Posted by: Black_Claw | September 30, 2018

Dulu Namanya Samalas

“Warnanen kang munggeng palowan, sami larut lawan ratu hing nguni, hasangidan ya riku, hing Lombok goku medah, genep pitung dina punang gentuh, nulih hangumah desa, hing preneha siji-siji.”

Halo. Saya lagi di pelabuhan Kayangan di Lombok. Mau nyebrang ke pulau #Sumbawa. Nah, kamu lihat #gunung di latar belakang itu? Besar, ya? Dan megah. Namanya gunung #Rinjani. Dulu, tahun 1257, namanya gunung #Samalas. Samalas yang tingginya lebih dari empat kilometer itu kemudian meletus.

“Semua mengungsi dengan ratunya, berlindung mereka di situ, di Lombok tempatnya diam, genap tujuh hari gempa itu, lalu membangun desa, di tempatnya masing-masing.”

Kamu tau, di Nusa Tenggara Barat itu, pulaunya kecil-kecil, cuma seperlimanya Jawa, tapi gunung apinya ada tiga. Volcano aktif semua. Sangiang, Rinjani, dan #ambora. Udah tau kayak gitu, masih berani ditinggali. Kampung halamannya disayang-sayang, lagi.

Sekarang, karena gempa di #Lombok kemarin, Rinjani ditutup mungkin sampai tahun depan. Cuma, entah kenapa saya yakin masih banyak anak-anak sini yang naik, berkunjung ke puncaknya. Bersih-bersih sampah atau semacamnya. Lasing pagah praye side heb, dou Dompu deka si re tele ngame.

Demikian nynyiran bibir jilat ludah saya siang ini, orang NTB yang entah kenapa kok masih juga datang ke kepulauan Sunda Kecil bagian barat bernama Bumi Gogo Rancah. Bumi yang lagunya… Ah, apa itu? Saya rada lupa.

Bak permata, berkilau dan bersahaja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: