Posted by: Black_Claw | September 7, 2022

FMCOPD – Faktor Muka Coba Operasi Plastik Dulu

Jadi di rest area saya kan nongkrong sama driver-driver travel agent gitu. Bertanyalah salah seorang dari mereka ke saya, asal saya dari mana.

“NTB, pak.” Jawab saya.

“Tapi kok ga keliatan ya, dari mukanya, dari bicaranya. Aslinya emang mana?” Salah satu driver menegaskan pertanyaan.

Saya sudah sering ditanya kayak gini, biasanya pembicaraan semakin panjang. Gimana biar gampang, ya? Oh iya, saya coba ah!

“Saya orang Arab pak.” Jawab saya lagi, kali ini biar serius, saya tatap mata bapaknya dalam-dalam.

“Ooooh, ya… Ya…” Si bapak tersenyum puas. Saya juga ikutan senyum puas. Ini rupanya jawaban yang bisa saya pake.

“Tapi kok mukanya nggak kelihatan Islami ya?” Tanya si bapak lagi.

Posted by: Black_Claw | May 30, 2022

Kejadian-kejadian Aneh Di Rumah Saya

Selama satu setengah tahun saya tinggal, banyak keanehan yang terjadi di rumah ini, rumah yang seken tapi baru. Nggak usahlah KKN ke desa antah berantah itu, mending KKN aja di rumah saya.

Sebenarnya, ide membeli rumah ini terinspirasi dari adik saya. Sakin luntang-lantungnya kami di ibukota tanpa warisan, kami pengen punya rumah terus tinggal bareng. Usul adik saya, beli aja rumah angker. Kan harganya murah. Kalau ada setannya, tinggal bilang “Kalau ga suka, situ aja yang pindah. Kami nggak bakal pindah karena kemiskinan jauh lebih mengerikan.”

Setelah ngumpulin duit, saya beranikan ngambil rumah baru di Maja. Tapi ya, cewe kan gitu. Semakin sayang kamu, semakin gampang dia pergi. Adik saya yang pertama menikah dan pindah ke Kalimantan ngikut suaminya, yang saya restui karena punya rumah dan mobil. Adik saya yang kedua juga nikah, jadi rumah yang di Maja saya ikhlaskan buat dia aja.

Setelah nyari-nyari rumah yang bisa kebeli, nemulah rumah ini. Saya pikir cukup untung. Rumahnya rumah kosong tua yang direnov, dibangun sampe full. Kalau beli baru, dengan harga yang sama cuma dapat yang luasnya setengah dari rumah ini. Karena beli cash, dapat diskon, lagi.

Ajib.

Perkara setan dan semacamnya, orang-orang di kampung saya nggak gitu ngurusin. Dalam pandangan umum di Dompu, mahluk halus itu bukan entitas yang negatif atau positif, tetapi netral. Hantu, jin, penunggu, dan semacamnya itu masyarakat juga, tergantung kitanya bisa berkawan atau nggak.

Jadi, bagi orang Dompu, semua tempat pasti ada mahluk halusnya. Kalau Tionghoa mirip sama konsep Tu Di Gong atau Tua Pek Kong, Kejawen bilangnya Sing Mbaurekso, Tionghoa Jawa malah memanggilnya sebagai Encek untuk menggambarkan kedekatannya dalam kehidupan sehari-hari. Nah, orang Dompu mengenal entitas semacam ini sebagai Parafu.

Lha, kok disama-samain? Gini baraya, cocokologi itu untuk mencari kesamaan untuk meniadakan jurang perbedaan. Bukan untuk mencari kitab mana yang paling benar.

Orang-orang yang menikah dengan orang Dompu sering kali kurang tepat memahami konsep Parafu ini, dianggap sebagai roh atau arwah nenek moyang. Arwah atau nyawa itu sebutannya Nawa atau Mari Morina. Orang Dompu itu percaya, nenek moyangnya memang mahluk gaib. Jadi, dari awal, emang formnya udah kayak gitu.

Di kepercayaan asli orang Dompu, kalau mati, jiwa kamu, nawa kamu, akan menyatu lagi dengan alam. Menjadi bagian dari Parafu ini. Menyatu dengan nenek moyang. Karena kamunya sudah menjadi collective knowledge, kamu kadang bisa muncul, memberi petuah ke orang-orang.

Sama kayak Aerith di Final Fantasy. Setelah mati, dia menyatu dengan lifestream. Kadang ntar muncul di hadapan Cloud Strife. “Kichatta, ne. Jibun ga kowaresou na no ni… Ne?”

Jadi, kalau orang Dompu itu meninggal, kira-kira ini yang terjadi.

“Standing by… tit, tit, tit.”
“Henshin!”
“Change papaparafuuu! Jegreeeng! Complete!”

Mahluk-mahluk gaib yang lain, dulu, sebenarnya juga tercipta dari the great spirit ini. Secara nenek moyangnya orang Dompu juga gaib, maka sebenarnya semuanya satu nenek moyang. Jadi masih basodara gitulah. Karena masih saudara, semua mahluk gaib itu pasti urusannya bisalah secara kekeluargaan.

Makanya, mayoritas orang Dompu itu bisa dipastikan semi-shaman. Kalau bisa bela diri ya magic knight.

Setidaknya sampai generasi 90an, ya. Generasi setelah itu mungkin nggak karena mahluk halus asli Indonesia dijadiin konten sampe nggak ada marwah di Tiktok.

Jadi, ya, rumah itu saya ambil. Pindahlah saya ke rumah itu. Benar kata yang jual. Dari rumah itu masih rumah tua, direnov, sampe dibeli saya, belum ada yang nempatin. Klosetnya aja masih bungkus plastik. Begitu saya masuk, saya disambut dengan bangkai kecoa, dan seekor laba-laba segede piring makan yang nangkring di dapur.

“Misi mbah, saya yang mau tinggal di sini. Udah balik nama.” Saya permisi sambil memungut bangkai kecoa terdekat, dan ngasiin laba-laba segede piring itu. Laba-laba itu nyaplok bangke kecoa, terus pergi.

Keanehan pertama yang saya rasakan setelah menempati rumah ini, adalah air yang selalu keluar dari pipa saluran pembuangan kamar mandi di depan. Mau ada yang mandi, nggak mandi, selalu ada air yang mengucur ke got dari pipa itu. Debitnya konstan, nggak gede.

Kalau mandi kelamaan, kamar mandinya jadi sering kegenang. Saya rasa ada yang tersumbat di saluran itu.

Akhirnya, pipa itu saya sogrok dengan besi bangunan bareng tetangga. Besi panjang itu masuk sampe abis ke dalam. Setelah masuk semua, besinya langsung nyangkut, nggak bisa ditarik lagi. Saya cek ke kamar mandi, ujung besinya nggak nongol.

Kata tetangga saya, sesaat sebelum nyangkut, kayak ada yang narik besinya. Saya heran.

“Mas, dari sini ke kamar mandi di tengah itu berapa meter?” Tanya saya ke tetangga yang memang orang bangunan.

“Enam meteran.”

“Lha, ini besi 12 meter. 6 meternya pergi ke mana?”

“Mungkin ke dimensi lain.” Jawab tetangga saya.

Akhirnya kami tinggalkanlah besi itu di sana. Sebelum bubar tetangga saya bilang, mungkin itu nyangkut karena penunggu rumah marah silit e disogrok.

Magrib, saya ke depan lagi. Sudah makan, sudah istirahat, sudah berenergi. Saya pegang ujung besi itu sambil ngomong, “mohon maaf mbah, soalnya kalau mandi, rumah bisa kebanjiran.”

Langsung saya tarik besi itu. Ajib, enteng bener nariknya. Padahal pas siangnya, sampe 5 orang yang narik, besi itu tetap nyangkut. Setelah ketarik sampe full, di ujungnya ada kresek putih tua compang-camping. Aliran air langsung lancar jaya. Saya kasih tau perihal kresek itu ke tetangga saya.

Mungkin, saat ngecor dulu, kreseknya dipake buat nyumbat pipa biar ga kemasukan adukan semen, terus ketinggalan.

“Tapi aneh ya? Masak kresek doang, 5 orang yang narik, besinya tetep nyangkut? Mungkin kreseknya buat jimat penglaris kali. ” Komentar tetangga saya.

Dari tetangga saya juga akhirnya saya tau kalau rumah itu setelah direnov 4 tahun nggak laku-laku. Sampai, akhirnya, yang jual datangin dukun.

“Iya, itu saya liat sendiri, malam-malam datang, terus ada yang komat-kamit gitu di depan. Akhirnya mungkin bau rumah itu tercium, sampai ke Jakarta.” Katanya, dan saya langsung ngakak.

Setelah itu, keanehan berikutnya terjadi. Saat hujan malam-malam disertai petir, kan saya lagi tidur. Kasur saya nggak pake ranjang. Langsung di atas lantai. Mendadak kasur saya basah semua. Saya langsung kebangun.

Pas itu, saya kan lagi mimpi dapet uang 10 milyar gitu, jadi saya pikir mungkin saya orgasme sampe mimpi basah. Tapi kok basahnya nggak kental? Apa saya ngompol, tapi kok airnya dingin? Apa mungkin iler, tapi kok ga bau?

Saya cek, ternyata seluruh lantai seluruh rumah basah. Semua kran mati. Saluran pembuangan belakang nggak luber. Ternyata airnya dari dinding ruang tamu. Bukan sekedar rembes. Airnya ngalir gitu dari setengah dinding. Dinding ruang tamu jadi ada air terjun mini kayak yang di cafe-cafe gitu.

Saya coba sapu keluar airnya ga kering-kering. Saya coba tampung pake ember ga bisa karena ngalirnya di dinding, mau saya cek juga ga bisa. Karena hujan angin petir, akhirnya saya putuskan untuk bermalam di atas kitchen set.

Saya memandang lantai rumah. Satu rumah sekarang sudah penuh air, airnya ngalir keluar, ke garasi. Langsung terbayang di benak saya wajah maestreo Gesang menyanyikan lagu legendarisnya, Bengawan Solo.

“Air mengaaaliiir sampai jaaaa… Uuuuh. Akhirnya keee lauuut…”

Besoknya saya cek, ternyata dinding saya yang satu dinding dengan rumah sebelah yang kosong itu retak-retak. Karena rumah kosong di sebelah itu atapnya bocor, plafonnya jadi kolam. Akhirnya air satu rumah itu tembus ke dinding kamar tamu. Ya sudah, mau ga mau itu rumah kosong kudu diberesin.

Beberapa bulan berselang, di malam yang kondisinya mirip, ada yang lebih horor. Waktu itu saya belum tidur. Saya memandang dinding kamar saya, kemudian mendadak mati lampu. Hanya sebentar, sekitar semenit, kemudian nyala lagi. Tapi, begitu nyala, di dinding saya bagian yang deket plafon mengalir cairan berwarna hitam pekat.

Kayak darah setan di cerita-cerita horror gitu. Ini pasti atap bocor. Tapi secara udah kadung ga bisa apa-apa, ya udah, saya matiin lampu, terus mencoba tidur. Dinding kamar saya basah oleh air hujan campur kotoran plafon, bantal saya basah oleh air mata ini…

Paginya saya cek, ke atap, ternyata atap bagian belakang itu gentengnya genteng bekas semua. Saat renov, sepertinya bagian depannya pake genteng baru, yang belakang nggak. Jadi, kalau dilihat dari depan, yang belakang nggak keliatan.

Ya sudah, saya beli karpet talang, buat nutupin atap belakang. Karpet talang warnanya merah, kan ya. Jadilah sekarang kalau dilihat dari satelit, di atap rumah saya kayak lagi ada hajatan premier red carpet gitu. Nanti kapan-kapan bolehlah saya undang para pemeran Avengers ke atap rumah saya.

Nah, ada satu misteri yang belum terpecahkan di rumah saya, sampai sekarang. Di bagian belakang, dekat mesin pompa air, kan ada cor-coran gitu. Setengah meter kali 2 meter. Nah, cor-coran ini selalu ada genangan air.

Genangan air ini selalu ada. Dipel terus ditinggal semalaman, besoknya pasti udah ada lagi. Saking misteriusnya, tetangga saya bilang di situ ada putri mandi.

Putri goib.

Pompa nggak bocor. Talang ga bocor. Bukan pula rembesan dari rumah tetangga karena temboknya selalu kering. Jadi, hari ini, setelah sekian lama, saya putuskan untuk membongkar pompa karena saya lihat ada pipa yang jalurnya mengarah ke cor-coran itu. Kayaknya sumur panteknya dibawah cor-coran itu, ditutup semua.

Pompa saya lepas, pipanya menganga. Itu pipa dari sumur ke pompa, air merembes keluar dari pipa itu, dan saya biarkan aja. Ditunggu aja ampe kering. Sementara itu, saya ngelap pompa di ruang tamu.

Setelah 15 menitan, lantai ruang tamu malah jadi basah. Saya heran, maka saya segera ke belakang. Ternyata rembesan air dari pipa sumur itu keluar terus, nggak berhenti-berhenti. Ternyata sumur bor saya bukan sekedar sumur, tapi mata air. Air yang menggenang itu dari pinggiran pipa yang masuk ke cor-coran, nongol deket pompa.

Oh… Sekarang sumber air su deka.

Posted by: Black_Claw | May 5, 2022

Cuankanlah Inflasi Kita

Baiklah, saya akan ajarkan ke kamu bagaimana menangguk keuntungan berlipat ganda dari inflasi yang pasti terjadi dikarenakan bulan puasa. Taun depan bisa kamu praktekkan. Pertanggung jawaban di hadapan Tuhan urusan kamu.

Toh di bulan itu umumnya bangsa ini riya berjamaah yang menyebabkan inflasi. Karena riya itu haram tapi you nggak bisa apa-apa, biarlah dia menjadi harraman toyyiban. Haram yang baik. Mantap, kan, pembelaan diri ini? Fasik united.

2 minggu sebelum puasa, pinjamlah seratus ribu ke seratus orang. Katakan bahwa kamu akan balikin 2 minggu setelah puasa. Jadi, kamu meminjam selama 2 bulan. Karena jumlahnya seratus ribu dan sebelum puasa, bisa dipastikan peminjam akan nyante-nyante aja meminjamkan tanpa bunga, dan seratus ribu ini adalah nilai yang tidak besar untuk dipinjamkan, jadi kemungkinan besar akan tembus. Kamu sekarang punya 10 juta.

10 juta ini, kamu tukarkan jadi pecahan 5 ribu, 10 ribu dan 20 ribu. Belilah amplop lebaran 10 pak isi 100 dengan uang kamu sendiri. Harganya 15.000. Total 150.000. Berarti, 10 lembar amplop itu harganya 1500.

Bagilah uang yang udah kecil itu menjadi paket-paket. Satu paketnya berisi 10 amplop, yang isinya masing-masing dua lembar 20 ribu, empat lembar 10 ribu, dan empat lembar 5 ribu. Satu paket berisi 100 ribu rupiah, dan per paket total modalnya 101.500 dengan amplop.

Seminggu sebelum lebaran, kamu tinggal posting ke grup RT bahwa kamu membuka penukaran uang untuk amplop lebaran. Satu paket isi 10, dengan nominal uang di dalamnya sebesar 100.000, harganya 110.000, sudah ada amplopnya lho, sudah ditukarin jadi kecil-kecil lho, tinggal bagi aja. Nilai jual yang spesialnya di sini. Per amplop 8.500 adalah harga jasa menyiapkan ini semua yang kamu jual.

Harga yang bisa kamu mainkan selain 110, adalah 107 dan 105. Kenapa? Karena ada lembaran uang yang senilai ini, jadi membuat orang gampang bertransaksi.

Laku? Opasti. Kamu dagang di negara hedon yang bangga jadi kaum rebahan.

Kalau ada yang tidak laku? Nah, di sinilah enaknya inflasi. Karena inflasi, kamu tetap untung saat mengembalikan duit setelah bulan puasa.

Contohnya gini. Anggaplah harga susu di Indomaret saat kamu minjem duit itu 100.000 sekotak. Setelah puasa, harga susu jadi 102.000. Inilah inflasi. Nilai mata uang turun, harga naik, tapi kamu tetep cuma ngembaliin 100.000 ke peminjam. Itu artinya setiap kamu ngembaliin cepek ceng ke orang, kamu udah untung noceng. 10 tiaw dibagi 100.000 = 100, dan 100 dikali 2.000 itu udah 200.000. Lu punya cuan dari inflasi aja uda lebih dari harga modal amplop lho. Eh, logatku kok berubah, fak.

Jadi, laku nggak laku, kamu tetap untung. Dan nggak mungkin pake banget kalau kamu nggak laku. Kalau laku semua, keuntungan kamu 8.500 x 100 paket. 850.000. Pait-pait perpaket 3500, untung 350.000. Ada yang ga lakupun kamu tetap untung dari inflasi.

Ini bisnis yang oke banget. Modalnya dari orang lain, barang yang didagangkan adalah barang modal itu sendiri, dan permintaan pasar tinggi.

Yang nggak lakupun amplopnya bisa kamu simpan untuk taun depan, atau kamu pake sendiri untuk menjaga marwah kamu. Kalau saya sih, saya isiin per amplop 2.000. Umumnya, anak-anak ini ga buka amplop on the spot, dan karena dagangannya di lingkungan sendiri, amplopnya tetangga-tetangga lain sama. Saat nanti mereka membukanya, siapa yang cuma ngasih dua ribu akan tetap jadi mistery.

The mistery of Chitato.

China tanpa toko.

Posted by: Black_Claw | May 5, 2022

Selamat Hari Raya Inflasi

Ah, karena bulan yang digadang-gadang penuh berkah ini telah berakhir, saatnya saya menulis ini.

Kamu udah nerima THR, spending yang banyak selama puasa dan lebaran untuk buka bersama dan menjamu tamu terus bagi-bagi amplop kan? Spending yang luar biasa selama satu bulan, tapi tidak ada satupun yang benar-benar diuntungkan. Kamu dapat THR, terus kamu bagi-bagi ke orang lain atau kamu bikinin parcel lebaran terus dikasiin. Kamu juga dapat hal yang sama dari orang lain. Yang akhirnya menumpuk jadi sisa-sisa lebaran.

Banyak takjil yang pas makannya pake alasan ‘sayang kalau tidak dihabiskan’. Banyak makanan yang dimakan saat berlebaran ke rumah orang padahal aslinya sih ga lapar. Berapa kubik bensin yang dibakar untuk keliling minta maaf ke orang yang ga bermasalah sama kamu, tapi yang beneran bermasalah malah nggak kamu datangi buat maaf-maafan.

Ini semua berarti kamu tidak benar-benar butuh hal-hal terkait biaya yang kamu belanjakan itu.

Misal, kamu dikasih THR sama perusahaan. THRnya kamu bagiin ke orang. Kamu dapat THR juga dari orang lain padahal kamu ga kerja sama dia. Akhirnya duit kamu balik lagi senilai duit THR yang kamu habiskan buat bagi THR di awal. Bolak-balik gitu aja duitnya, ga jadi sesuatu.

Kamu menukarkan uang, menyebabkan perputaran uang yang tingginya gila-gilaan di satu negara, dan keuntungan dari transaksimu tidak ada. Akhirnya inflasi mata uang. Nilai mata uang negara turun.

Di saat yang sama, warga negaranya mengeluh karena harga-harga jadi naik, karena perbuatan mereka sendiri yang menyebabkan inflasi. Semua, kecuali mereka yang udah numpuk mata uang asing sebelum puasa.

Sebut saja itu kejadian di negara B.

Bekas Hindia Belanda.

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: