Posted by: Black_Claw | July 19, 2020

Selamat Jalan Pak Sapardi

Pak Sapardi meninggal. Beliau adalah salah satu orang berjasa, yang mengajarakan kepada saya, tentang apa itu cinta, lewat puisinya, Aku Ingin.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Itu indah dan megah sekali. Jika kamu mencintai, kamu tidak perlu pengakuan darinya. Bagimu, yang penting adalah yang kamu cintai baik, maka itu sudah cukup. Perkara dirimu kenapa-kenapa, tidaklah perlu ia tau.

Sesungguhnya, setiap mahluk itu cinta pertamanya dan yang paling dicintainya adalah dirinya sendiri. Jika dia mencintai sesuatu, tidaklah pernah lebih dari cintanya pada dirinya, karena mencintai dirinya sendiri adalah bagian dari kesuksesannya untuk bertahan hidup, untuk survive. Maka, jika dia bisa mencintai lebih dari cintanya pada dirinya sendiri, itulah semegah-megahnya cinta.

Mayoritas generasi yang hidup di zaman now, melepehkan cinta seperti ini dengan menyematkan predikat bucin. Ini karena good times create weak human. Itulah penyebab pikiran mereka seperti ini. Mereka cuma kurang berpikir, karena ya itu, tidak terlatih untuk biasa mikir.

Padahal, Indonesia bisa merdeka itu karena orang-orang yang cintanya semegah itu pada negeri ini. Dan kalau sama negeri saja, yang notabene bukan manusia kemudian cinta semegah itu bisa ada, tentulah sesama manusiapun bisa.

Bucin tidak buruk, itu adalah bentuk final dari ketulusan. Kebanyakan dari mereka hanya tidak sengaja terjebak untuk mencintai orang yang bejat. Karena ya itu, kehidupan yang serba mudah menciptakan banyak manusia bermental sampah.

Selamat jalan, pak Sapardi Djoko Damono. Terima kasih banyak, pak. Sungguh, terima kasih.

Posted by: Black_Claw | July 19, 2020

Kampung Kali Bahasamu

Barusan saya ketemu sama teman lama. Baru sampai dari Hamparan Perak, langsung ngajak ketemuan. Berangkatlah saya menemuinya dengan full kostum ninja dan semprotan alkohol. Kita duduk-duduk ngobrol di outdoor sebuah resto random di Pinangsia.

Sebenarnya dia nginapnya di Hayam Wuruk. Tapi, setelah ada kali satu jam jalan kaki cuma nanya “ai khi mana ciak” dan “cincay lu” yang ga jadi-jadi cincaynya, kami capek dan akhirnya duduklah di resto itu.

Pas nongkrong, lewatlah dua cewe abege dandanan kece badai lewat di depan kami yang lagi ngobrol seru. Dari gaya jalannya kayaknya rada mabuk. Setelah melewati kami, cewek yang satu ngomong pake bahasa Mandarin, kemudian temannya tertawa.

Saya ga ngerti dia ngomong apaan, tapi teman saya yang ngerti Mandarin ini ekspresinya mendadak berubah.

“Comik a? Comik su?” Tanya saya heran.

“Kamu tau dia bilang apa tadi? Katanya bahasa kita kampungan sekali.” Jawabnya.

Okeeey, tunggulah kelen ya, kupelajari bahasa Mandarin ini nanti.

Dipikir-pikir, barusan tadi adalah rekor dalam hidup saya.

Ada aplikasi. Dari deskripsi behaviour yang diceritakan oleh Product Owner, saya merasa-rasa ada yang janggal. Jadi, saya minta beliau untuk onlen bareng pake Google Meet.

Kemudian, saya pandulah pak Product Owner untuk ngehek pengaturan admin pake user non-admin di aplikasinya sendiri, pake komputernya sendiri, lewat google meet tersebut.

Dan tembus. User biasa itu jadi admin. 🤣🤣🤣

Abis itu kita langsung ngakak online bareng. Itu sesuatu yang membahagiakan sekali. Saya bisa membuat seorang Chief Product Officer merasakan bagaimana rasanya ngehek dan tembus.

Saya yakin, beliau pasti bahagia juga. 😄

Posted by: Black_Claw | July 10, 2020

Mobil Saya

Mobil saya namanya Mirai. Masa depan, artinya. Dari nama tipenya di Jepang sana, Daihatsu Mira. Cuma, oleh San-San, dia dipanggil meme. Istilah Tionghoa-Jawa untuk mei-mei, a-mei, adik perempuan. Alasannya karena diantara anak-anak Warung Mie Atom, si Mirai yang paling muda.

Kemarin, ada kabel yang terkelupas di dashboard terus kena body. Jadi korslet. Kejadiannya malam hari. Kabel yang bermasalah sudah saya atasi, tapi Meme sekringnya di jalur kelistrikannya sekring itu mati. Jadi kudu diganti.

Secara sekring yang korslet itu lampu spedometer, saya pinjamlah sekring lampu depan yang kanan. Masih ada dua lampu tembak, pikir saya. Toh nilai ampernya sama.

Herannya, setelah diganti sekring, lampu spedometer bisa nyala. Tapi semua Indikatornya di dashboard, lampu aki, lampu oli, sampaj jarum RPM, ga ada yang nyala.

Saya bingung, saya liat-liat kabelnya, tetap baik-baik semua. Ga ada yang korslet atau kebakar, bahkan saat mesin dinyalakan. Berkali-kali saya nyala-matiin, tetap aja itu Indikator mati, yang nyala cuma lampu spedo. Ada kali setengah jam saya ngoprek pake senter hape, bulak-balik jongkok ke kolong dashboard.

Ga ngefek, semua indikator tetap mati.

Nyerah, saya matiin kontak, keluar dari mobil, ngunci mobil pake remot, terus masuk ke kamar.

Setelah di dalam kamar, saya cari-cari kunci mobil, ga nemu. Yang ada cuma remotenya. Semua barang bawaan dari dalam mobil saya periksa, kali aja jatuh terus nyelip. Soalnya saya ngerasa tadi emang bawa kunci. Tetep aja ga ada.

Jadi, saya balik lagi. Setelah ngebuka kunci pake remote, kunci kontaknya saya lihat masih nyantol di stater.

“Wes ta la Me, sesuk aku gawe.” Kata saya, sambil entah kenapa iseng muter kunci kontak itu. Dan …. Ga diapa-apain, cuma diputar kontaknya ke on doang, semua Indikator langsung nyala.

Kan jadi tambah sayang cuk!

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: