Posted by: Black_Claw | November 6, 2016

IMG-20160826-WA0007.jpg

“Bentar, bentar, tahan! Ada Bulbasaur coy!” Seru saya sambil menghentikan langkah. San-San ikut berhenti. Berdua kami melirik layar hape masing-masing.

Iya, kami lagi main Pokemon Go. Yang sekarang udah ditinggalin sama mayoritas weebo yang mainnya cuma heboh di awal doang.

“Opo o Blek. Bulbasaur tok heboh awakmu. Mending Dragonite koyok ngunu lho, dek gym.” San-San melihat acuh tak acuh.

“Loh, bedaaa! Kamu tau, ini Bulbasaur ntar evolve jadi Ivysaur. Nah, Ivysaur itu ntar bisa dievolve lagi jadi Venusaur. Nah, bunga yang mekar di punggungnya Venusaur itu bunga Rafflesia Arnoldii. Bunga asli Indonesia. Jadi, satu-satunya Pokemon yang Indonesia banget itu ya cuma ini!” Jelas saya panjang lebar sampe luber.

“Oh, gitu ya?” Tanyanya cuek sambil ikut ngelemparin Pokeball, nangkapin Bulbasaur di hapenya.

“Opasti. Ini negeriku. Di sini aku bukan turis.” Tegas saya jumawa.

Dia melepaskan pandangan dari hapenya, menoleh ke saya, kemudian berujar.

“Beneran… Sipit gitu?”

“Awakmu podho coook!” Teriak saya memecah keheningan malam.

Posted by: Black_Claw | October 28, 2016

Konspirasi Negeri Paling Brengsek

merah_putih__by_hachiretsu-d5jtpgv_1

Ah, kamu suka teori konspirasi dan semacamnya? Suatu rahasia yang tidak terlihat di permukaan tapi besar di dalam? Merapatlah ke sini. Saya akan menceritakannya ke kamu.

Tidakkah kamu merasa, kamu tinggal di negara yang tidak becus? Beda dengan negara teratur macam Jepang, atau yang paling dekat, Singapura? Kamu benci karena aparatur negara ini tidak sehebat di negara lain? Kamu benci dengan negaramu karena negaramu terasa sampah jika dibandingkan negara lain?

Ssttt… Dengarkan teori ini. Saya yakin, kemungkinan besar kamu tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya.

Untuk tetap bisa berdiri saja, Indonesia sudah sangtlah hebat.

Di Indonesia, ada lebih dari 300 suku, tidak kurang dari 442 bahasa, dan 1400-an kelompok masyarakat. Dengan jumlah sebanyak ini, sudah bukan rahasia lagi kalau tingkat perpecahannya sangat tinggi.

Kamu tahu sendiri. Jangankan isu pribumi dan bukan. Sesama suku di Indonesia, sehalus-halusnya, tetap akan kamu temukan ucapan yang bernada pengkotakan.

“Ojo karo Sunda. Nginjek.”

“Jawa mi itu, Jawa mi!”

“Boleh kawin sama siapa saja, asal jangan cina Medan atau orang Padang.”

Dan semacamnya. Kamu tahu itu. Kamu bisa berpura-pura untuk tidak tahu, atau mengatakan hal tersebut bukan masalah besar. Tidak, itu tidak kecil. Itu hal besar. Besar sekali. Ketidakseragaman, adalah sesuatu hal yang fatal, yang menciptakan perpecahan selama kamu manusia. Jepang bisa maju karena seragam. Singapura bisa teratur karena perbedaannya sedikit. Indonesia? Indonesia terlalu beragam. Hampir sangatlah mustahil untuk membuatnya layak dihuni tanpa isu rasial yang menghancurkannya.

Tapi tidak, bukan?

Sejak tahun 1945 sampai sekarang, Indonesia masih berdiri.

Untuk membuat Indonesia bisa tetap ada sampai sekarang saja, untuk menjaga keutuhannya saja, untuk bisa tetap membuatnya enak dan nyaman didiami saja, tentulah sulitnya setengah mati.

Jadi, saat kamu melihat bahwa semua aparatur negara kok kelihatannya nyante, saat kamu mikir kok banyak orangnya kayak nggak ngelakuin apa-apa, pikirkan juga sedikit kemungkinan ini.

Mereka pasti melakukan sesuatu, mungkin kamu yang nggak tahu. Karena, jika mereka sejatinya semuanya memang cuma ongkang-ongkang kaki nggak becus, negeri ini pastilah sudah hancur dan pecah dari dulu.

Di dunia informatika, ada hal yang disebut Sysadmin Fallacy. Kamu tau mas-mas yang kerjaannya nyambung kabel, masang server, segala macam hal yang ngurusin masalah konek-mengonek itu? Dia sysadmin. Kamu melihat kerjaannya hampir ga ada. Abis nancep ini, dia diam dengerin musik di komputer. Kadang kamu ngeliat dia nyante ngerokok, sementara kamu yang, katakanlah pegawe keuangan, ngetik laporan tabulasi pajak 24 halaman.

Kok bisa dia digaji? Pikirmu. Saat itulah kamu terjebak Sysadmin Fallacy. Pecat dia, maka internet kamu ngehang, printer kamu nggak ngeprint, data yang masuk dari klien mendadak nggak ada, dan sebagainya. Fallacy ini terjadi, saat kamu membandingkan cara kerja kamu dengannya, padahal pekerjaan kalian berdua beda. Tidak bisa dibandingkan.

Sama dengan saat kamu ngeliat polisi atau tentara yang kelihatannya nggak ada kerjaan. Nggak becus. Kamu mangkel dan merasa lebih baik mereka nggak ada. Pecatlah mereka, negeri ini langsung nggak bakalan aman. Rampok rogol maling dan semacamnya, bebas berkeliaran karena predatornya hilang.

Itulah mengapa, menjaga negeri yang multi etnis untuk tetap berdiri itu saja sudah merupakan sesuatu yang hebat. Bonus, jika ada pembangunan yang terlihat nyata.

Hari ini kamu masih sempat jalan-jalan atau makan dengan nyaman di negeri yang indah ini, kan?

Maka damailah, dan jagalah keutuhannya. Kamu sudah tinggal di negeri yang hebat, kok. Bener deh.

Cuma kamu aja, mungkin, yang nggak tau… 😉

Posted by: Black_Claw | October 27, 2016

Apa Mobilmu?

Jangan pernah menakar derajat seseorang dari apa mobilnya. Semampu apa dia, sehebat apa dia, dan semacamnya.

Bisa jadi, mereka yang menggunakan mobil tipe-tipe sejuta umat, lebih membutuhkan stabilitas ketimbang tenaga, kecepatan, atau bentuk. Ada pula, mereka yang menggunakan mobil tipe biasa-biasa saja, tidak sempat dibelikan mobil oleh ayahnya sehingga menyicil sendiri. Mungkin saja, mereka yang memilih mobil bekas ngerti ngoprek mesin sehingga tidak benar-benar perlu membeli baru. Itu semua hebat.

Atau barangkali, mereka yang bahkan tidak memiliki mobil, lebih membutuhkan motor dalam pekerjaannya, atau mungkin tempat mereka biasa berpergian lebih hemat waktu dan tenaga jika mereka menggunakan angkutan umum. Itu juga hebat.

Begitu juga saat seseorang lebih memikirkan pandangan atau prestise dalam kendaraannya, tentu itu berarti dia bisa menunjukkan bahwasannya dia mampu. Mampu membiayai ongkos kendaraan, walau lebih ke biaya gengsi. Itu tidak salah. Mungkin dia hanya bisa bertahan dalam pekerjaannya jika dia bisa bergaul dengan kalangan atas, dan mobil merupakan bagian dari modalnya agar tetap mendapatkan pelanggan. Tidak sedikit, bukan, para pelaku MLM yang nyewa mobil mahal untuk berfoto, bikin video, atau ketemu klien? Itu bagian dari marketing, bagian dari pekerjaan yang dilakoninya.

Yang agak salah, adalah jika dia memilih kendaraan yang sangat sedikit pengaruhnya dengan kebutuhan transportasinya. Adalah kurang bijak jika memilih mobil mahal untuk ke kantor yang jaraknya selemparan batu. Sama tidak bijaknya jika menggunakan mobil sport untuk ke kantor di jam-jam macet. Kurant bijak pula jika menggunakan mobil jeep trabas, saat jadi pegawai kantoran pagi sore di kota besar. Kemampuannya dalam memilih hal yang benar-benar efektif, bisa diragukan. Itu jauh dari hebat.

Oh, dan jangan pernah menilai dari merk mobilnya. Jangan pernah.

Karena kamu akan sulit mengalahkan paman saya. Puluhan mobilnya Mercedes Benz. Mer Si broh. Kurang elit apa coba, merek mobil itu?

Itu semua mobil bus. Armada AKAP flagship keluarga saya itu namanya P.O. Dunia Mas.

Tapi kalo yang sering dipake ke mana-mana sih Mitsubishi Carry…

 

dsc00788_zpse84d9fab

Posted by: Black_Claw | October 11, 2016

Warisan, Kuliner Sekalipun, Emang Nyusahin

p_20161011_195252_1

Jadi, untuk keperluan rebranding ulang depot Cwie Mie dua orang teman saya yang lagi nyari investor, sejarahnya resep mereka harus dicari dan dituliskan.

Sebagai keturunan dari generasi awal Cwie Mie Malang sejak jaman negara Indonesia masih usia underage, penuhlah kertas itu dengan oret-oretan nama dan panggilan kerabat yang saling-silang sana-sini. Dai Bo ke Kung-kung ke Mak Co mendadak muncul nama lain, kemudian restoran yang berubah nama, setelah itu relokasi, pokoknya segala hal yang aneh bin njelimet.

“Ini siapa?” Tanya saya.

“Keluarga luar.”

“Kalau ini?” Tanya saya lagi.

“Keluarga dalam.”

“Tapi abis itu dia nikah sama anaknya Mak Co jadi keluarga dalam terus blablablabla…”

“Terus restoran yang dulu itu kan arti namanya Rumah Tangga. Nah, kalau dibaca, pake logat mana?” Pertanyaan lain terlontar dari saya.

“Khek? Hokkian?”

“Dudduuuk! Boso resmiii! Mandarin!”

Saya semakin pusing.

“Ini kalau restoran kalian ini bisa berhasil lagi, generasi berikutnya pasti oret-oretannya yang kayak gini barangkali ada nama saya, ya…” Ujar saya sambil tersenyum.

“Oh iya pasti, Blek! Nanti tak pasangin fotomu yang gede di sudut sendirian. Lagi duduk, udah tua, pake tongkat, jenggotan sedada. Kalau ditanya siapa, pasti dijawab, ini Encek Farhan.”

“Terus kalau ditanya Encek Farhan itu hubungan keluarganya apa?” Tanya saya kemudian.

“Encek Farhan bukan siapa-siapa. Pokoknya dia datang, terus makan Cwie Mie, terus bilang ‘Anjing! Enak banget ini!’, terus bantu-bantu.” Jawab teman saya.

“Penunggu warung wes!” Sahut yang satunya lagi.

« Newer Posts - Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: