Posted by: Black_Claw | September 5, 2016

Karena Minum Teh Pake Kendi Teh Poci Terlalu Mainstream

IMG_20160906_001148

Lalu kenapa dua kawan saya ini, Sony Herianto dan Santoso, minum Kopi Legong Bali pake kendi dan cawan Teh Poci?

Biar saya ceritakan ke kamu.

Hari ini, seorang gadis mengoleh-olehi saya kopi itu, sepulang dari lawatannya ke Bali kemarin bersama ayahnya. Sepulang bertemu dengannya untuk mengambil kopi tersebut, saya bertemu dengan bapak tua penjual kendi ini.

Dia menjual dagangannya di samping pintu masuk Kalibata City. Pintu kiri sebelah kiri pintu mall. Tidak dengan lapak, terpal, gelaran tikar, atau semacamnya. Tidak. Dia hanya menderetkan dagangannya semen pembatas taman kecil yang mengelilingi Kalibata City.

Dia berjualan hanya malam hari, mulai pukul 11 malam sampai suara adzan subuh berkumandang. Lewat dari waktu itu, tentulah dia akan kesulitan karena dibubarkan satuan pengaman, swasta ataupun negeri. Selepas itu, dia akan pulang ke rumahnya di Bogor, membawa kembali dagangannya yang tidak laku. Naik kereta pertama yang berangkat dari arah kota.

Kalau kamu masih butuh cerita yang lebih lengkap, bolehlah kamu bertanya pada sahabat saya, Aditya Patu Komara, perihal bapak tua ini.

Mungkin, sewaktu-waktu saat kamu menjumpai kakek ini, akan ada perasaan yang sulit dijelaskan, yang muncul di hati kamu. Perasaan yang muncul saat kamu habis minum kopi waralaba asing yang harganya segelasnya, sekali teguknya, bisa digunakan untuk membeli satu dagangan bapak ini, dan memberikannya semangat untuk menyambung hidup keesokan harinya.

Yang bisa membuatnya tersenyum saat nanti subuh dia pulang naik kereta.

Yang membuat kamu akhirnya membeli dagangannya.

Seperti saya.

 

Posted by: Black_Claw | August 16, 2016

Cino

Presiden berziarah ke Taman Makam Pahlawan. Seperti tahun-­tahun yang telah lalu, daerah Kalibata diperketat penjagaannya. Tidak sembarangan yang bisa masuk atau keluar.

Listrik padam untuk sesaat, sepengheningan cipta. Dua kawan saya Sony Herianto, Ciu Wan Bing. Dan juga Santoso, San­-San panggilannya. Jika kamu membelah dada mereka, di balik jantung yang senantiasa berdenyut, niscaya kamu akan menemukan tulisan NKRI Harga Mati.

Tulisan jelas di jantung mereka, yang di bawahnya ada cap Made In China.

Ah, Misoa. Mie Panjang Umur itu sudah matang rupanya. Mie yang tak memiliki potongan, yang jika dimakan tidak boleh putus.

Dan dari mulut Sony, sepenggal kalimat dari Sajak Kepada Bung Dadi terucap memecah hening.

“Ini tanah airmu. Di sini kita bukan turis.”

Posted by: Black_Claw | July 8, 2016

Doro Puma

Doro Puma yang berarti Gunung Puma dalam bahasa Dompu, adalah sebuah perbukitan terpencil yang terletak di sebelah selatan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Untuk mencapai Doro Puma, diperlukan waktu sekitar 5 jam, mendaki dengan kemiringan sampai 60 derajat, menembus hutan tropis.

Di Doro Puma, terdapat lima bukit berterasering atau berundak, yang oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai sisa-sisa sawah orang dahulu.

Meski jalur Doro Puma cukup terjal dan jauh, sekitar lima kilo meter dari desa terdekat, tradisi warga sekitar adalah melepas kerbau gembalaan mereka di Doro Puma.

Sampai sekarang, meski lereng di sekitar Doro Puma tertutup oleh pohon dan vegetasi tropis lainnya, bukit-bukit berundaknya hanya ditutupi oleh rumput. Tidak bisa ditumbuhi pepohonan.

Ini dikarenakan adanya semacam fondasi batu gunung pada teraseringnya.

Nah, kemarin saya sempat ke sana, terus bikin video.🙂

Udah, nonton aja.

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: