Posted by: Black_Claw | August 4, 2020

Cyberwarfare Indonesia Nanti Di Mana?

Pelaku kejahatan digital selalu menggunakan dua jalur. Yang pertama, komunikasi.

Whatsapp, Telegram, atau satunya lagi yang bakal punya kans gede. Signal. Pembicaraan lewat aplikasi-aplikasi seperti ini terenkripsi. Tidak bisa dibaca oleh orang lain kecuali pengirim dan penerima pesan.

Caranya mau tau isi pembicaraan mereka gimana? Handphonenya harus dipasangin alat penyadap langsung, baik berupa mesin atau program. Tapi, kalau begini, harus pegang hapenya.

Alternatif lain? Bajak akunnya. Tapi, begitu akunnya kebajak, mereka akan tau dan ganti akun. Zaman kejayaan penyadapan dengan mudah dilakukan via operator seluler sudah lewat. Sekarang, jalurnya enkripsi. Percaya deh, mau bajak akunnya juga bo cuan. Yang ada, pelaku malah tambah lari. Ini fakta lapangan yang harus kita hadapi dan telan pahitnya sama-sama.

Beberapa tahun silam, bahkan Pavel Durov, mbahnya Telegram, pas datang ke Indonesia juga ga peduli. Yang bisa dimonitor cuma isi grup chat. Itupun kalau ketauan, grup langsung kosong dan mereka pindah. Mau apa? Namanya penjahat, sense of securitynya pasti terasah level indra keenam. Makanya, Pavel malah milih kopdar dengan anak-anak Kampung Gajah waktu itu.

Itu yang pertama, jalur komunikasi.

Jalur satunya lagi, jalur kedua, masihlah ada kesempatan. Jalur kampanye. Istilahnya, campaign media. Pelaku kejahatan, pasti ngerekrut, nyari korban, atau mempublikasikan terornya lewat media.

Media apa? Ya sosial network. Dan ini, adalah medan perang yang sebenarnya. Battlefield.

Tahun-tahun sebelumnya, Indonesia sudah keok sebelum mulai. Ga ada yang nyangka, hoax, hasutan, bahkan jualan barang ilegal, bisa lewat media sosial. Lewat Facebook. Lewat Instagram.

Jangan salah, tempat di mana orang berkumpul, pasti rawan tindak kejahatan. Kalau di dunia cyber, ya di media sosial. Orang ngumpul plek tumplek blek di sana. Seperti pasar.

Dan Indonesia terlambat start. Waktu itu perang sudah mulai, preman pasarnya belum kenal. Agen yang jaga di pasar belum ada. Luluh lantak Indonesia waktu itu, sampai akhirnya bisa bikin kesepakatan premannya Facebook. Itupun dengan perjanjian yang terbatas. Padahal, posisi tawar Indonesia gede banget saat itu.

Komoditas media sosial, adalah penggunanya. Semakin gede basis penggunanya, semakin bisa dipakai untuk cari duit sama yang punya. Lewat apa? Lewat iklan.

Kalau pemirsa iklannya banyak, yang mau iklan pasti berminat. Sudah ngerti sampai sini? Iya, orang Indonesia yang maniak medsos itu, komuditas yang gede banget buat pemilik media sosial. Posisi tawar Indonesia juga harusnya tinggi.

Tapi ya itu, karena dari awal nggak persiapan, lobby-lobbyannya juga kurang, Indonesia kecolongan, terlambat start. Medan perang berikutnya, Indonesia jangan sampai ketinggalan. Di mana medan perang berikutnya?

TikTok.

Iya, ini serius. Jangan remehkan TikTok yang isinya video-video ga jelas gitu. Ingat, tempat di mana orang berkumpul, pasti rawan tindak kejahatan. TikTok bisa jadi tempat kampanye hoax dan terorisme. Bisa penipuan via direct message. Bisa jadi tempat human traficking, penjualan manusia. Macamlah.

Apa nggak kepikiran, bakal ada yang bikin konten hasutan. Semisal 5 fakta pemerintah tidak pro rakyat sambil joget-joget di sana? Bisa aja. Bisa banget, malah.

Seperti dulu, ga ada yang nyangka Facebook dan Instagram bisa jadi media penyebar hoax yang bikin negara sampai keluar duit puluhan milyar untuk menanggulanginya.

Lagipula, TikTok itu isinya data pengguna semua. TikTok bisa mengakses kamera, mikrofon, lokasi. Wah, data semua itu. Kenapa? Emang strategi pengumpulan data, kok.

Makanya banyak negara yang sampai ngeban TikTok. Ngeblacklist TikTok dari negaranya. Takut, datanya dicuri.

Kalau Indonesia? Ntar kalau TikTok ditutup kayak gitu pasti diprotes, dinyinyirin sama warganya. Ya udah, ambil jalan tengah.

Dekati TikTok. Lobby dari sekarang. Cari tau siapa yang kerja di sana, jadikan kawan. Nggak susah, kok. Profiling saja siapa yang kerja di TikTok lewat media sosial lainnya. Linkedin, misalnya.

Jadi, dari awal, Indonesia minimal kapling pos jaga dululah. Aparat-aparat juga biarkan aja main TikTok. Dukung jadi seleb TikTok kalau perlu. Buat apa? Buat counter black campaign. Mengimbangi hoax yang beredar secara langsung.

Misalnya bikin counter hoax pake lagu Summertime. Itu lho, lagu Kimi no Toriko.

Kimi no toriko ni natte shimaeba kitto
Kono natsu wa juujitsu suru no motto

Asek kan? Ya itu.

Atau bisa buat pengumpulan data intel. Sama seperti dunia nyata. Aparat yang seleb, pasti gampang nerima laporan dari warga. Dan buat aparat yang benar-benar intel. Yang berbaju sipil di dunia nyata, dari sekarang, membaurlah ke dalam TikTok. Ikuti circle di sana. Masuk ke banyak komunitasnya. Perbanyak konten sipilnya.

Biar ntar kalau diperlukan buat masuk ke lingkaran TikTok yang, yah, yang melakukan kejahatan lah, akunnya jauh lebih dipercaya ketimbang akun bodongan.

Biar kalau saatnya TikTok jadi battlefield berikutnya, Indonesia ga keteteran.

Dari sekarang, kapling tempatnya. Kalau perlu, susupi aparat buat jadi orang dalam. Jadiin teman orang-orangnya. Kuncen-kuncennya di Indonesia. Ntar, kalau ada kejadian, kan bisa minta data lokasi terakhir, atau malah remot kamera dari jarak jauh.

Pemerintah jangan takut. Komuditas media sosial itu penggunanya. Indonesia itu banyak orangnya. Posisi tawar kita tinggi.

Terus, kalau ga bisa juga, gimana? Ada alternatif lain? Ada. Tapi nanti, kita bahas di video berikutnya.

Posted by: Black_Claw | August 3, 2020

Orang Dompu Yang Dilihat Orang Non-Dompu

Barusan saya abis cukur rambut. Tukang cukurnya ramah dan ngajak ngobrol. Dia asli dari Tasikmalaya, kemudian menanyakan saya asli mana. Saya mengatakan kalau saya orang Dompu, NTB.

“Wah, ga mirip orang NTB, ya?” Pertanyaan yang tidak saya jawab.

Tapi, sebentar kemudian dia kemudian menyambung. “Saya pernah ke Dompu. Main-main di sana, ketemu cewek yang asli Dompu di social media. Dia kerja di sini, terus ngajak jalan-jalan ke rumahnya di Dompu.”

“Oh ya? Beneran?” Tanya saya kaget. Beneran nggak nyangka. Temen-temen saya saya aja banyak yang bilang mau ke Dompu, tapi nggak jadi-jadi. Saya kemudian nanya lagi. “Gimana tuh Dompu?”

“Dompu itu, gimana ya ….” Dia terdiam sesaat kemudian melanjutkan. “Keren ya. Orang-orangnya tuh hebat.”

“Hebat gimana?” Desak saya.

“Iya, hebat. Saya lihat di sana, rata-rata orangnya pasti ada gelarnya.”

“Gelar? Gelar adat maksudnya?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Gelar sarjana. Pedagang sembako atau tukang cukur rambut di sana S1.”

Posted by: Black_Claw | July 23, 2020

Teroris Cukup Modal HP Udah Bisa Pake Kecerdasan Buatan

Saya jadi keingat. Kemarin, pas webinarnya Jasakom, pak Budi Raharjo sempat ngomong. Jangan lupa belajar A.I.

Artificial Intelligence.

Eh, tunggu. Buat yang masih nanya siapa sih Budi Raharjo itu, oke. Beliau itu salah satu orang yang merintis internet di Indonesia.

Oke. Kembali tentang A.I. Artificial Intelligence. Kecerdasan buatan.

Kalau saya ngomong A.I. jangan repot membayangkan segala macam data dan kodingan. Nggak kok. Nggak seribet itu kalau cuma membayangkan kondisi lapangannya. Memang betul, ada A.I. yang dipakai untuk mengolah data, menemukan algoritma, dan segala macam kerumitan lainnya, tapi contoh sederhana penetrasi A.I. ini dekat banget kok, dengan masyarakat.

Sadar atau tidak, kita sering banget menemukan A.I. ini di HP. Beauty cam dan sejenisnya, menggunakan kecerdasan buatan untuk menentukan bagian tubuh manusia dari sebuah citra. Dari sebuah gambar. Buat apa? Buat diputihin. Hidungnya dibagusin. Matanya dibikin lebih berbinar-binar. Macamlah, buat kecantikan.

Seiring dengan perkembangan teknologi, A.I. ini sekarang ga perlu komputer kita yang canggih-canggih amat. Cukup HP saja. Pemrosesan datanya? Di cloud. Jadi, data dari HP, dikirimkan ke cloud server untuk diproses. Hasilnya nanti dikirimkan lagi ke HP kita. Resourcenya kecil, semua bisa pake.

Saya jadi kepikiran. Kepikiran apa? Kepikiran dengan tindak terorisme cyber dengan A.I. Dengan A.I. kita bisa dengan gampang menempelkan muka seseorang ke video. Istilahnya face swap. Dan itu sudah populer sejak tahun 2019 kemarin. Saya bisa dengan gampang memotret diri saya yang baru bangun tidur, kemudian menempelkannya ke tubuhnya bintang laga UFC, Conor McGregor.

Perhatikan. Hanya modal foto doang, A.I. memetakan fitur muka saya, kemudian dianimasikan persis seperti mimik-mimiknya sang bintang UFC.

Dan saya bisa dengan gampang menempelkan muka bangun tidur saya ke idol Korea random, atau Selena Gomez, Shakira, Taylor Swift, siapapun. Gimana? Sampai sini sudah nyambung kan, bahayanya apa? Iya, ini bisa dipakai untuk menyebar hoax. Dan itu sudah masuk kategori terorisme cyber.

Kalau dulu, untuk membuat hoax yang kelihatan valid bakal repot. Sekarang? Modal HP saja sudah cukup. Gimana caranya? Lewat apps tersebut, si teroris tinggal bayar. Maka, dia bisa menggunakan fitur “use your own video.” Pake video sendiri.

Katakanlah saya ingin bikin kericuhan di masyarakat saat Covid-19. Tinggal rekam video saya pake pakaian resmi, bilang Covid-19 tidak berbahaya, dan tempelin mukanya pejabat kesehatan di video tersebut.

Sesederhana itu. Saya bahkan ga perlu ketemu pejabatnya. Cukup fotonya saja saya jepret pake HP.

Setelah itu, video editan tersebut bakal saya sebar di grup whatsapp. Udah, masyarakat bakal kacau. Iya, bakal ketauan, tapi ga masalah. Yang penting udah sempat kacau. Tujuan terorisme kan itu. Membuat kacau. Apalagi, bakal banyak yang bersikukuh kalau video editan itu asli. Ooh, tambah senang saya. Udah kerjaan gampang, efeknya lebih berasa ketimbang bikin meme. Itu baru satu efek. Belum kalau bikin video skandal esek-esek. Pasti lebih kacau lagi.

Ini salah satu cara paling gampang menggunakan A.I. untuk kejahatan cyber. Ga ribet, aplikasinya tersedia untuk umum. Belum lagi kondisi masyarakat Indonesia mayoritas gampang dihasut pake teks, apalagi kalau sampai bisa bikin video palsu.

Nah, masalahnya sekarang. Apa Indonesia sudah siap menangkal terorisme gaya baru seperti ini?

Posted by: Black_Claw | July 22, 2020

Abu Ikhwan Aziz Dan Kelepon Serta Kurmanya

Tentang kue Klepon yang tidak Islami dan mending beli kurma saja, itu namanya false flag. Yup, kalian yang termakan dan menyebarkannya, bahkan kalau sampai marah, adalah korban.

Tehnik ini, adalah degan sengaja berpura-pura menjadi pihak lain, menyebarkan kebohongan tentang pihak lain, bahwa seakan-akan pihak lain itu yang membuatnya, padahal dia yang bikin, kemudian mengambil untung dari menyebar luasnya berita itu.

Gobloknya gini. Saya dengan sengaja nyamar jadi ormas A, berkelakuan jelek, supaya nama ormas ini hancur.

Kalau kasusnya kali ini, nah …. Ada pihak yang membuat posting seolah ada pihak dari kalangan Islam bernama “Abu Ikhwan Aziz” yang mempermasalahkan kurma, padahal si Abu Ikhwan Aziz ini orang yang nggak ada.

Begitu sebuah issue dengan tehnik false flag ini naik daun, maka nama Abu Ikhwan Aziz ini naik daun juga. Akun-akun nama serupa juga muncul, dan karena nama ini terekspos, maka nilai jual akun tersebut naik. Kenapa? Ya karena banyak dicari orang.

Kalau akun udah terkenal buat apa? Ya paling gampang buat dagang. Nanti tinggal diubah namanya, dan follower-follower akun yang Abu Ikhwan Aziz ini tetap jadi followernya, ga sadar namanya diganti.

Boleh cek, pasti banyak akun baru dibikin hari ini yang namanya Abu Ikhwan Aziz. Nama situs juga mungkin ada dibooking, saya ga tau. Tapi biasanya sih gitu.

Viral sesaat itu berharga, lho. Lumayan banget, bisa dipake buat brand awareness. Buat ngiklanin produk. Positif negatifnya nggak ngaruh. Yang penting, naik daun dulu.

Terus siapa komoditasnya dalam hal ini? Ya kalian, yang terpancing, marah-marah, dan ikut ngeviralin tentang kelepon. Ya, termasuk saya, yang nulis ini juga, hehehe ….

Eniwei, strategi seperti ini normal dilakukan dalam bentuk non-marketing stuffs. Dulu, misalnya. Tahun 2013an. Fansnya jkt48 pura-pura jadi fansnya Cowboy Junior, bikin ulah, biar orang mikir fansnya Cowboy Junior itu jelek.

Percayalah, sebego-begonya orang Islam, Kadrun sekalipun, nggak bakal menggunakan kelepon sebagai kampanye bahwa Klepon itu tidak Islami. Itu jelas bunuh diri. Kenapa? Karena selain Klepon susah sekali dikatakan tidak islami, warna hijau itu justru warnanya orang Islam.

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: