Posted by: Black_Claw | December 6, 2017

Sri Aryani Yang Saya Lihat

Cewek yang dilingkari merah ini bernama Yani. Sisanya yang lain di foto itu adalah adiknya, sepupunya, keponakannya, keluarganya lah. Termasuk suaminya. Yani ini teman saya dari kecil. Dia cewek pertama yang datang ke rumah saya. Waktu itu, kami masih SD, dan dia datang untuk kerja kelompok. Intinya, nasib mempertemukan saya dengan Yani di usia dini, sehingga dia menggondol banyak sekali predikat ‘Cewek Pertama Yang’ dalam hidup saya, padahal pacar aja bukan. Brengsek banget itu kan…

Nah, yang sekelompok sama saya ada satu lagi waktu SD. Namanya Edi. Edi ini bukan satu kelompok belajar, melainkan satu kelompok AASYKS-BJ, Asosiasi Anak Sekolahdasar Yang Ke Sekolah Buat Jualan. Jadi dulu, saya di kelas jualan gimbot kertas buat uang jajan. Kalau Edi jualan pisang goreng, pastel, es mambo, dan segala macam jajanan pasar buatan mamanya buat biaya sekolah.

Yah, itu masih lebih mendinglah dibanding teman kami yang namanya Opin. Opin jualannya rokok buat beli rokok lagi. Saya masih gagal paham sama metode bisnisnya sampe sekarang.

Waktu berlalu, dan Yani menikah dengan mas Dimas yang darah Jawa besar di Jakarta. Mas Dimas yang PNS, mendapat tugas belajar di Australia, maka diboyonglah Yani ke sana.

Edi, yang setelah berjuang banting tulang kerja jadi tukang ngerapiin kertas suara di KPU Dompu kemudian banting setir jadi resepsionis kantor Pos, baru saja berhasil beli smartphone android Cina sampul Indonesia, iseng ngeliat-liat fotonya Yani di Australi lewat instagram.

Sore itu, saya dan dia lagi nongkrong di Bada, Dompu. Di pinggir gang setapak yang membelah Kampung Bugis.

“Super romo, mori nawa lengaku ke. Semoga berkah selalu hidupnya.” Mendadak tercetus doa Edi dalam bahasa Dompu.

Saya teringat dengan ucapan Noris, teman SD kami yang lain, waktu memaksa saya membaca buku Laskar Pelangi.

“Kamu tau, Noris pernah bilang sama saya, Ed. Pas nyuruh baca Laskar Pelangi. Katanya itu buku mirip sama hidup kita.” Ujar saya ke Edi.

“Au Blek? Laskar Pelangi ma terkenal ede ro?” Sahut Edi.

“Iya. Noris benar tentang buku dan film itu. Dan buku-buku sejenislah, macam Negeri Lima Menara dan bangsa-bangsanya.” Tegas saya, kemudian menyambung, “Au karakter utamanya itu si Yani. Dia udah nikah, bertualang ke luar negeri, ya kan?”

“Ha, ncihi ni, terus apa ku kita ni?” Tanya Edi.

“Kita re, karakter pembantu. Misalnya kamu. Kamu itu, yaaa… au pohon pisang di halaman empat re.”

“Hahaha emang ada pohon pisang di halaman empat Blek?” Edi tertawa mendengar ucapan saya.

“Yak, sebuah lagu untuk lenga nahu la Yani…” Edi menghela napas sesaat kemudian bernyanyi. “Bebaaaskan mimpiiimu di Jaaakartaaa, bersuuuami ooorang Jawaaa…”

“Hahaha, epic rawa ede ni Ed!” Tawa saya mendengar Laskar Pelangi versi Edi.

“Sambung Blek!”

“Dan ke Australiaaa…!”

Mendadak smartphone Edi berdering, nomernya terlihat asing, kode negaranya pun asing. Edi menjawab panggilan itu.

“Halo?”

“Halo? Eh Edi, bune haba mu?” Ujar suara di telepon. “Ini Yani!”

“Hahahaideee, baru kita ngomongin kamu, Yani.” Jawab edi, kemudian menyambung ucapannya.

“Laskar Pelangi ita re? Saya ke pohon pisang.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: