Posted by: Black_Claw | June 20, 2020

Bisa Jadi Kamu Depresi

Merasa biasa-biasa aja tapi susah tidur? Merasa mati itu gampang? Mungkin kamu …. Depresi. Cuma ga sadar aja.

Ini biasanya gejalanya jadi overthinking. Bahasa Indonesianya cemas. Kebetulan saya pengalaman sama masalah tersebut, hitungannya tahunan. πŸ™‚

Rasa cemas ini muncul karena tanpa sadar, otak seseorang memikirkan masalah terkait masa lalunya yang mungkin buruk, atau masa depannya yang baginya menakutkan dan terlihat suram.

Iya, beneran ga sadar, jadi orangnya sering merasa nggak mikirin apa-apa, tapi sebenarnya otaknya ngolah semuanya, sehingga muncul gangguan tidur tersebut.

Paling sering hal ini muncul, karena membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa gagal. Orang lain udah menikah, kawan udah kuliah, temen udah kerja dan hidup stabil, macamlah.

Ada perasaan kosong di batin yang muncul karena hal tersebut, dan akhirnya tertanam di bawah sadar. Bangkenya, begitu tubuh mulai rileks, misalnya pas mau tidur, hal tersebut malah diproses oleh otak.

Bangke kan?

Cara ngilanginnya itu dengan cara memproyeksikan masalah-masalah yang kamu alami ke media lain. Gimana itu?

Mayoritas orang, dengan cara ngobrol. Dia ngomongin masalahnya ke orang lain. Masalahnya dia, dia proyeksikan melalui omongan. Ini membuat alam bawah sadarnya merasa masalah tersebut tidak perlu diproses lagi karena sudah diutarakan. Jadi lebih nyante.

Logikanya sama seperti kamu nembak cewek.

Selama kamu belum nembak, kamu pasti kepikiran mulu. Kalau kamu sudah nembak, mau diterima atau nggak, kamu pasti akan lebih plong.

Itulah caranya melepas depresi overthinking. Dengan memproyeksikan masalahmu ke sebuah media.

Itulah mengapa ada bilik pengakuan dosa di gereja.
Itulah mengapa banyak yang menyarankan untuk shalat, kemudian ‘curhat’, ke Allah, lewat doa.

Ke bilik pengakuan dosa atau shalat, ini dilakukan oleh mereka yang tertutup. Yang pride dalam hatinya tinggi, sehingga malu untuk mengatakan ke orang lain.

Lewat bilik pengakuan dosa, ia merasa aman karena kerahasiaan dirinya terjamin. Atau saat shalat, dia bisa menangis sejadinya pada Allah tanpa perlu malu dengan orang lain.

Ini syah-syah aja.

Lalu gimana buat mereka yang ga percaya sama Tuhan?

Bagi mereka yang seperti itu, bisa dengan menuliskan masalahnya di kertas, atau di hape. Sama seperti orang zaman dulu, mereka menulis di diary.

Serius, ibu saya punya banyak tulisan di buku hariannya waktu dia muda, kemudian awal-awal menikah. Saya baru tau manfaatnya baru-baru ini. Ibu saya nggak pernah bilang.

Sekarang, media ibu saya sudah bukan buku harian lagi, tetapi ibadah. Bapak saya juga begitu. Akhirnya, mereka menjadi couple give no shit enjoy everyday se-Dompu. Intinya ya itu, memproyeksikan semua masalah ke media lain di luar otak.

Saya sendiri ngeliat, lebih baik ngomong ke orang lain kalau ada nemu masalah. Soalnya, bisa jadi ada jawaban langsung dari masalahmu di orang tersebut.

Mana tau, dia pernah mengalaminya. Jadi, kamu melepas beban otak sembari menemukan solusi. Barulah setelah itu, silahkan kalau mau dilanjut dengan berdoa. Itu lebih baik, biar tenangnya dobel.

Oh ya, credit untuk temen saya, Peter, yang membuat saya menyadari hal ini lewat ucapannya. “Lek aku diem-diem ae, wes modyar aku cuk.” Katanya waktu saya tanya apakah curhat itu berarti lembek.

Orang yang “curhat”nya hanya ke Tuhan, bukan ke manusia, itu bukan berarti dia tegar. Dia cuma orang yang tertutup.

Cuma, mungkin, dia ga sadar. Sehingga sering kali, tumbuh rasa ‘bangga’ yang salah di hatinya, mengira dia tegar.

Padahal, tiap orang itu beda-beda, kok! πŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: