turun. Maka itu, jadilah orang yang layak diberi hormat oleh sang Jendral. Jendral yang menitipkan negeri yang begitu dicintainya ini kepada kamu. Dan jangan lupa…

Balaslah hormatnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: