Posted by: Black_Claw | November 26, 2017

Cinta Dan Kesatrianya Seorang Rahwana

Kamu kenal Rahwana?

Nama lainnya prabu Dasamuka. Nama yang berarti sepuluh muka. Ia berdarah campuran, Raksasa dan Brahmana. Sering bertapa, disukai dewa-dewa, sehingga ia menjadi sakti mandraguna. Sungguh, Rahwana adalah pribadi yang setia, jujur dan apa adanya. Semua orang punya banyak muka, tetapi disembunyikan. Sepuluh muka Rahwana, olehnya selalu ditampakkan.

Seumur hidupnya, Rahwana hanya mencintai satu wanita, Dewi Setyawati namanya. Itulah mengapa saat kemudian sang dewi meninggal dan kemudian menitis ke dewi Sinta, rasa di hati Rahwana tidak sedikitpun sirna. Hingga akhirnya sang waktu mempertemukannya dengan Sinta, yang sayangnya sudah menjadi istri Rama, raja Ayodya. Itupun karena Rama memenangkannya dari sayembara.

Rahwana bisa merelakannya, atau merebutnya dengan taruhan nyawa. Mungkin, satu-satunya kesalahan Rahwana adalah memilih yang kedua. Diculiknya Sinta dan dibawanya ke Alengka. Selama tiga tahun, Sinta diperlakukan bagai ratu olehnya. Ia bisa saja memaksa atau bahkan memperkosa Sinta, tapi tak pernahlah ia melakukannya. Baginya, cinta sejati tak butuh dipaksa.

Setiap hari, didatanginya Sinta dengan beragam puisi. Dia selalu minta maaf karena telah menculiknya. Semua itu dilakukan semata mata karena cinta. Karena inginnya ia menjadikan Sinta sebagai istri, sebagai permaisuri.

Dia pun tak pernah menyentuhnya. Menunggu. Menunggu adalah hal terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya. Harapannya sang dewi mencintainya sepenuh hati, suatu saat nanti. Entah kapan. Meski ia tahu benar bahwa titisan Dewi Setyawati itu dilahirkan sebagai wanita setia. Padahal ia tahu, takkan berpalinglah Sinta dari suaminya.

Suami, yang bahkan curiga, jangan-jangan Sinta telah dinodai Rahwana. Hingga akhirnya, Sinta nekat membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke bara api. Api yang tak bisa membakarnya, karena Sinta masih suci. Barulah setelah itu Rama baru mau menerimanya kembali.

Sementara bagi Rahwana, Sinta ternoda atau tidak, dia tetap akan mencintainya.

Dan Rahwana kalah.

Kamu tahu, Rahwana diberikan anugrah oleh dewata. Ia tidak bisa dibunuh oleh mahluk apapun selain manusia. Itulah mengapa panah Rama, yang merupakan titisan Wisnu, hanya melenyapkan raganya saja. Sukmanya tidak. Sukmanya abadi, tidak bisa mati. Sukmanya menitis di tiap-tiap ujung pena mereka yang melahirkan puisi. Berharap, mungkin titisan Dewi Setyawati, Sinta berikutnya, sempat membaca isi hatinya.

Dan terkadang, kamu akan mendengar suara bisikan sukmanya, yang terawang-awang antara langit dan bumi, menunggu kesempatan ia menitis kembali.

“Padahal, segunung apapun diamku merenung, tak mungkin sampai pada pemahaman mengapa aku mencintaimu.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: