Posted by: Black_Claw | May 31, 2020

Kawan Saya Dipukul Mitra Grab

Teman saya tadi whatsapp, nanya tentang email Grab. Saya nggak tau kenapa. Setelah buka facebook, baru tau. Ternyata dia dipukul sama mitra Grab.

Jadi, tadi pas di perempatan, ada mitra Grab yang nyelonong melanggar. Kawan saya mengangkat tangannya untuk mengingatkan. Tidak mengepal atau mengacungkan jari tengah. Nah, si mitra Grab ini nggak suka. Ia kemudian berbalik, turun dari motor, kemudian mendorong kawan saya.

Mendadak, ada bapak-bapak jaket Biru entah dari mana yang ikutan dorong-dorong. Saat reflek ditepis oleh kawan saya, dia membentak. “Lu cina mau apa, hah?!”

Kemudian, tempat tersebut jadi rame oleh ojol, dan si bapak baju Biru ini tetap membentak dengan ucapan cina, yang membuat sebagian kerumunan tersebut ikut-ikutan.

Akhirnya, karena didorong, kawan saya ini jatuh. Saat dia bangun, mitra Grab yang melanggar aturan lalu-lintas itu memukulnya. Setelah itu, mitra Grab dan bapak jaket biru yang teriak-teriak cinta itu pergi naik motor masing-masing.

Menurut saya, baiknya dilaporkan ke polisi. Setelah itu ke Grab. Melaporkan itu harus, dan bukti laporannya dipublish saja.

Nomor polisinya juga publish aja, mengingat provokator berjaket biru itu juga bukan mitra Grab. Jadi mungkin ada yang kenal kalau dipublish. Ini memudahkan pelacakan.

Jadi, walau sudah lapor juga, harus tetap diviralkan. Kalau kasusnya viral, lebih gampang terungkap dan terselesaikan. Pokoknya, ada apa-apa, lapor. Jangan jiper duluan, bakal jadi bumerang, atau semacamnya. Positif thinking saja. Saya pribadi, kalau ada kejadian apa-apa, selalu lapor dulu.

Ah ya, terakhir awal tahun kemarin, saya ke polsek. Tas saya beserta STNK, SIM, dan HP dicolong orang. Jadi saya melaporkan kehilangan barang. Setelah selesai mengetik surat, polisinya nanya. “Aslinya bukan orang sini, ya?”

Saya jawab, “Iya, bukan. Saya orang Dompu.”

Polisinya malah tambah tersenyum penuh arti, “Maksudnya, aslinya itu, bukan asli sini, kan?”

Kan saya mumet ya, jadi saya bilang, “Wis ta la pak, wes ngelu ndasku saiki.”

Polisinya senyum, laporan diterima. Nggak macam-macam kok. Mungkin sebenarnya yang diperlukan itu cuma bahasa Jawa aja.

Jadi, yuk lapor polisi. Mau saya temani? 😉


Responses

  1. Duh… Mau nangis rasanya sampai sekarang masih ada yang rasis kayak gitu.

    Like

    • Saya rasa, selama masih ada yang manggil mas, pak, kak, koh, bang, berdasarkan mukanya, itu akan tetap ada. Mungkin perlu dicanangkan berdamai dengan rasis, bukan dengan Corona saja. 😀

      Liked by 1 person

      • Tul juga. Ini juga bikin saya introspeksi… 🙂

        Like

  2. disini anti china di Us lagi anti negro, dunia udah mulai ngaco..yuk cari tempat kumpul atau dunia lain biar ada kesamaan :))

    Like

    • Oh, onok mas. Kui jenenge ISEKAI. Googling ae. =))

      Liked by 1 person

      • wkwkkwk

        Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: