Posted by: Black_Claw | March 29, 2018

ILC 2018, Little Tokyo, Melawai : Teknologi Is Bullshit

Malam ini, saya bertemu dengan seorang kawan lama. Saya bertemu dengannya dulu, sekali, waktu motoran ke Aceh. Melewati kampungnya di Pekanbaru. Dia anak KPLI Pekanbaru. Komunitas Pengguna Linux Pekanbaru. Namanya Anto Kateda.

Jadi, saya dan Anto memutuskan untuk menyelenggarakan ILC 2018 malam itu. Di Little Tokyo.

Anak Linux memang seperti ini. Kamu bisa memasang banner gede bertuliskan ILC, Indonesia Linux Conference. Segudang seminar tentang ngoprek server dan information technology security, dan serangkaian acara berbau teknis lainnya, tapi yakinlah, ILC sebenarnya itu sebenarnya cuma KPLI Meeting.

Sekumpulan orang dari berbagai penjuru, yang nongkrong ngobrol nggak jelas entah sambil ngopi, ngeteh, ngudut, sampe jam 2 pagi.

Dan nggak bahas teknologi informasi sama sekali.

“Jadi apa yang membuat kamu nongol di Jakarta, Nto?” Tanya saya membuka KPLI Meeting.

“Nggak ada, saya iseng.” Jawabnya.

Yoa. Setelah ILC 2017 di warkop random Cilacap dan ILC 2018 di Little Tokyo Melawai, mau di mana ILC 2019 nanti? 😉

Posted by: Black_Claw | March 6, 2018

Unlimited Bot Works

Pernahkah kamu mendengar DDoS? Akhir-akhir ini di kalangan orang informatika sedang booming #DDoS yang memanfaatkan kelemahan memcached sebuah #sistem. Kamu akan menemukan banyak tulisan tentang itu dengan gampang, jadi lebih baik saya tidak menjelaskan tentang itu. Serangan DDoS banyak ragamnya, dan lewat kelemahan memcached itu salah satunya. Dari semuanya, yang menarik dan membuat hati saya tersentuh setiap mendengar tentangnya ada satu. Dan akan saya ceritakan ke kamu.

DDoS layer empat, SYN flood.

Dalam berkomunikasi, ada banyak lapisan-lapisan yang diistilahkan layer pada sistem informasi komputer. Layer empat ini salah satunya. Serangan DDoS SYN Flood, terjadi pada layer empat, saat rentetan koneksi TCP terjadi.

Dengar, dengar. Ini menarik dan menyentuh. Tahukah kamu, saat komputer kamu terkoneksi dengan sebuah server, facebook misalnya, komputer kamu dan server berkenalan terlebih dahulu? Mereka harus saling mengenal agar halaman pada server bisa ditampilkan di layar komputer kamu. Inilah yang diistilahkan dengan “three-way handshake”, proses kenalan.

Saat koneksi antara #komputer kamu dan server akan dimulai, komputer kamu mengirimkan sebuah SYN request. Memperkenalkan dirinya ke #server, bahwa dirinya ingin memulai koneksi dengan #TCP. Mengetahui hal ini, server akan mengirimkan balasan berupa SYN-ACK ke komputer kamu. Mengetahui hal ini, komputer kamu akan merespon dengan mengirimkan respon #ACK ke Server. Tiga langkah ini sukses, dan koneksi komputer kamu ke server tercipta.

Nah, pada kasus #SYNFlood, komputer kamu mengirimkan #SYN request ke server. Mendengar hal tersebut, server membalasnya dengan respon SYN-ACK ke komputer kamu, kemudian membuka jalur koneksinya, menunggu komputer kamu mengirimkan respon ACK ke server untuk terhubung. Komputer kamu tidak melakukannya, tapi malah mengulang lagi SYN request dengan #IP yang berbeda, IP abal-abal, agar si server mengira ada komputer lain yang ingin terkoneksi.

Server kembali menunggu sambil membuka jalur koneksinya, menunggu respon ACK dari komputermu dengan identitas palsu tersebut, tapi komputermu tidak membalas. Komputermu mengulang hal tersebut dengan IP lain, sehingga server membuka banyak #koneksi tanpa balasan yang akhirnya membuat si server kehabisan koneksi.

Ini sama dengan semisal seseorang yang ngasih kamu kode. Mengetahui itu, harapanmu tumbuh dan kamu membuka hati untuknya. Tapi orang tersebut malah ngediamin kamu.

Kamu diPHPin. Terjebak dalam reality marble. Sama seperti si server. Menyentuh sekali kan? Itulah SYN flood DDoS attack layer empat.

#Cinta tak berbalas…

Posted by: Black_Claw | February 24, 2018

Drone

Tadi sore, saya ngajarin teman kantor untuk nerbangin drone. Mau dipake untuk dinas ke Aceh. Karena dia baru pertama kali nerbangin drone, ada kecelakaan yang menyebabkan daging ujung telunjuk saya koyak dihantam drone yang goes haywire. Jadi dagingnya kudu dibuang.

Sepulang dari UGD, saya menemani teman saya yang lain, Dani, memasak lauk untuk makan malam. Saya memandang telunjuk saya yang berbalut perban.

“Apa saya melakukan hal yang benar, Romo?” Kata saya ke Dani sambil ketawa. Drone yang lebih mahal dari gaji kami berdua itu tidak rusak dan tetap bisa dipakai teman kantor saya untuk bekerja.

“Kamu seperti Yesus. Kamu melindungi orang dengan badanmu.” Jawab Dani yang akhir-akhir ini sudah rajin ke gereja sambil mencacah daging ayam.

Dia terdiam sesaat, kemudian melanjutkan.

“Tapi kamu tidak bisa bangkit.”

—-

😂🤣

Posted by: Black_Claw | January 29, 2018

Satu Langit

Saya suka memandang langit, dari kecil. Ada rasa damai di situ. Saya merasa masalah saya, sebesar apapun, adalah kecil di hadapan semesta. Jadi, saya bisa tersenyum. Langit memang menentramkan.

Apalagi, jika saya bisa memandangnya sampai horizon. Gradiasinya dari biru muda ke pekat yang kadang bersembunyi di balik awan saat siang, atau bulan berteman hamparan bintang saat malam. Jika itu kota, maka adalah awan sepetak dua petak temaram memantulkan cahaya lampu di bawahnya yang sesekali diiringi kedipan lampu pesawat terbang. Saat subuh atau senja, maka seluas pandang diisi semburat jingga.

Dulu, sebelas tahun lalu, di Cyber Building Mampang, saya dikasihin anime oleh teman saya. Dwi Wahyono. Judul anime yang dia kasih itu Sola.

Di anime itu, ada sepenggal dialog. Maknanya, dimanapun itu, walau langit yang kupandang beda dan langit yang kau pandang beda, satu langit yang kita lihat.

Saya akhirnya jadi sering menggunakannya. Sepertinya sekarang kalimat itu jadi terkenal.

Baguslah.

Mungkin saja dia, saat ini, sedang memandang langit. Tentulah menyenangkan memandang hal yang sama dengan seseorang yang kamu sayang, bukan?

Hai… Apa kabar?

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: