Posted by: Black_Claw | May 2, 2019

Android Dan Jambret

Ah, karena kebetulan hape saya baru dijambret, saya jadi ingin menulis tentang ini.

Apa yang akan dilakukan oleh maling pertama kali saat nyolong hape kamu?

Saat kamu kena copet, yang pertama kali dilakukan oleh tukang colong kebanyakan adalah mematikan hape kamu. Kenapa? Karena ini akan membuat hape kamu tidak bisa dilacak sama sekali. Baterainya dilepas, dan… Sudah, selesai. Hape kamu nanti diflash ulang, kemudian dijual lagi.

Kemudian, di era keinian, banyak hape yang baterainya ada di dalam body dan nggak bisa dilepas dengan gampang. Entah dengan obeng heksagram, atau blower panas. Ini membuat hape bisa punya fitur yang… Er… Secure lah marketing gimmicknya. Jadi, karena yang dilakukan maling pertama kali adalah matiin hape kamu dan dia bakal susah ngebongkar baterai untuk ngelepas hape, fitur power off di hape kamu dikasiin password.

Jadi, kalau hape kamu mau dimatiin, kudu masukin pin dulu. Teorinya, selama hape yang dicolong ga mati, lokasi hape masih bisa ditracking, dan hape masih bisa punya waktu untuk diremote oleh korban untuk dihapus data-data yang penting dan pribadinya. Hape-hape kelas flagship punya fitur ini. Saya dulu punya Samsung Galaxy S7, dan fitur ini sempat saya iseng-iseng pake.

Kemudian saya sadar, fitur ini masih bisa dengan gampang dibypass. Kombinasi tombol power dan volume bisa dipakai untuk memaksa hape mati, dan saat reboot, diberikan lagi kombinasi untuk masuk ke safe mode, download mode, atau bootloader. Hape jadi nggak bisa masuk ke mode full untuk ditracking atau diremote. Cara lain adalah dengan ngebawa jarum pentul buat mencet saklar reset yang ada di hape. Tombol yang ditekan ini memang disediakan untuk teknisi buat keperluan ngebenarin hape yang ngehang, nggak bisa-bisa mati. Di Xperia z3 plus, misalnya. Warnanya kuning dekat slot sim card. Digabung dengan tehnik ngebuang sim card, hape bisa dipastikan lolos ke tangan penadah. Secara hardware, sebuah hape memang dirancang agar bisa dimatiin.

Saya dulu sempat berpikir, sebenarnya fitur password power off ini bisa dikembangkan agar lebih mempermudah dalam proses security. Caranya adalah dengan menggunakan social engineering.

Jadi, saat hape ingin dishutdown, menu pin password akan muncul, dan tidak bisa dibatalkan. Hanya ada tombol OK. Menu pin password ini juga akan muncul saat menu flight mode / airplane mode / offline mode dinyalakan, atau saat data cellular, paket data, dimatikan. Jadi, mau nggak mau, hape ini akan dipaksa untuk tetap bisa konek untuk ditracking atau diremote. Yang pasti, di pikiran pertama pelaku adalah nekan tombol OK.

Jika pin dimasukkan dengan benar, hape shutdown.

Saat pin atau password salah dimasukkan, atau tidak dimasukkan sama sekali, maka hape akan memutar animasi shutdown, padahal sebenarnya hape nggak shutdown, tapi pindah ke mode lain. Mode yang layarnya mati, LED indikatornya mati, tapi paket data dan GPSnya on terus. Pelaku akan berpikir hape sudah berhasil dia matikan, padahal sebenarnya hape masih bisa seenaknya ditracking dan diremote. Fitur multi mode ini sangat mungkin dilakukan mengingat hape-hape banyak yang dual profile mode. Mode ultra hemat baterai pada Samsung Galaxy misalnya. Itu bahkan desktop managernya beda.

Bonus point jika hape dirancang dengan animasi shutdown warna putih dengan brightness full, supaya bisa menerangi wajah pelaku buat difoto, dan saat LCD hape nantinya mati, hape akan mengirimkannya ke email korban. Lumayan kan, buat database setoran kepolisian. Hapenya masih bisa diremote, loh. Dan history locationnya bisa diakses di google maps.

Lalu kenapa hal ini tidak dilakukan oleh para pembuat hape yang pintar-pintar itu? Fitur ini sangat gampang sekali diimplementasikan. Secara software aja, shutdown berpassword bisa dibikinin sama pihak ketiga dan aplikasinya ada di store. Masa yang punya akses langsung ke desain hardware macam perusahaan gede mbahnya yang bikin nggak bisa?

Jadi gini.

Kalaupun ini diimplementasikan, semua copet, jambret, maling, dan rekan-rekan seperjuangannya paling tinggal bawa faraday bag swadaya. Bikinan rumahan, gitu. Beli barangnya di esharwer. Begitu hape kamu dicolong, hape kamu dimasukin ke tas ini, dan semua sinyalnya keblok, binasa, tidak terdeteksi, tidak bisa diremote. Tinggal ditunggu deh ampe baterenya abis. Abis itu diflash, terus dijual ke penadah.

Udah nambah-nambah kode, ubah desain hardware, eeh… Dicounter cuma pake kantong menyan. Apa nggak amsyong?

Terus gimana dong Blek, supaya hape kita aman dan tingkat kriminalitas bisa ditekan?

Emmm… Gimana ya?

Ah, gini deh. Kita kan bangsa Indonesia. Bangsa yang overnasionalis sama negeri sendiri tapi suka rasis sama suku lain itu, lho… Tau kan? Nah, dasar negara kita itu Pancasila. Kalau Pancasila ini benar-benar diamalkan dengan baik, efeknya juga pasti oke punya. Coba kita lihat sila nomer 5 dari dasar negara kita yaitu Pancasila ini.

Lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Nah, yang dikejar sama negara kita saat ini bukan keadilan tapi kemakmuran. Ini yang agak melenceng dari Pancasila. Pancasila nggak masukin makmur loh. Bahkan kalau kamu sekarang buka wikipedia terus nyari artikel pancasila dan kamu search kata makmur di artikel itu, kamu nggak bakal nemu. Ini bukan salahnya uda Ivan Lanin. Pancasila emang gitu.

Adil itu nggak ada hubungannya sama makmur. Adil itu, gimana ya? Ya kalau duitnya cuma seribu, orangnya ada empat, ya masing-masing dapat nopek go. Makmur? Nggak ada cerita. Kalau adil, pasti iya.

Kalau makmur yang dikejar, pasti ada yang strata sosialnya njomplang. Nah, yang di strata paling bawah makmurnya ini, pasti idupnya lebih sulit ketimbang yang di atas. Rem utama dari melakukan tindakan jahat itu rasa malu. Bisa malu sama orang, sama leluhur, atau sama Tuhan. Ini yang membuat orang yang nggak makmur bakal gampang tangannya. Mau malu sama siapa, lha wong setiap hari udah dipandang rendah sama yang lebih makmur, kok. Yang penting bisa hidup, apa aja tak lakoni. Nyolong halal.

Makanya, bener kata teman saya, si Hans Xu. Mungkin yang ngejambret saya lagi perlu uang buat beli susu anaknya.

Atau susu yang lain.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: