Posted by: Black_Claw | February 24, 2018

Drone

Tadi sore, saya ngajarin teman kantor untuk nerbangin drone. Mau dipake untuk dinas ke Aceh. Karena dia baru pertama kali nerbangin drone, ada kecelakaan yang menyebabkan daging ujung telunjuk saya koyak dihantam drone yang goes haywire. Jadi dagingnya kudu dibuang.

Sepulang dari UGD, saya menemani teman saya yang lain, Dani, memasak lauk untuk makan malam. Saya memandang telunjuk saya yang berbalut perban.

“Apa saya melakukan hal yang benar, Romo?” Kata saya ke Dani sambil ketawa. Drone yang lebih mahal dari gaji kami berdua itu tidak rusak dan tetap bisa dipakai teman kantor saya untuk bekerja.

“Kamu seperti Yesus. Kamu melindungi orang dengan badanmu.” Jawab Dani yang akhir-akhir ini sudah rajin ke gereja sambil mencacah daging ayam.

Dia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan.

“Tapi kamu tidak bisa bangkit.”

—-

😂🤣

Advertisements
Posted by: Black_Claw | January 29, 2018

Satu Langit

Saya suka memandang langit, dari kecil. Ada rasa damai di situ. Saya merasa masalah saya, sebesar apapun, adalah kecil di hadapan semesta. Jadi, saya bisa tersenyum. Langit memang menentramkan.

Apalagi, jika saya bisa memandangnya sampai horizon. Gradiasinya dari biru muda ke pekat yang kadang bersembunyi di balik awan saat siang, atau bulan berteman hamparan bintang saat malam. Jika itu kota, maka adalah awan sepetak dua petak temaram memantulkan cahaya lampu di bawahnya yang sesekali diiringi kedipan lampu pesawat terbang. Saat subuh atau senja, maka seluas pandang diisi semburat jingga.

Dulu, sebelas tahun lalu, di Cyber Building Mampang, saya dikasihin anime oleh teman saya. Dwi Wahyono. Judul anime yang dia kasih itu Sola.

Di anime itu, ada sepenggal dialog. Maknanya, dimanapun itu, walau langit yang kupandang beda dan langit yang kau pandang beda, satu langit yang kita lihat.

Saya akhirnya jadi sering menggunakannya. Sepertinya sekarang kalimat itu jadi terkenal.

Baguslah.

Mungkin saja dia, saat ini, sedang memandang langit. Tentulah menyenangkan memandang hal yang sama dengan seseorang yang kamu sayang, bukan?

Hai… Apa kabar?

Posted by: Black_Claw | January 27, 2018

Ganesha Kecil

“Kamu kenapa, nak?” Dewa Siwa buka suara, bertanya pada anaknya.

Perlahan, Ganesha kecil mengangkat mukanya, memandang kedua orang tuanya.

“Ayah, ibu…” Katanya lembut dan perlahan.

“Kalianlah semestaku.”

Posted by: Black_Claw | January 18, 2018

Lampion

Kamu yang pernah datang ke Warung Mie Atom pasti pernah liat lampion merah ini. Lampion yang tetap menggantung di sekat kayu bagian belakang warung.

Saya dan Sony membeli lampion ini seminggu sebelum #sincia tahun lalu. Malam-malam, hujan rintik-rintik, di pasar Glodok. Menawar mati-matian dengan penjualnya. Waktu itu, saya, Sony dan San-San, baru saja pindah dari Kalibata ke Tanjung Duren. Duit tipis abis, buat bayar sewa mobil engkel bak buat pindahan. Pasar dan pelanggan otomatis harus nyari baru, karena pindah ke #Jakarta Barat dari Jakarta Selatan, berarti buka lahan. Babat hutan.

Sebulan lagi sincia. Berarti, sebentar lagi, lampion ini bakal ulang tahun yang pertama.

Lampion ini, sejak dibeli, sudah makan asam garam bareng warung. Kena panas, debu, asap knalpot, angin dan hujan karena pernah digantung di depan. Sudah merasakan tendangan dari sepatu boot kulit asli sol tebal Asta, teman kami, waktu #warung dipinjam pake buat tempat shooting. Sudah jatuh berulang kali, entah karena ikatannya lepas atau putus.

Tapi warnanya tetap masih merah terang dan bagus.

Itulah mengapa lampion ini begitu spesial. Lampion ini bukan jimat. Buat anak-anak warung, #lampion ini pengingat dan penyemangat.

Jadi kapanpun, sesulit dan sesakit apapun, masih bisa ketawa dan senyum. Harus bisa nyari jalan lagi. Harus bisa tegak berdiri. Harus bisa cerah, seperti lampion yang masih merah. Jadi hidup dan diri ini bisa terus naik tingkat menjadi lebih baik.

Pokoknya, tahun ini, entah gimana caranya, kita harus bisa jualan pake foodcar.

Toh ginjal masih lengkap.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: