Posted by: Black_Claw | October 13, 2020

Demo Di Dompu

“Di Dompu ini tiap hari demo. Banyak demo.” Kata Edi saat saya video call, dengan seragam oranyenya. Dia memang bekerja di kantor pos, dekat dengan gedung wakil rakyat.”Ada yang demo bupati, ada yang demo omnibus law. Nah, kalau demo, ditanyain dulu sama keamanan.””Ditanyain apa?” Tanya saya tentang yang ditanyain. Tanyaception.”Ditanya, kamu demo bupati atau omnibus law? Kalau demo omnibus law, kerumunan sebelah kiri. Gitu.” Jelas Edi.”Terus,” ujarnya lagi, “kadang-kadang ada peserta demo yang nanya juga ke keamanan. Bagusnya saya demo apa ya hari ini?”

Posted by: Black_Claw | October 9, 2020

Demo Omnibus Law 8 Oktober 2020

Kira-kira biaya kerusakan saat demo yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab? Harga pengadaan ulangnya dikorupsi berapa banyak?

Kalau ujung-unjungnya dikorupsi, bakal banyak nanti calon undang-undang yang bikin demo besar-besar.

Auto tajir. 😊

Total kerusakannya 25 milyar. Itu 11 halte yang dirusak pendemo. Valid, gubernur sendiri yang bilang. Tambah sekitar semilyar 2 milyar lagi lah untuk kendaraan yang dibakar.

Untuk pengerahan penjagaan dan keamanan, biayanya sekitar 1-3 milyar / hari.

Mungkin total kerugian hari ini sekitar 27 milyar. 🙂

Efek bowlingnya akan terasa besok, karena fasilitas umum yang rusak berupa halte, maka produktivitas akan turun. Sampai itu diperbaiki dan pulih, kerugian kolektif masyarakat yang biasa menggunakan fasilitas itu mungkin kalau ditotal semua yah, tambah beberapa puluh milyar lagi.

Tenang saja. Semua yang bayar rakyat. Kamu, saya, kita semua. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Selamat bekerja rodi, ya. 😊👍

Posted by: Black_Claw | August 4, 2020

Cyberwarfare Indonesia Nanti Di Mana?

Pelaku kejahatan digital selalu menggunakan dua jalur. Yang pertama, komunikasi.

Whatsapp, Telegram, atau satunya lagi yang bakal punya kans gede. Signal. Pembicaraan lewat aplikasi-aplikasi seperti ini terenkripsi. Tidak bisa dibaca oleh orang lain kecuali pengirim dan penerima pesan.

Caranya mau tau isi pembicaraan mereka gimana? Handphonenya harus dipasangin alat penyadap langsung, baik berupa mesin atau program. Tapi, kalau begini, harus pegang hapenya.

Alternatif lain? Bajak akunnya. Tapi, begitu akunnya kebajak, mereka akan tau dan ganti akun. Zaman kejayaan penyadapan dengan mudah dilakukan via operator seluler sudah lewat. Sekarang, jalurnya enkripsi. Percaya deh, mau bajak akunnya juga bo cuan. Yang ada, pelaku malah tambah lari. Ini fakta lapangan yang harus kita hadapi dan telan pahitnya sama-sama.

Beberapa tahun silam, bahkan Pavel Durov, mbahnya Telegram, pas datang ke Indonesia juga ga peduli. Yang bisa dimonitor cuma isi grup chat. Itupun kalau ketauan, grup langsung kosong dan mereka pindah. Mau apa? Namanya penjahat, sense of securitynya pasti terasah level indra keenam. Makanya, Pavel malah milih kopdar dengan anak-anak Kampung Gajah waktu itu.

Itu yang pertama, jalur komunikasi.

Jalur satunya lagi, jalur kedua, masihlah ada kesempatan. Jalur kampanye. Istilahnya, campaign media. Pelaku kejahatan, pasti ngerekrut, nyari korban, atau mempublikasikan terornya lewat media.

Media apa? Ya sosial network. Dan ini, adalah medan perang yang sebenarnya. Battlefield.

Tahun-tahun sebelumnya, Indonesia sudah keok sebelum mulai. Ga ada yang nyangka, hoax, hasutan, bahkan jualan barang ilegal, bisa lewat media sosial. Lewat Facebook. Lewat Instagram.

Jangan salah, tempat di mana orang berkumpul, pasti rawan tindak kejahatan. Kalau di dunia cyber, ya di media sosial. Orang ngumpul plek tumplek blek di sana. Seperti pasar.

Dan Indonesia terlambat start. Waktu itu perang sudah mulai, preman pasarnya belum kenal. Agen yang jaga di pasar belum ada. Luluh lantak Indonesia waktu itu, sampai akhirnya bisa bikin kesepakatan premannya Facebook. Itupun dengan perjanjian yang terbatas. Padahal, posisi tawar Indonesia gede banget saat itu.

Komoditas media sosial, adalah penggunanya. Semakin gede basis penggunanya, semakin bisa dipakai untuk cari duit sama yang punya. Lewat apa? Lewat iklan.

Kalau pemirsa iklannya banyak, yang mau iklan pasti berminat. Sudah ngerti sampai sini? Iya, orang Indonesia yang maniak medsos itu, komuditas yang gede banget buat pemilik media sosial. Posisi tawar Indonesia juga harusnya tinggi.

Tapi ya itu, karena dari awal nggak persiapan, lobby-lobbyannya juga kurang, Indonesia kecolongan, terlambat start. Medan perang berikutnya, Indonesia jangan sampai ketinggalan. Di mana medan perang berikutnya?

TikTok.

Iya, ini serius. Jangan remehkan TikTok yang isinya video-video ga jelas gitu. Ingat, tempat di mana orang berkumpul, pasti rawan tindak kejahatan. TikTok bisa jadi tempat kampanye hoax dan terorisme. Bisa penipuan via direct message. Bisa jadi tempat human traficking, penjualan manusia. Macamlah.

Apa nggak kepikiran, bakal ada yang bikin konten hasutan. Semisal 5 fakta pemerintah tidak pro rakyat sambil joget-joget di sana? Bisa aja. Bisa banget, malah.

Seperti dulu, ga ada yang nyangka Facebook dan Instagram bisa jadi media penyebar hoax yang bikin negara sampai keluar duit puluhan milyar untuk menanggulanginya.

Lagipula, TikTok itu isinya data pengguna semua. TikTok bisa mengakses kamera, mikrofon, lokasi. Wah, data semua itu. Kenapa? Emang strategi pengumpulan data, kok.

Makanya banyak negara yang sampai ngeban TikTok. Ngeblacklist TikTok dari negaranya. Takut, datanya dicuri.

Kalau Indonesia? Ntar kalau TikTok ditutup kayak gitu pasti diprotes, dinyinyirin sama warganya. Ya udah, ambil jalan tengah.

Dekati TikTok. Lobby dari sekarang. Cari tau siapa yang kerja di sana, jadikan kawan. Nggak susah, kok. Profiling saja siapa yang kerja di TikTok lewat media sosial lainnya. Linkedin, misalnya.

Jadi, dari awal, Indonesia minimal kapling pos jaga dululah. Aparat-aparat juga biarkan aja main TikTok. Dukung jadi seleb TikTok kalau perlu. Buat apa? Buat counter black campaign. Mengimbangi hoax yang beredar secara langsung.

Misalnya bikin counter hoax pake lagu Summertime. Itu lho, lagu Kimi no Toriko.

Kimi no toriko ni natte shimaeba kitto
Kono natsu wa juujitsu suru no motto

Asek kan? Ya itu.

Atau bisa buat pengumpulan data intel. Sama seperti dunia nyata. Aparat yang seleb, pasti gampang nerima laporan dari warga. Dan buat aparat yang benar-benar intel. Yang berbaju sipil di dunia nyata, dari sekarang, membaurlah ke dalam TikTok. Ikuti circle di sana. Masuk ke banyak komunitasnya. Perbanyak konten sipilnya.

Biar ntar kalau diperlukan buat masuk ke lingkaran TikTok yang, yah, yang melakukan kejahatan lah, akunnya jauh lebih dipercaya ketimbang akun bodongan.

Biar kalau saatnya TikTok jadi battlefield berikutnya, Indonesia ga keteteran.

Dari sekarang, kapling tempatnya. Kalau perlu, susupi aparat buat jadi orang dalam. Jadiin teman orang-orangnya. Kuncen-kuncennya di Indonesia. Ntar, kalau ada kejadian, kan bisa minta data lokasi terakhir, atau malah remot kamera dari jarak jauh.

Pemerintah jangan takut. Komuditas media sosial itu penggunanya. Indonesia itu banyak orangnya. Posisi tawar kita tinggi.

Terus, kalau ga bisa juga, gimana? Ada alternatif lain? Ada. Tapi nanti, kita bahas di video berikutnya.

Posted by: Black_Claw | August 3, 2020

Orang Dompu Yang Dilihat Orang Non-Dompu

Barusan saya abis cukur rambut. Tukang cukurnya ramah dan ngajak ngobrol. Dia asli dari Tasikmalaya, kemudian menanyakan saya asli mana. Saya mengatakan kalau saya orang Dompu, NTB.

“Wah, ga mirip orang NTB, ya?” Pertanyaan yang tidak saya jawab.

Tapi, sebentar kemudian dia kemudian menyambung. “Saya pernah ke Dompu. Main-main di sana, ketemu cewek yang asli Dompu di social media. Dia kerja di sini, terus ngajak jalan-jalan ke rumahnya di Dompu.”

“Oh ya? Beneran?” Tanya saya kaget. Beneran nggak nyangka. Temen-temen saya saya aja banyak yang bilang mau ke Dompu, tapi nggak jadi-jadi. Saya kemudian nanya lagi. “Gimana tuh Dompu?”

“Dompu itu, gimana ya ….” Dia terdiam sesaat kemudian melanjutkan. “Keren ya. Orang-orangnya tuh hebat.”

“Hebat gimana?” Desak saya.

“Iya, hebat. Saya lihat di sana, rata-rata orangnya pasti ada gelarnya.”

“Gelar? Gelar adat maksudnya?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Gelar sarjana. Pedagang sembako atau tukang cukur rambut di sana S1.”

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: