Posted by: Black_Claw | November 25, 2020

Mo Bagemana Lai

Saya baru sadar kalau pajak mobil uda harus dibayar. Jadi, pagi ini saya langsung berangkat ke kantor samsat. Di jalan, saya disetop Polantas.

Hah? Kenapa? Perasaan mobil lengkap semua. Perasaan nggak ngelanggar apa-apa. Apa karena saya nyetir sambil bawa kopi dari rumah? Atau karena saya nyetir sambil mutar lagu Kaka Main Salah?

Nona pung belis mahal, kaka main salah. Kaka main kaka main kaka main salah~Saya menurunkan jendela mobil.

“Siang mas. Boleh lihat surat-suratnya?” Sapa pak Polisi. Saya langsung memberikan. Setelah mengecek, langsung dikembalikan.

“Tau kesalahannya apa?” Tanya pak Polisi lagi.

“Nggak tau, ndan.” Jawab saya.

“Coba lihat atap mobilnya.” Kata pak Polisi sambil menunjuk atap.

Omakjaaaang! Di atap mobil saya ada pahat, sendok semen, ember kecil, sama talenan aci. Malunyaaa! Saya buru-buru turun dan masukin semua alat itu ke dalam mobil.

“Maaf ndan, kayaknya saya lupa masukin ke rumah abis dicuci di depan setelah ngaci dinding kemarin. Ga keliatan tadi pas berangkat, buru-buru mau perpanjang pajak mobil!” Jelas saya sambil garuk-garuk kepala.

“Ya, nggak papa.” Kata pak Polisi sambil senyum, kemudian bertanya. “Alat lengkap nggak ada yang jatuh?”

“Nggak ada, ndan. Terima kasih.” Kata saya sambil masuk ke dalam mobil.

“Hebat ya. Stabil juga nyetirnya, padahal mobilnya kecil. Dari atas sana ke bawah sini juga jalannya kelok-kelok semua. Mas asli orang mana?”

“NTB ndan.”

“Oh, orang seberang. Pantas putar lagu ini.” Kata pak Polisi sambil nepuk-nepuk atap mobil, terus nyanyi. “Mo bikin apa lai, mo bagemana lai ….”

“Nona pu belis mahal kaka stenga mati eee.” Jawab saya.

Posted by: Black_Claw | November 2, 2020

Bagaimana Agar Tidak Terlihat Kaya

Tadi, saat makan di pojokan warung, seorang nenek menghampiri saya, menawarkan saya untuk membeli jam tangan miliknya. Dia butuh uang, katanya. Saya tidak membawa uang senilai jam tangan itu, jadi setelah membayar makanan, saya ke ATM. Karena lokasi ATM cukup jauh, saya mengatakan pada si nenek untuk menunggu sembari memberikan semua kembalian pembayaran makan ke si nenek.”Buat uang muka.” Kata saya.Setelah mengambil uang di mesin ATM, datang lagi seorang ibu tua ke saya. Dia menunjukkan struk sisa saldo, dan mengatakan ingin melakukan penarikan, tapi tidak bisa dilakukan karena jumlahnya mepet dengan batas saldo minimum. Jadi, saya transferkan ke rekeningnya jumlah yang sesuai dengan saldo minimum, dan menemaninya melakukan penarikan.Saya kembali ke warung makan, memesan kopi, kemudian memberikan uang senilai jam tangan ke si nenek. Dia terlihat berterima kasih sekali, jadi jam tangannya tidak saya ambil. Saya kemudian duduk di pojok, ngopi. Si nenek kemudian menghampiri saya dan berpamitan. Setelah mendoakan God bless you, banyak rejeki, cepat jodoh, dan lainnya, si nenek pergi.Sambil ngopi, saya mendadak kepikiran. Gaya berpakaian saya kaos oblong, celana training, dan sendal karet. Tadi, di warung makan, banyak yang berpenampilan lebih berduit dari saya. Kenapa si Nenek memilih saya, yang bahkan duduk di pojokan? Di ATM center juga begitu. Banyak orang yang saya rasa lebih mampu dari saya, tapi kenapa si ibu tua malah mendatangi saya untuk minta bantuan?Kemudian saya mengingat-ingat lagi. Kejadian seperti itu sering sekali. Mereka datang, dan dari sekian orang yang secara logis harusnya lebih mampu dari saya di lokasi, pilihan mereka malah jatuh ke saya.Apakah saya terlihat kaya? Saya tidak nyaman dengan itu.Begini. Di ilmu ekonomi, ada yang namanya opportunity cost. Biaya kesempatan. Saya khawatir, karena memilih saya, mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bantuan yang nilainya lebih banyak jika pilihan mereka jatuh ke orang lain. Banyak sekali yang saya lihat ekonominya lebih tinggi dari saya.Saya juga bukanlah orang yang jorjoran dalam hal duit. Saya malah cenderung pelit. Apapapun yang saya keluarkan, akan saya cari manfaatnya yang didapatkan. Buat makan aja saya masih mikir harus ada cuan. Melihat cara hidup hemat saya, Melinda di kantor, mengatakan saya mirip tuan Crab di kartun Spongesbob.Dia salah. Panutan saya itu Scrooge McDuck.Itulah mengapa bantuan dari saya nilainya mepet. Seandainya mereka meminta bantuan ke yang lebih mampu, tidak memilih saya, mungkin bantuannya akan banyak lebihnya. Jika seandainya saja si nenek menawarkan jam tangannya ke pemuda stylish yang parkir mobil di depan warung misalnya, mungkin dia akan diberi lebih banyak. Atau jika si ibu tua meminta bantuan ke wanita karir yang di ATM sebelah saya misalnya, mungkin dia akan diberi cash dan duit di rekeningnya tetap utuh.Saya kemudian bertanya ke sahabat saya, berteman sudah lama. Dia tau saya, fisik saya, gerak-gerik, gaya bicara, dan penampilan saya. Dia pedagang, tionghoa, tidak beragama Islam, dan itu bagus. Saya tidak nyaman dengan jawaban macam keridhaan Tuhan, pahala, dan semacamnya. Saya nggak sreg dengan sistem pahala, dan jawaban Islami macam itu nggak bakal keluar dari dia. Mau pahalanya hangus kek, hilang kek, bodo amat.Jadi, saya ceritakan semua kejadiannya, mengiriminya foto penampilan saya, kemudian nanya ke dia. “Apa saya terlihat kaya?”Dia mengiyakan.Jadi, saya tanya lagi. Bagaimana caranya supaya saya tidak terlihat demikian?Teman saya menjawab seperti ini. Sungguh, dia keren sekali.

Posted by: Black_Claw | October 13, 2020

Demo Di Dompu

“Di Dompu ini tiap hari demo. Banyak demo.” Kata Edi saat saya video call, dengan seragam oranyenya. Dia memang bekerja di kantor pos, dekat dengan gedung wakil rakyat.”Ada yang demo bupati, ada yang demo omnibus law. Nah, kalau demo, ditanyain dulu sama keamanan.””Ditanyain apa?” Tanya saya tentang yang ditanyain. Tanyaception.”Ditanya, kamu demo bupati atau omnibus law? Kalau demo omnibus law, kerumunan sebelah kiri. Gitu.” Jelas Edi.”Terus,” ujarnya lagi, “kadang-kadang ada peserta demo yang nanya juga ke keamanan. Bagusnya saya demo apa ya hari ini?”

Posted by: Black_Claw | October 9, 2020

Demo Omnibus Law 8 Oktober 2020

Kira-kira biaya kerusakan saat demo yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab? Harga pengadaan ulangnya dikorupsi berapa banyak?

Kalau ujung-unjungnya dikorupsi, bakal banyak nanti calon undang-undang yang bikin demo besar-besar.

Auto tajir. 😊

Total kerusakannya 25 milyar. Itu 11 halte yang dirusak pendemo. Valid, gubernur sendiri yang bilang. Tambah sekitar semilyar 2 milyar lagi lah untuk kendaraan yang dibakar.

Untuk pengerahan penjagaan dan keamanan, biayanya sekitar 1-3 milyar / hari.

Mungkin total kerugian hari ini sekitar 27 milyar. πŸ™‚

Efek bowlingnya akan terasa besok, karena fasilitas umum yang rusak berupa halte, maka produktivitas akan turun. Sampai itu diperbaiki dan pulih, kerugian kolektif masyarakat yang biasa menggunakan fasilitas itu mungkin kalau ditotal semua yah, tambah beberapa puluh milyar lagi.

Tenang saja. Semua yang bayar rakyat. Kamu, saya, kita semua. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Selamat bekerja rodi, ya. πŸ˜ŠπŸ‘

Older Posts »

Categories

%d bloggers like this: