Posted by: Black_Claw | December 11, 2017

If You Can Drift In Indonesia, You Can Drift Anywhere In The World

Teman lama saya dari forum otomotif datang ke Indonesia. Saya datang menjemputnya di bandara. Ini kunjungannya yang pertama ke Indonesia, jadi ketimbang dia dibikin bangkrut ama taksi-taksi gelap bertemplet ‘transport sir ai gif yu gud prais sir’ itu, mending saya saja yang nganterin. Ntar kalau bangkrut, bisa-bisa dia ga bisa pulang ke negerinya di Jepang sana, dan malah jadi gembel di Jakarta.

Syahdan, dia datang untuk berjalan-jalan, sekaligus mau menyambangi makam kakeknya di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Rupanya kakeknya adalah salah satu dari sekian banyak tentara Dai Nippon yang menolak untuk dipulangkan ke Jepang pasca kekalahan Jepang atas Sekutu, dan memilih untuk tetap memenuhi janji untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Makanya, beliau bisa dimakamkan di Kalibata.

Jadilah saya menungguinya di depan gerbang terminal kedatangan bandar udara internasional Soekarno-Hatta.

Akhirnya saya melihatnya, menenteng tas olahraga besar yang mungkin berisi pakaian, dan tangan satunya menggenggam berkas-berkas urusan lintas negara. Visa, paspor, dan semacamnya. Saya tersenyum dan melambaikan tangan. Dia sudah pernah melihat muka saya lewat foto, dan meski dia mengenakan topi baseball kebesaran yang menutupi setengah mukanya, saya tau dia orang yang saya tunggu.

Cowok yang pake kawos tshirt dipadukan dengan celana pendek di atas lutut dan sendal jepit di Indonesia kemungkinannya cuma dua. Engko-engko Glodok, atau bule Jepang nyasar. Dan saya lagi nggak di Pasar Pagi Mangga Dua.

“Oi, Sasaki!” Seru saya sedikit keras sembari melambaikan tangan ke arahnya. “Kochi yo, kochi!”

Dia mempercepat langkahnya ke arah saya. Setengah berlari, sempat hampir menabrak mbak-mbak pramugari, membungkuk mohon maaf dua kali, kembali berlari, kemudian menjabat tangan saya.

“Touge wa doko?” Katanya, tersenyum lebar. “Kimi no Kansai duraifuto o misete.”

Saya tertegun. Touge, adalah mountain pass. Jalan memotong gunung, jalan puncak lah. Dulu, waktu di Dompu, saya sering ngerekam kalo pas nyupir ngelewatin mountain pass paling indah di Dompu. Namanya Nanga Tumpu. Jalannya berkelok-kelok naik dan turun. Salah satu sisinya menghadap teluk Saleh, sementara sisi lainnya gunung dengan hutan yang rimbun. Kurang Indah apa tempat itu? Makanya, saya dulu sering mamerin video ngedrift di forum, diambil di Nanga Tumpu. Kamu tau drifting? Itu loh, yang sering dibilang orang mobil ngepot.

Nah, secara mobil yang sering saya pakai dulu itu rata-rata front wheel drive, penggerak roda depan, supaya bisa ngedrift ya cuma bisa pake Feint Drift, alias Inertia Drift, alias Kansai Duraifuto. Jadi, misalnya saat tikungannya ke kiri, setir mobil dibanting dulu ke kanan, kemudian secepat mungkin dibanting lagi ke kiri. Karena beban keseluruhan kendaraan pindah ke belakang akibat inersia, roda belakang akan kehilangan cengkramannya di jalan dan mulai ngesot ke kanan. Saat itu terjadi, setir mobil dibanting lagi ke kanan untuk menyeimbangkan. Maka, mobil itu akan otomatis ngepot, sliding sepanjang belokan.

Makanya saya bingung, gimana dia mau ngeliat saya ngedrift. Di Jakarta ini mana ada mountain pass. Paling deket itu puncak Bogor. Itupun macetnya gila-gilaan buat ke sana. Bisa habislah duit saya buat beli bensin ke sana cuma nyari tikungan. Jadi, saya ajaklah si Sasaki ke tikungan yang lebih dompet friendly. Gule Tikungan di Blok M.

“Kiite ya, Sasaki…” Kata saya selesai makan. “Mountain pass di sini jaraknya puluhan kilo dari sini. Bagaimana kalau kita jalan-jalan di dalam kota saja, abis itu kamu saya antar ke hotel. Sudah malam, nggak semacet tadi pas keluar bandara.”

“So yo. Sou ga nai yo ne. Saya juga sudah capek kena macet tadi.” Katanya sembari meletakkan piring gulenya yang ketiga. Rupanya macet membuat tikungan ini jadi nggak dompet friendly.

Maka, berjalan-jalanlah kami malam itu muter-muter ke arah Monas, balik lewat Tenabang, dan menuju ke arah Kalibata tempat hotelnya berada.

“Ah, dari tadi dengernya radio. Saya ganti ke mp3, ya?” Kata Sasaki sambil ngutak-ngatik double din mobil, kemudian memilih playlist berjudul etnik, dan memilih salah satu lagu di playlist itu. Mardalan Au Marsada, Vicky Sianipar feat Korem Sihombing ciptaan Tilhang Gultom dari tanah Batak nun jauh di Sumatera Utara sana.

Secara sudah malam dan sepi, saya memilih untuk naik di flyover jalan Prof. Dr. Satrio yang ngarah ke Kasablanka. Lumayan, pemandangannya bagus kalau malam, pikir saya.

Mengalunlah irama suling Batak syahdu nan lembut dari speaker mobil, mengiringi mobil yang mulai menanjaki flyover Dr. Satrio.

“Mardaaalan au, marsaada-saada, laooos di laaang lang iii do au…” Suara Korem Sihombing mulai bernyanyi.

“Naka-naka ii ne…” Sasaki memuji. Rupanya cocoklah lagu itu dengan pemandangan kota dari atas flyover di waktu malam.

“So ya, suling Batak wa saiko.” Jawab saya sembari memasukkan gigi lima, dan derum halus mobil seolah mengabarkan city car front wheel drive bermerek Daihatsu itu ikut mengiyakan bahagia.

“Uluuushon uluuushon ulushon au alogo. Sahat tu huta niii dainang, di luat naaa dao…” Korem Sihombing masih bernyanyi, sementara Sasaki menikmati pemandangan malam Jakarta. Adoring city light biar kekinian.

Mobil mulai memasuki tikungan panjang di depan Lotte Shopping Avenue. Saya memutar perlahan setir, memantapkan posisi mobil di lajur dalam tikungan ke arah kiri.

“Kamu tau.” Sasaki bergumam. “Tikungan ini sebenarny bakal enak dipake buat nge…”

Belum sempat dia menyelesaikan omongannya, mendadak muncullah sosok mengerikan di depan mobil malam itu. Dua orang cabe-cabean dan satu terong-terongan parkir motor di bagian dalam tikungan lagi selfie pake tongsis.

Motor memang tidak boleh naik flyover, bro. Tapi darah muda kata Rhoma Irama.

Refleks saya membanting setir ke kanan menghindari mereka, kemudian membanting setir ke kiri agar tidak menabrak pembatas jalan, dan membanting setir ke kanan untuk menyeimbangkan mobil. Maka ngepotlah mobil Daihatsu itu sepanjang tikungan. Mobil kecil itu ngedrift. Feint drift. Inertia drift.

Kansai Duraifuto.

“Ccckkieeeeettttt…!!!” Suara keras decit ban ngepot di aspal.

“Driiiiiiiiiii…!!!” Suara Sasaki latah antara ngelanjutin omongan dan teriak kaget.

“Ue dainang, ue dainang, ueee ee eeee…” Suara Korem Sihombing tetap tenang bernyanyi dari speaker mobil.

“Skrittt!” Ban mobil kembali stabil, berhenti ngedrift. Sasaki terdiam. Saya menurunkan jendela, membiarkan angin masuk, sambil melemaskan otot yang mendadak pegel setelah banting setir tiga kali mobil yang stirnya beratnya amit-amit karena nggak pake power steering.

“Sa… Sa… Saki wa nani?” Tanya Sasaki terbata-bata. Saya meliriknya, mukanya pucat pasi. Saya tersenyum, dan menjawab.

“Cabe-cabean duraifuto da. Indonesia ni youkoso.”

“Na jou, jou ooooon…” Korem Sihombing mengakhiri lagunya, dan mobil melaju mengarah ke Kalibata.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: