Posted by: Black_Claw | August 24, 2021

Para Pemburu Parongge

Namanya Gabriel Sulaiman, biasa dipanggil om Leman atau om Gabe. Usianya lima puluhan, badannya tegap dan kekar. Pantaslah ia memegang jabatan sebagai kepala keamanan di pabrik kertas.

Dia orang Donggo, sekolah di Dompu, kemudian merantau sejak tahun 1984. Di blok ini, yang sekampung sama saya cuma beliau. Eh, kayaknya di seluruh Citra Indah City yang sekampung sama saya cuma beliau deh.Sudah semingguan ini kami mengintai sebuah pohon Parongge, Kelor. Pohon yang masih kecil ini mendadak tumbuh di pinggir jalan, samping rumah hook, di depan deretan rumah orang. Nggak tau siapa yang punya. Di kampung kami, kelor ini dijadikan sayur yang lezat. Buah dan daunnya direbus dengan bawang, dan, jika lagi ada rezeki, dicampur dengan lemak rusa. Enak sekali.

Di sini, susah menemukan pohon kelor. Mungkin karena di sini identik dengan hal-hal gaib, samalah nasibnya dengan pohon jamblang, fuu duwe, buah favorit lainnya di kampung saya.

“Kombi ntau pak Eddy parongge ede. Pala na, tiga hari saya tungguin, tidak ketemu-ketemu buat ditanyain.” Kata om Leman saat sedang membersihkan kebun bersama saya.

“Pak Eddy yang mana?” Saya bertanya balik.”Apa pak Eddy yang cina mualaf tu. Coba kamu yang pigi liat, Farhan. Kombi si sama-sama keturunan bisa hoki ketemu.” Perintah om Leman.

Memang begitulah om Leman. Padahal, pohon itu tumbuh di tanah umum, jatuhnya milik bersama, tapi dia tetap ingin minta izin. Jadi, berangkatlah saya ke lokasi si fuu Parongge, menjelang senja.

Pas banget kebetulan saat saya sampai di lokasi, pak Edi baru keluar dari pintu. Habis mandi sepulang kerja kayaknya. Saya langsung meminta daun Kelor tersebut, dan dipersilahkan. Lima ranting saya petik, lengkap dengan batang-batanya, dan saya bawa ke kebun.

“Alaeee! Mantap, raka eda sia dohoe!” Seru om Leman saat melihat saya membawa Kelor tersebut. Bergegas dia keluar dari kebun, ke rumahnya. Ngapain? Pikir saya.

Sebentar kemudian beliau kembali dengan beras, panci, bawang, dan garam. Diambilnya Parongge, dibuatnya api unggun. Om Leman memasak nasi dan uta mbeca Parongge di kebun dengan semangat empat lima. Malam itu, kami makan nasi panas hanya dengan sayur Kelor masakan om Leman, di kebun. Diterangi cahaya bulan purnama dan api unggun sisa masak.

“Ah, hangat sekali perut saya. Sudah lima tahun nggak makan ini.” Ujar saya sambil menyeruput kuah sayur.

“Poda na.” Jawab om Leman serius sambil memandang bulan. Kemudian ia menatap saya dengan serius. Bayangangan api unggun terpantul dari matanya.

“Terakhir saya makan ini 20 tahun yang lalu ….”


Responses

  1. Bisa minta bantuannya bapak, saya dapat cerita dari teman bahwa bapak ahli dalam IT, mudah-mudahan bapak bisa menghapus FB saya yang sudah di hack dan dijadikan untuk menipu orang banyak

    Like

    • Saya sudah pernah menulis FAQs tentang jnj. Silahkan cek menu Hacking FAQs di profil instagram saya, @zappytanx

      Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: