Posted by: Black_Claw | July 23, 2020

Teroris Cukup Modal HP Udah Bisa Pake Kecerdasan Buatan

Saya jadi keingat. Kemarin, pas webinarnya Jasakom, pak Budi Raharjo sempat ngomong. Jangan lupa belajar A.I.

Artificial Intelligence.

Eh, tunggu. Buat yang masih nanya siapa sih Budi Raharjo itu, oke. Beliau itu salah satu orang yang merintis internet di Indonesia.

Oke. Kembali tentang A.I. Artificial Intelligence. Kecerdasan buatan.

Kalau saya ngomong A.I. jangan repot membayangkan segala macam data dan kodingan. Nggak kok. Nggak seribet itu kalau cuma membayangkan kondisi lapangannya. Memang betul, ada A.I. yang dipakai untuk mengolah data, menemukan algoritma, dan segala macam kerumitan lainnya, tapi contoh sederhana penetrasi A.I. ini dekat banget kok, dengan masyarakat.

Sadar atau tidak, kita sering banget menemukan A.I. ini di HP. Beauty cam dan sejenisnya, menggunakan kecerdasan buatan untuk menentukan bagian tubuh manusia dari sebuah citra. Dari sebuah gambar. Buat apa? Buat diputihin. Hidungnya dibagusin. Matanya dibikin lebih berbinar-binar. Macamlah, buat kecantikan.

Seiring dengan perkembangan teknologi, A.I. ini sekarang ga perlu komputer kita yang canggih-canggih amat. Cukup HP saja. Pemrosesan datanya? Di cloud. Jadi, data dari HP, dikirimkan ke cloud server untuk diproses. Hasilnya nanti dikirimkan lagi ke HP kita. Resourcenya kecil, semua bisa pake.

Saya jadi kepikiran. Kepikiran apa? Kepikiran dengan tindak terorisme cyber dengan A.I. Dengan A.I. kita bisa dengan gampang menempelkan muka seseorang ke video. Istilahnya face swap. Dan itu sudah populer sejak tahun 2019 kemarin. Saya bisa dengan gampang memotret diri saya yang baru bangun tidur, kemudian menempelkannya ke tubuhnya bintang laga UFC, Conor McGregor.

Perhatikan. Hanya modal foto doang, A.I. memetakan fitur muka saya, kemudian dianimasikan persis seperti mimik-mimiknya sang bintang UFC.

Dan saya bisa dengan gampang menempelkan muka bangun tidur saya ke idol Korea random, atau Selena Gomez, Shakira, Taylor Swift, siapapun. Gimana? Sampai sini sudah nyambung kan, bahayanya apa? Iya, ini bisa dipakai untuk menyebar hoax. Dan itu sudah masuk kategori terorisme cyber.

Kalau dulu, untuk membuat hoax yang kelihatan valid bakal repot. Sekarang? Modal HP saja sudah cukup. Gimana caranya? Lewat apps tersebut, si teroris tinggal bayar. Maka, dia bisa menggunakan fitur “use your own video.” Pake video sendiri.

Katakanlah saya ingin bikin kericuhan di masyarakat saat Covid-19. Tinggal rekam video saya pake pakaian resmi, bilang Covid-19 tidak berbahaya, dan tempelin mukanya pejabat kesehatan di video tersebut.

Sesederhana itu. Saya bahkan ga perlu ketemu pejabatnya. Cukup fotonya saja saya jepret pake HP.

Setelah itu, video editan tersebut bakal saya sebar di grup whatsapp. Udah, masyarakat bakal kacau. Iya, bakal ketauan, tapi ga masalah. Yang penting udah sempat kacau. Tujuan terorisme kan itu. Membuat kacau. Apalagi, bakal banyak yang bersikukuh kalau video editan itu asli. Ooh, tambah senang saya. Udah kerjaan gampang, efeknya lebih berasa ketimbang bikin meme. Itu baru satu efek. Belum kalau bikin video skandal esek-esek. Pasti lebih kacau lagi.

Ini salah satu cara paling gampang menggunakan A.I. untuk kejahatan cyber. Ga ribet, aplikasinya tersedia untuk umum. Belum lagi kondisi masyarakat Indonesia mayoritas gampang dihasut pake teks, apalagi kalau sampai bisa bikin video palsu.

Nah, masalahnya sekarang. Apa Indonesia sudah siap menangkal terorisme gaya baru seperti ini?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: