Posted by: Black_Claw | January 29, 2018

Satu Langit

Saya suka memandang langit, dari kecil. Ada rasa damai di situ. Saya merasa masalah saya, sebesar apapun, adalah kecil di hadapan semesta. Jadi, saya bisa tersenyum. Langit memang menentramkan.

Apalagi, jika saya bisa memandangnya sampai horizon. Gradiasinya dari biru muda ke pekat yang kadang bersembunyi di balik awan saat siang, atau bulan berteman hamparan bintang saat malam. Jika itu kota, maka adalah awan sepetak dua petak temaram memantulkan cahaya lampu di bawahnya yang sesekali diiringi kedipan lampu pesawat terbang. Saat subuh atau senja, maka seluas pandang diisi semburat jingga.

Dulu, sebelas tahun lalu, di Cyber Building Mampang, saya dikasihin anime oleh teman saya. Dwi Wahyono. Judul anime yang dia kasih itu Sola.

Di anime itu, ada sepenggal dialog. Maknanya, dimanapun itu, walau langit yang kupandang beda dan langit yang kau pandang beda, satu langit yang kita lihat.

Saya akhirnya jadi sering menggunakannya. Sepertinya sekarang kalimat itu jadi terkenal.

Baguslah.

Mungkin saja dia, saat ini, sedang memandang langit. Tentulah menyenangkan memandang hal yang sama dengan seseorang yang kamu sayang, bukan?

Hai… Apa kabar?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: