Posted by: Black_Claw | September 13, 2021

Cara Menanam Kacang Panjang

Tetangga saya yang gemar bercocok tanam selain pak Amir adalah bu Haji. Halaman depan rumahnya penuh dengan berbagai macam tanaman dalam pot. Murah senyum, berkacamata, dan rambutnya putih semua.

Bu Haji orang seberang, logat bicaranya sangat Sumatera sekali. Ampat, dak nampak, bebuah, macamlah, dan bagi saya it is sooo cuteee!

“Kacang Panjangnya uda bebuah, Han?” Sapa bu Haji sekeluarnya saya dari kebun ilegal yang saya bikin di rumah kosong itu. Beberapa minggu yang lalu, pak Amir memberikan bibit Kacang Panjang kemudian Oom Leman menanamnya sana.

“Belum Bu Haji, tapi sudah naik lebih tinggi dari saya.”

“Wah, saya nanam dulu tu, 20 hari uda bebuahnya dia. Cepat. Farhan nyiramnya pakek apa?” Tanya bu Haji.

“Ya, pake air sumur lah bu Haji.” Jawab saya, agak bingung dengan pertanyaannya.

“Ooo. Salah.” Ujar bu Haji tegas, kemudian menambahkan.

“Kalau dulu saya siram pakek duit. Langsung bebuah.”

Posted by: Black_Claw | September 2, 2021

Daeng Keeper Of The Groove

Saya punya tetangga, namanya pak Haerudin. Pak Udin yang rumahnya hook di sebelah fasum berasal dari Sulawesi. Logat Daeng saat berbicara Bugis sekali. Kadang-kadang keselip okkots ji. Jadi kami tetangganya memanggilnya dengan panggilan hormat Daeng. Daeng dulunya merantau ke Papua, kemudian ke Sumbawa, kemudian tinggal di Citra Indah City.

Daeng adalah seorang product certificator, melakukan serangkaian uji teknis sebuah produk dan memberinya label kualitas. Semacam SNI, tapi level internasional. Setiap kali pergi ke luar negeri dua tiga hari untuk menguji produk, sekembalinya Daeng akan memasak pisang goreng untuk tetangga yang nongkrong di fasum. Pisang goreng khas Sulawesi yang biasanya dicocol dabu-dabu itu, tapi dengan tepung berkualitas yang dibawanya dari luar negri. Jadi, kami sudah merasakan tepung dari Jepang, Brazil, Amerika, Rusia, dan mungkin pernah juga dari Wakanda. Si Daeng nggak bilang aja.

Pisang goreng daeng gurih sekali, dan rasanya kayak pake telur, padahal cuma tepung campur air doang. Karena tidak ada sambal, dabu-dabu, biasanya saya cocolin pake sambal sachetan. Bisa tonjiii.

Jika orang-orang berkebun atau bertani, hobi Daeng adalah berhutan. Itulah mengapa rumah Daeng unik, penuh dengan pohon. Dua pohon ketapang yang tumbuh dari dalam rumah, menjulang menembus atap belakang. Pohon mangga sepelukan orang dewasa di depan, cabangnya bahkan memayungi keseluruhan rumah seluas 120 meter persegi itu. Rumah daeng multi layered roof. Genteng, Ketapang, dan Mangga.

Buah Mangga Daeng manis sekali, biasanya matang pohon dan jatuh sendiri. Daeng mempersilahkan siapa saja untuk mengambil Mangga itu, walaupun jatuh di halaman rumahnya yang tidak berpagar.Oh ya, Daeng juga menamam Anggur di dalam teras depan rumahnya. Bukan di dalam pot. Anggur itu benar-benar tumbuh di dinding rumahnya. Rumah daeng benar-benar adalah hutan yang tenang dan teduh, asri level max. Saya pernah mendengar suara kecipak-kecipuk dari pinggir fasum. Mungkin itu suara renang buaya, karena ada sungai Amazon juga di dalamnya.

Sebagai seorang penghutan, Daeng bisa melenyapkan keberadaannya, menghilangkan kehainya untuk menyatu dengan alam. Daeng yang biasanya bekerja malam sampai dini hari, suka duduk memangku laptopnya di salah satu sudut halaman sambil merokok. Meski ada cahaya laptop dan asap rokok, sering kali tidak ada yang menyadari bahwa ada orang di sana, sampai Daeng buka suara menyapa. Itupun masih bingung suaranya dari mana, sampe Daeng lambai-lambai.

Kadang saya berpikir, nama asli Daeng bukanlah Haerudin. Mungkin dia adalah Cenarius, Keeper of the Groove.

Sore ini, saya lewat di depan rumah Daeng, kemudian ada yang melambai ke saya. Mang Adan rupanya, dan mas Edi. Sedang membongkar pipa saluran pembuangan kamar mandi rumah itu. Mereka terlihat ngos-ngosan, padahal mereka tukang dan pemborong yang berpengalaman dan kerjaan itu cuma bongkar pipa.

“Iya nih, akar pohon Mangganya bikin pipa salurannya jebol. Itu akarnya sampai ke dalam kamar. Jadi harus dibongkar semua.” Terang mas Edi sambil menunjukkan pipa pembuangan yang penuh dengan akar Mangga. Saya menengok ke dalam kamar, tanah bongkaran keramik saluran pipa juga penuh dengan akar Mangga. Segede lengan The Rock, untung ga ada tattonya.

“Eeh, ada Farhan.” Daeng muncul dari dalam rumah. “Iya nih, pipanya mau diganti. Akar pohonnya udah mulai banyak.”

Mulai banyak? Ini satu tanah isinya bukan tanah lagi tapi akar pohon, pikir saya.

“Kenapa nggak pohon Mangganya ditebang saja, Daeng?” Tanya saya.

“Jangan. Sayang Mangganya.” Kata Daeng. Ia kemudian menatap pohon Mangga di samping mas Edi itu, yang batangnya bahkan lebih gede dari badannya si mas.

“Nanti rumahnya direnov aja, dinaikin 30 senti.” Tambahnya mantap.

Posted by: Black_Claw | August 24, 2021

Para Pemburu Parongge

Namanya Gabriel Sulaiman, biasa dipanggil om Leman atau om Gabe. Usianya lima puluhan, badannya tegap dan kekar. Pantaslah ia memegang jabatan sebagai kepala keamanan di pabrik kertas.

Dia orang Donggo, sekolah di Dompu, kemudian merantau sejak tahun 1984. Di blok ini, yang sekampung sama saya cuma beliau. Eh, kayaknya di seluruh Citra Indah City yang sekampung sama saya cuma beliau deh.Sudah semingguan ini kami mengintai sebuah pohon Parongge, Kelor. Pohon yang masih kecil ini mendadak tumbuh di pinggir jalan, samping rumah hook, di depan deretan rumah orang. Nggak tau siapa yang punya. Di kampung kami, kelor ini dijadikan sayur yang lezat. Buah dan daunnya direbus dengan bawang, dan, jika lagi ada rezeki, dicampur dengan lemak rusa. Enak sekali.

Di sini, susah menemukan pohon kelor. Mungkin karena di sini identik dengan hal-hal gaib, samalah nasibnya dengan pohon jamblang, fuu duwe, buah favorit lainnya di kampung saya.

“Kombi ntau pak Eddy parongge ede. Pala na, tiga hari saya tungguin, tidak ketemu-ketemu buat ditanyain.” Kata om Leman saat sedang membersihkan kebun bersama saya.

“Pak Eddy yang mana?” Saya bertanya balik.”Apa pak Eddy yang cina mualaf tu. Coba kamu yang pigi liat, Farhan. Kombi si sama-sama keturunan bisa hoki ketemu.” Perintah om Leman.

Memang begitulah om Leman. Padahal, pohon itu tumbuh di tanah umum, jatuhnya milik bersama, tapi dia tetap ingin minta izin. Jadi, berangkatlah saya ke lokasi si fuu Parongge, menjelang senja.

Pas banget kebetulan saat saya sampai di lokasi, pak Edi baru keluar dari pintu. Habis mandi sepulang kerja kayaknya. Saya langsung meminta daun Kelor tersebut, dan dipersilahkan. Lima ranting saya petik, lengkap dengan batang-batanya, dan saya bawa ke kebun.

“Alaeee! Mantap, raka eda sia dohoe!” Seru om Leman saat melihat saya membawa Kelor tersebut. Bergegas dia keluar dari kebun, ke rumahnya. Ngapain? Pikir saya.

Sebentar kemudian beliau kembali dengan beras, panci, bawang, dan garam. Diambilnya Parongge, dibuatnya api unggun. Om Leman memasak nasi dan uta mbeca Parongge di kebun dengan semangat empat lima. Malam itu, kami makan nasi panas hanya dengan sayur Kelor masakan om Leman, di kebun. Diterangi cahaya bulan purnama dan api unggun sisa masak.

“Ah, hangat sekali perut saya. Sudah lima tahun nggak makan ini.” Ujar saya sambil menyeruput kuah sayur.

“Poda na.” Jawab om Leman serius sambil memandang bulan. Kemudian ia menatap saya dengan serius. Bayangangan api unggun terpantul dari matanya.

“Terakhir saya makan ini 20 tahun yang lalu ….”

Posted by: Black_Claw | June 4, 2021

Nonis

Jadi tadi saya diajak jumatan sama sesepuh frontliner di kantor. Ya udah, saya ngikut. Pas keluar, ketemu rekan kantor lain, jadi ngobrol bentar. Alhasil, saya dan dia ke mesjid ga barengan lagi.

Di gerbang mesjid, saya ditolak masuk karena ga bawa sejadah, soalnya solatnya penuh sampe emperan masjid. Jadi, ya udah, saya balik kantor lagi.

Sepulangnya dia jumatan, saya bilang. “Maaf, tadi saya ditolak masuk. Ga bawa sejadah soalnya.”

“Oh, iya, ga papa.” Jawabnya, kemudian menyambung datar.”Dulu juga pas pertama lihat, saya pikir nonis.”

“Dulu juga pas pertama lihat, saya pikir nonis.”

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: