Posted by: Black_Claw | March 14, 2017

Bule Jepang Itu On The Street

Masih ingat dengan bule Jepang yang ketemu dengan saya di Padolo dulu? Yang diajak ngomong bahasa Jepang balas pake bahasa Indonesia? Pas diajak ngomong bahasa Indonesia malah diem ga jawab apa-apa? Terus pas ketemu di tukang tambal ban ngajak ngomong pake bahasa Dompu, dijawab balik pake bahasa Dompu senyum terus diem ga jawab apa-apa? Yang bantu-bantu saya bersih-bersih di BCB? Terus terakhir nyangkut di Nanga Doro? Terus terakhir di bus bawa-bawa keris mantenan Jawa itu?

Saya ketemu lagi dengan dia, berarti ini enam kali.

Sebagai orang nasionalis kelas kakap yang kelewat cinta sama Indonesia, tentu makanan pokok saya tidak lain dan tidak bukan adalah Indomie. Demikianlah, saya berjalan pulang dari minimarket menenteng kresek berisi suplai nasionalisme saya, Indomie.

Dan itulah, saya kemudian mendengar suara dari grup pengamen di seberang jalan.

“Ku tuliskan kenangan tentang, caraaaku menemuuukan dirimu~!” Nyanyi vokalisnya sambil memetik gitar rompal penuh stiker, diiringi tabuhan gendang dari pipa paralon dan kecrekan botol air mineral dua orang kawannya.

Permainannya cakep, suaranya indah, maka saya mendekat. Saya suka pengamen yang mainnya niat. Saya melemparkan selembar lima ribu ke dalam tas gitar vokalisnya, yang dibiarkan terbuka. Beberapa koin dan lembaran kertas dua ribuan cukup yang terserak di tas gitar butut itu sudah cukup membuktikan mereka adalah pengamen yang layak didengar.

“Makasih bang…!” Ujar bocah berusia belasan tahun yang main kecrekan. Saya tersenyum, seraya bersender di tiang lampu merah tempat mereka mengamen, ingin mendengarkan lebih lama.

“Bila habis sudaaah waktu ini, tak lagi berpijaaak, pada duuuniaaa…” Genjrengan gitar yang tambah semangat, suara yang tambah penuh dengan penjiwaan, jelas ketiganya semakin semangat membawakan lagu Surat Cinta Untuk Starla milik Virgoun Putra Tambunan, vokalis grup Last Child itu.

Mungkin karena ada yang serius menonton permainan musik mereka, mungkin juga karena saya ngasihnya lima ribu. Saya nggak tau.

“Telah aku habiskan, sisa hidupku hanya untukmuuu~!”

“Hahaha… Ini lagu kisah hidup saya.” Tak sadar saya menggumam cukup keras.

“Ossu. Kisah hidup saya jugha.” Sambut sebuah suara dari sebelah kanan saya.

Fak, saya kenal logat itu. Terlalu kenal. Sangat amat terlalu kenal. Serentak saya menoleh.

“Yo aibo. Hisashiburi da ne…” Sahut sesosok pria nyengir berjaket kulit celana jeans belel, menenteng gitar di punggungnya, sedang tangan kirinya menenteng speaker monitor ampli portabel.

Tuh kan! Saya udah tau. Pasti dia ini yang punya logat Indonesia aneh itu.

“Hah! Kamu!” Ujar saya kaget. Masih trauma dengan kejadian keris palsu buat mantenan di bus waktu itu. “Bawa apa lagi kamu sekarang?!”

“Hah? Oh? Ini?” Ujarnya sambil mengangkat kresek putih di tangan kanannya. “Makanang pokok kita oran Indoneshyia. Indomie da yo.”

Nah, kan, saya bilang juga apa, makanan khasnya orang Indonesia itu… Eh tunggu! Maksud saya bukan kresek di tangan kanannya! Maksud saya gitar dan ampli yang ditentengnya itu! Dafuq dan sejak kapan kamu oran Indoneshy… Maksud saya orang Indonesia woi!

“Oh, ini?” Katanya sambil meletakkan ampli dan tas kresek Indomienya ke trotoar, kemudian memindahkan gitar listrik merk Ibanez dari punggung ke dekapannya.

“Kamu baru tau kan kalau aksuarri ayi em musisiong?” Sambungnya.

Iso ngomong Inggris cok?!

Sebelum sempat berkata apa-apa lagi, dengan cuek dia berujar ke grup pengamen itu.

“Saya ikut main, ya?” Katanya sambil melemparkan selembar sepuluh ribu ke tas gitar mereka.

Kon nyaingin duitku cok?!

“Iya misteeeerrr silahkaaan!” Sambut mereka serempak gembira.

“Mister janai yo. Mas, desu.” Katanya sambil nyolokin gitarnya ke ampli, kemudian menekan tombol on.

Mas ndyasmuw coook!

“Jreeeeengggg!” Suara overdrive gahar mencabik dari speaker ampli portabel itu. Tiga orang pengamen itu bertepuk tangan sambil sumringah. Saya pasang mulut ngangak.

“Ragu yang tadhi ya, yo wessu ranjuuut!” Ujarnya tanpa memperdulikan orang yang ngangak di depannya, yaitu saya. Dan mengalun sekali lagi lagu Surat Cinta Untuk Starla itu. Kali ini nuansanya jadi glam rock. Ini lagu mau jadi apa?

Surat Cinta Untuk Sutarura-chan?

Satu Nippon lu tatoin hesteg #virgoun aje noh sekalian.

“Aku suraru berpikiru tentan, inda hari tua berusamamu…!” Nyanyinya dengan penuh percaya diri.

“Tetap cantik rambut panjangmuuu, meskipun nanti tak hitam lagiii~!” Sambut suara koor tiga pengamen itu, tentunya dengan logat Indonesia yang baik dan benar.

Tapi hei, si Nippon ini bermain musik dengan indah. Dia nggak ikutan ngegenjreng kord utama, tapi mengisi genjrengan si pengamen yang vokalis. Tidak buruk. Tidak, bagus banget malah. Sepertinya ucapannya bahwa dia seorang musisi bukan sekedar bualan belaka. Saya bisa menikmati kolaborasi logat campur aduk mereka.

“Bira haabis sudaaaa…” belum sampai dia menyanyikan reff itu, mendadak ada pedagang minuman asongan lari ke arah kami. Bermacam jenis minuman di bakul gendongan yang didekapnya berguncang-guncang, sama seperti raut wajahnya yang juga terguncang.

“Pol PP! Pol PP!” Teriak si pedagang asongan.

Tanpa dikomando lagi, dua pengamen yang bawa gendang paralon sama kecrekan segera ambil langkah seribu.

Si vokalis menyambar tas gitar berisi uang kemudian ambil langkah seribu.

Si bule jepang menyambar ampli dan kresek Indomienya kemudian ambil langkah seribu.

Saya juga reflek ikut-ikutan ngambil langkah seribu.

Dan dari kejauhan, beberapa puluh meter di belakang kami, ada mobil pick up warna coklat ngepot, dan beberapa orang berseragam turun dari bak belakangnya. Mengejar kami.

Saat itu saya baru sadar.

Ngapain saya ikutan lari?

“Sudahrah, kamu sudah tururanjur rari. Nikmati saja.” Ujar si Nippon di samping saya sambil lari, seolah dia bisa membaca pikiran saya.

Rasanya saya langsung mau ngajuin lamaran jadi mentri, biar si Nippon ini bisa saya deportasi.

“Biraaa musim burugaaantiiii… Sampai waktu teruheeeentiii…”” nyanyinya sambil lari.

“Woi! Kamu masih mau nyanyi? Di sini cuma ada hujan sama kemarau! Koko wa Indonesia dakara konna yaro!” Teriak saya.

“Murai dunya membeeenciii…” Dia cuek.

“Yang benci kita sekompi Pol PP sekarang!” Sambut saya.

“Ku kan tetap di siiiiniii…” Dia tetap cuek.

Saya mau teriak pulang sanah ke Nippon tapi nggak jadi. Udah nggak kuat, bahaya kehabisan napas.

“Bira habis sudaaah, waktu ini, sekai o nokooo, shimasu yooo…” Sambungnya lagi, tidak melanjutkan, kemudian menoleh ke arah saya, masang tampang minta saya ikutan nyanyi.

Saya pusing, bo huat, setres, entahlah bagaimana menggambarkannya, jadi saya menyerah. Apalah awak ni. Saya menarik napas…

“Dakara kono ai de, tsu-i-yashite kimashita neee~!” Dengan napas tersengal saya bernyanyi.

“Naissu.” Katanya sambil nyengir ngacungin jempol sementara suara pluit Pol PP masih santer di belakang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: