Posted by: Black_Claw | March 30, 2020

Abu Sayyaf

“Sepuluh awak kapal Indonesia disandera oleh grup Abu Sayyaf, yang meminta tebusan empat belas miliar…” suara penyiar berita di televisi mengabarkan.

Seandainya saya punya stasiun televisi seperti Harry Tanosudibyo, niscaya saya jadiin orang tua saya komentator berita. Soalnya, komentator bola terlalu mainstream.

“Chou si Abu Sayyaf? Sengaja dia orang bikin nama Abu Sayyaf supaya orang takut, pikirnya hah? 14 miliar warisan bapaknya? Pengen saya liat mukanya…” Kata bapak saya dengan dialeknya yang khas, ekspresi meremehkan, dan muka yang ngangkat dagu.

“Coba suruh datang saja orang-orang ke lereng Tambora, biar rasa diberondong sama Automat Kalashnikovnya petani di sana.” Sambungnya lagi.

Mendengar itu, ibu saya, yang sedang ngiris-ngiris buah Mengkudu, dengan dingin menimpali.

“Sarap…”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: